SELAMAT DATANG DI WEBLOG NEGERI KEGILAAN (Menebar Cinta Menerangi Semesta)

Jumat, 06 November 2009

ILCI AR-RASYID SYUKURAN DAN ORASI BUDAYA



SEMARANG; Sekretariat di Jln. Sri Rejeli Utara 7 No. 4 begitu rame dan santai, ternyata dibalik itu semua ada agenda yang sangat membuat seseorang tidak akan melupakan suasana tersebut. Bahkan akan membuat mereka serperti berlari-lari bersama angin dan terbang melayang bagaikan malaikat kecil dengan kibasan sayapnya.
Sekitar hampir 30 orang lebih menghadiri acara syukuran dan orasi budaya ILCI Ar-Rasyid. Acara ini terselengara berkat kerjasama dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Semarang, Institut Pemikiran pimpinan Lukman Wibowo dan Lingkar Studi Alternatif (LaStA) Semarang. Acara ini hanya sekelumit cerita dai kegiatan Kibar Budaya untuk Negeri di Simpang Lima Semarang.
Perwakilan dari Institut Pemikiran saudara Lukman Wibowo mengatakan; bahwa setiap manusia membutuhkan tempat, salah satu tempat yang memedahi aspresiasi yaitu sebuah sanggar yang dapat membangun kemandirian dan kreatifitas.
Acara berlanjut dengan orasi budaya tentang keberagaman potensi manusia dan nasionalisme terhadap budaya indonesia. Pada titik akhir dari orasi budaya tersebut, santap syukuranpun dimulai. Tampak rame dan bersaja para pejuang melahap habis makanan dan minuman yang telah disediakan oleh panitia.
Di sela-sela makan bersama pimpinan ILCI Ar-Rasyid, Lukni Maulana; berpesan kepada khalayak pejuang umat untuk dapat ikut berpartisipasi menerbitakan buletin dengan mengirimkan hasil karyanya berupa puisi, cerpen, budaya, esai, opini (pokoknya yang berhubungan dengan seni dan budaya). Hasil karya tersebut dapat dikirim lewat email; valex_arrasyid@yahoo.co.id atau luknima@gmail.com.

ILCI Ar-Rasyid ( Tampil dalam Pentas Budaya Nasional di Semarang


SEMARANG—Sekitar 40 kader HMI Cabang Semarang berpartisipasi dalam acara “Kibar Budaya Untuk Negeri” pada hari Minggu 1 November 2009, di Lapangan Pancasila (Bundaran Simpang Lima). Acara pentas seni dan budaya ini diselenggarakan dalam rangka memeriahkan ulang tahun Radio Gajahmada FM.

Sebanyak 21 kader HMI tampil sebagai penari latar dan pasukan bendera. Sisanya bekerja sebagai kru. Kader-kader tersebut tampil dengan mengatasnamakan berbagai komunitas seni budaya. Sebut saja komunitas itu bernama: ILCI Ar-Rasyid (pimpinan Lukni “Jay” Maulana), Komunitas Widya Buana (asuhan Mbah Darmo), dan Kenduri Hani (garapan Kang Lukman). Kader-kader yang “eksis” tersebut berasal dari Komkom IKIP PGRI, Widya Buana, IAIN Walisongo, dan Unnes.

Acara yang berlangsung pagi hingga petang itu, diisi oleh sejumlah kegiatan seperti Jalan Sehat, Pentas Musik, Tari, Barongsai, dan sebagainya. Kegiatan berlangsung cukup meriah, dan dihadiri oleh sekitar 4000 penonton.

Menurut Asst. II Sutradara, Lukman Wibowo, tampilnya anak-anak HMI di publik budaya bisa dibilang yang pertama kali dalam beberapa tahun terakhir ini. Tampilnya pun hanya sebagai partisipan, tapi yang penting HMI bisa lebih eksis di masyarakat luas. Bukan sekedar “jago kandang” atau “seperti katak dalam tempurung”. Dan yang terpenting, kader-kader muda HMI memiliki kesempatan menimba ilmu maupun memperluas jaringan dari situ, demikian tambah Lukman.

Pagelaran budaya ini didukung oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Dewan Kesenian Semarang, dan sejumlah paguyuban seni; Disutradarai oleh seniman Yogyakarta, Kenyut Qubro dan dibantu oleh Darmo Budi Suseno beserta kru dari Yogya dan Semarang. (Hanafi/LAPMI).

Jumat, 16 Oktober 2009

Sekolah Filsafat HMI Kom. Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang



Kegiatan ini rutin dilaksanakan tiap 2 minggu sekali.

Di mulai hari ahad Besok tanggal 18 Oktober 2009

Pukul. 15.30 WIB
Di Wisma Assalam Jl. Magoyoso IV no. 39 Ngaliyan Semarang

Contk Person : 085225056699



Dengan pembimbing : Bapak Zainul Adfar (Dosen IAIN Walisongo Semaarang).

Senin, 30 Maret 2009

Menjadi aktor yang baik melalui proses berteater

Hammam Abdee
Aktivis KPT BETE, Sekarang kuliah S2 di IAIN Walisongo Semarang
Teater merupakan kesenian yang mempunyai nilai tersendiri yaitu berupa nilai otonomi (bukan berarti pisah dari nilai kehidupan), kecuali sebagai hiburan, teater juga mempunyai nilai kehidupan yang besar, karena dapat memperhalus dan memperkaya batin manusia. Seorang seniman dapat memilih tema atau judul lakon yang akan di pentaskan mulai dari cinta kasih sesama manusia, kebobrokan moral, kepincangan sosial, kebengisan manusia, dan hubungan dengan makhluk yang maha tinggi (Tuhan). Semua tema tersebut dapat diolah dengan bagus agar dapat mengena pada sasaran (audien).
Lakon drama bersumber pada kehidupan manusia. Karena itu drama sebenarnya merupakan penyajian ulang kisah yang dialami manusia. Yang namanya penyajian ulang, tentu saja cerita drama panggung tidak akan sama dengan kehidupan manusia yang sesungguhnya di masyarakat, memang ada kemungkinan pemain drama memerankan peristiwa yang dialaminya sendiri di masyarakat. Akan tetapi umumnya akan di perankan kembali peristiwa yang dialaminya dengan tepat. Apalagi kalau pelaku sudah pasti pelaku yang meninggal, misalnya dalam acara pembunuhan, sudah pasti pelaku yang sesungguhnya tidak dihidupkan kembali lalu menyajikan ulang peristiwa pembunuhan atas dirinya yang sudah dialaminya.

Dalam sebuah pertunjukan teater harus mempunyai unsur-unsur yang tidak bisa lepas dari pertunjukan teater tersebut, unsur-unsur itu adalah :

* Plot, yaitu perjalanan cerita atau kerangka dari awal hingga akhir yang merupakan jalinan konflik antara dua tokoh yang berlawanan.

* Perwatakan atas characterization, yaitu penampilan keseluruhan dari ciri-ciri atau tipe jiwa seorang tokoh dalam teater.

* Dialog, yaitu penuturan kata-kata dari para pemain diatas panggung.

* Setting, yaitu unsur yang meliputi tempat, waktu, dan latar belakang.

* Interpretasi kehidupan, yaitu kehidupan yang ditampilkan diatas panggung haruslah dipertanggungjawabkan oleh peristiwa sandiwara.

Pemain atau aktor teater merupakan hal yang tidak dapat dilepaskan dari teater itu sendiri. Karena aktor adalah jiwa dari teater. Untuk menjadi aktor yang baik atau paling tidak layak pakai sesuai keinginan naskah dan sutradara diperlukan proses yang tidak sebentar.

Pemain harus dapat merasakan perasaan yang terkandung dalam suatu ucapan dan mengucapkan harus sesuai dengan perasaan yang mendorongnya. Oleh karena itu dalam latihan dan bermain diatas panggung haruslah disertai dengan perasaan supaya mereka dapat menghayati pementasannya dan penonton juga dapat merasakan nilai yang terkandung dalam percakapan yang sedang berlangsung di panggung. Oleh karena itu dibutuhkan modulasi dan intonasi yang jelas, irama yang hidup, konsonan dan vokal yang jelas artikulasinya, pernafasan dan penggunaan alat bicaranya harus diatur sebaik-baiknya.

Sebelum pemain bermain diatas panggung di perlukan lebih dulu suatu persiapan batin dan pengenalan watak pelaku yang akan diperankan. Melalui proses identifikasi, baik yang sempurna dengan pengalaman emosi dirinya sendiri, maupun dengan mengkontruksi unsur-unsur yang diambil dari pengalaman orang lain, atau kombinasi antara kedianya lalu memulai menggambarkan atau mengimajinasikannya (konsentrasi), kemudian menghubungkan watak itu dengan teks. Pada saat inilah diperlukan penguasaan teknik bermain, menciptakan situasi dramatis, menghubungkan dialog dengan lagu, inilah yang dialami oleh Asrul Sani disebutnya “memberi bentuk teater”. Supaya permainan lebih hidup, pemain hendaknya meneliti kemungkinan-kemungkinan lain di luar teks untuk memperkokoh perwatakan. Dalam bermain teater hal yang terpenting adalah memberi bentuk lahir pada watak dan emosi pelaku, watak yang harus diperankan itu mempunyai tiga bagian yang harus nampak, yaitu : watak tubuh, watak fikiran, dan watak emosi. Dalam pandangan R. Boleslavsky, semua itu berarti “menciptakan keseluruhan hidup sukma manusia diatas panggung. Sukma manusia itu harus dapat dilihat dalam segala segi, baik fisik, mental, maupun emosional. Di samping itu sifatnya harus unik”. Semuanya bertujuan supaya peserta didik bisa merasakan tokoh atau lakon yang ia perankan dan nilai dari cerita yang dipentaskan. Dan pada akhirnya dapat menjadi pelajaran bagi kehidupan sehari-hari.

Demikianlah garis besarnya teknik yang perlu dalam bermain teater (menjadi aktor) diatas panggung. Dan yang terakhir sebagai penutup, sesuatu tidak akan dapat diraih tanpa mencoba dan menekuni. Menjadi aktor yang handal tidak semudah membalik telapak tangan tapi juga tidak sulit menghitung bintang hanya keuletan dan niat tulus semuanya akan berjalan.

Mencermati Zaman Kalabendu

Syaiful Mustaqim

AWAL mulanya dari Jayabaya, raja Kediri abad ke-12 (1130-1160) termaktub dalam Kakawin Bharatayuda yang digubah oleh Mpu Panuluh dan Mpu Sedah. Jayabaya pernah menyatakan Indonesia suatu saat akan menjadi mercusuar dunia setelah mengalami transisi zaman yakni kalabendu. Pasca zaman kehancuran ini, akan datang zaman kalasuba, era kemuliaan atau keemasan.

Dan, dilanjutkan Raden Ngabehi Ranggawarsita (1802-1873). Seorang penyair kraton Surakarta yang sudah tersohor namanya. Ranggawarsita menuliskan syair wejangannya dalam serat kalatidha. Zaman yang serba sulit yang kita alami saat ini telah memasuki zaman kalabendu.

Kalabendu merupakan zaman dimana negeri ini dilanda berbagai musibah. Akan tetapi, berbagai musibah ini adalah fase yang kudu dilalui untuk mencapai kejayaan. Kita harus cerdas memetik hikmah di balik musibah. Negara Super Power, Amerika pun demikian, sebelum mencapai kejayaan seperti saat ini berulang kali tertimpa berbagai gejolak, misalnya, civil war (perang saudara) hingga the great depression (krisis ekonomi yang tak kunjung usai).

Pada dasawarsa 90-an kita telah memasuki zaman kalatidha. Zaman ini ditandai dengan skeptis yang berpihak pada kebenaran. Sebab, berbagai tindak kejahatan sedang gencar-gencarnya. Selain itu, terjadi krisis politik dan sosial yang terus melanda negeri ini.

Zaman kalatidha, masa yang penuh kecemasan, kekerasan, kejahatan, kabatilan, dan kekisruhan yang terjadi dimana-mana. Tanda-tanda zaman ini sudah ada sebelum Indonesia di landa krisis. Satu hal mendasar adalah hilangnya keadilan dan lunturnya wibawa hukum, kejahatan orang-orang besar dibiarkan sementara kejahatan wong cilik di hukum dengan sangat berat.

Moral semakin hancur, kebobrokan terjadi semakin kelewatan. Perempuan sudah hilang keperawanannya, tindak aborsi dimana-mana, berbagai tindak kriminal merajalela. Maka, ditengah puing-puing kebobrokan moral bangsa, rakyat berhati suci memohon perlindungan kepada Tuhan dan berusaha memperbaiki yang masih tersisa.

Munculnya zaman edan ala Jayabaya sama dengan zaman kalatidha menurut Ranggawarsita. Menurut Jayabaya, negeri ini terus mengalami berbagai pergolakan sepanjang sejarah. Terjadinya malapetaka atau goro-goro bertepatan dengan saat sang raja lenger keprabon (turun tahta). Dalam mitologi jawa, sebelum krisis datang Indonesia akan ditimpa berbagai bencana.

Maka, Jayabaya senantiasa mengingatkan. “Besok akan ada zaman edan. Siapa yang tidak ikut edan tidak akan kebagian, dan kelaparan. Tapi sebahagia-bahagia orang edan masih jauh lebih bahagia orang yang ingat pada Tuhan (eling lan waspodo).

Setelah kalatidha, kita memasuki kalabendu. Zaman yang lebih tidak enak dan tidak nyaman bagi manusia. Pada zaman ini berlaku sacrifice (penumbalan atau pengorbanan). Tak heran jika banyak korban berjatuhan. Jika tidak demikian, zaman kalabendu tak kunjung usai.

Zaman serba mengerikan ini akan berakhir dengan munculnya Satrio Piningit, sosok misterius penyelamat bangsa dan kemunculannya pun tak terduga. Franz Magnis-Suseno dalam buku Etika Jawa menyebutnya kemunduran kesaktian penguasa. Bagi orang Jawa, berarti masa pergantian kekuasaan karena penguasa lama sudah tak mampu lagi untuk memimpin negeri.

Sebelum Satrio Piningit muncul, dunia akan ditimpa goro-goro yang amat hebat. Hujan yang jatuhnya salah waktu, misalnya, tanah mengalami kekeringan, sawah ladang hancur karena dirusak hama. Disaat itu pula rakyat mengalami masa-masa susah sandang dan pangan.

Bukan tak mungkin, zaman kalabendu hanya berpuncak pada satu titik, revolusi sosial. Akibatnya seperti yang diungkapkan Jayabaya, “Wong Jawa kari separo, wong Cina Kari Sajodho” (orang Jawa tinggal separuh dan orang Cina tinggal sepasang).

Berakhirnya Zaman Kalabendu
Saat zaman kalabendu berakhir, kita memasuki era kebahagiaan, zaman kalasuba. Menurut Jayabaya, peralihan kalabendu ke zaman kalasuba diwarnai kekacauan total. Ana raja jinunjung wong rucah, patihe botoh gedhe (kelak muncul seorang pemimpin yang dikehendaki rakyat kecil, tetapi dibayang-bayangi oleh tokoh yang sifat moralnya kurang baik).

Berakhirnya kalabendu juga bermakna relatif. Keberhasilan keluar dari zaman kalabendu disebabkan ketika manusia sudah ingat kepada Tuhan dan menghindari maksiat. Selain itu, muncul saat berada dipuncak kesengsaraan.

Ada satu syarat yang harus ditepati tetap eling lan waspodo (selalu ingat kepada Tuhan dan waspada). Banyak gejala yang telah menunjukkan bahwa zaman Kalabendu sudah menjadi kenyataan. Inilah zaman kacau nilai, zaman kejahatan yang menang, penjahat dipuja, kitab suci mulai dikhianati, kekuasaan dan kekayaan diperdewa.

Nah, kita senantiasa harus mencermasti zaman kalabendu. Setelah itu, munculnya kestabilan dan keteraturan yang disebut Ranggawarsita pasti akan segera tiba setelah chaos. Misalnya saja, setelah chaos Revolusi Perancis, lahirlah kestabilan pemerintahan Napoleon.

Selain itu, harus ada usaha yang lain, bukan hanya sekadar sabar dan tawakal. Oleh karena itu, kita harus aktif mendesak perubahan tata pembangunan, tata hukum dan tata kenegaraan sehingga menjadi lebih baik untuk daya hidup dan daya cipta bangsa.

Terakhir, Saat krisis terjadi begitu dahsyatnya, terjadinya kekacauan dimana-mana. Disaat itu pula alam rasional sudah tak mampu lagi memberikan petunjuk pada manusia sampai kapan krisis akan berakhir.

Maka, jika kita bersedia menggali kembali mitologi kuno, jika hasilnya semakin relevan, kita bisa menjadikannya petunjuk serta petuah untuk meratapi nasib negeri agar segera bangkit kembali.

PERENUNGAN TENTANG KEPEMIMPINAN

Dikirim PERENUNGAN TENTANG KEPEMIMPINAN pada Oktober 17, 2008 oleh Mas Kumitir

Oleh : Sri Sultan Hamengku Buwana X

Perihal falsafah kepemimpinan Jawa, misalnya dapat kita telaah dari ajaran: “Manunggaling Kawula-Gusti”, yang mengandung dua substansi: kepemimpinan dan kerakyatan. Hal ini dapat ditunjukkan dari perwatakan patriotis Sang Amurwabumi (gelar Ken Arok) yang menggambarkan sintese sikap “bhairawa-anoraga” atau “perkasa di luar, lembut di dalam”. Di mana sikapnya selalu “menunjuk dan berakar ke bumi” atau “bhumi sparsa mudra”, yang intinya adalah kepemimpinan yang berorientasi kerakyatan yang memiliki komitmen:

“Setia pada janji, berwatak tabah, kokoh, toleran, selalu berbuat baik dan sosial”.

Sedangkan prinsip-prinsip kepemimpinan Sultan Agung diungkapkan lewat: “Serat Sastra-Gendhing”, yang memuat tujuh amanah.

Butir pertama, “Swadana Maharjeng-tursita”, seorang pemimpin haruslah sosok intelektual, berilmu, jujur dan pandai menjaga nama, mampu menjalin komunikasi atas dasar prinsip kemandirian.

Kedua, “Bahni-bahna Amurbeng-jurit”, selalu berada di depan dengan memberikan keteladanan dalam membela keadilan dan kebenaran.

Ketiga, “Rukti-setya Garba-rukmi”, bertekad bulat menghimpun segala daya dan potensi, guna kemakmuran dan ketinggian martabat bangsa.

Keempat, “Sripandayasih-Krami”, bertekad menjaga sumber-sumber kesucian agama dan kebudayaan, agar berdaya manfaat bagi masyarakat luas.

Kelima, “Galugana-Hasta”, mengembangkan seni-sastra, seni-suara dan seni tari, guna mengisi peradaban bangsa.

Keenam, “Stiranggana-Cita”, sebagai pelestari dan pengembang budaya, pencetus sinar pencerahan ilmu dan pembawa obor kebahagiaan umat manusia. Dan yang terakhir, butir

ketujuh, “Smara-bhumi Adi-manggala”, tekad juang lestari untuk menjadi pelopor pemersatu dari pelbagai kepentingan yang berbeda-beda dari waktu ke waktu, serta berperan dalam perdamaian di mayapada.

Ada juga ajaran kepemimpinan yang lain, misalnya, “Serat Wulang Jayalengkara” yang menyebutkan, seorang penguasa haruslah memiliki watak “Wong Catur” (empat hal), yakni: retna, estri, curiga, dan paksi. Retna atau permata, wataknya adalah pengayom dan pengayem, karena khasiat batu-permata adalah untuk memberikan ketentraman dan melindungi diri. Watak estri atau wanita, adalah berbudi luhur, bersifat sabar, bersikap santun, mengalahkan tanpa kekerasan atau pandai berdiplomasi. Sedangkan curiga atau keris, seorang pemimpin haruslah memiliki ketajaman olah-pikir, dalam menetapkan policy dan strategi di bidang apa pun. Terakhir simbol paksi atau burung, mengisyaratkan watak yang bebas terbang kemana pun, agar dapat bertindak independen tidak terikat oleh kepentingan satu golongan, sehingga pendapatnya pun bisa menyejukkan semua lapisan masyarakat.

Ini sekadar menunjukkan contoh, betapa kayanya piwulang para leluhur, selain yang sudah teramat masyhur, yang termuat dalam episode Astha-Brata. Atau yang lain, kepemimpinan ideal berwatak Pandawa-Lima, yang dikawal dengan kesetiaan dan keikhlasan oleh seorang sosok Semar dan pana-kawan lainnya anak Semar. Di mana deskripsi, derivasi dan penjabaran serta aplikasinya dalam suatu kepemimpinan aktual mengundang kajian para budayawan dan cendekiawan kita.

Sementara untuk memahami keberadaan kita sekarang, mungkin ada baiknya jika membuka lembaran Babad Giyanti. Tatkala Pangeran Mangkubumi sebelum jumeneng Sri Sultan Hamengku Buwono I bergerilya di kawasan Kedu dan Kebanaran, pernah berujar secara bersahaja, yang dikutip dalam Babad Giyanti: “Satuhune Sri Narapati Mangunahnya Brangti-Wijayanti”. Ucapan itu menunjukkan keprihatinan beliau, bahwa kultur Barat sebagai akses gencarnya politik kolonialisme Belanda yang mencekik, niscaya akan membuat raja-raja Jawa terkena demam asmara dan lemah-lunglai tanpa daya.

Keadaan ini harus dihadapi dengan “wijayanti”, untuk bisa berjaya dan tampil sebagai pemenang. Maka dianjurkannya: “puwarane sung awerdi, gagat-gagat wiyati”, untuk menjadi pemenang, seorang raja haruslah meneladani sikap tulus tanpa pamrih, agar bisa menyambut cerahnya hari esok yang laksana biru nirmala.

Ungkapan ini rasanya amat relevan dengan keadaan sekarang ini, karena ada paralelisme histori, di saat kita menghadapi hantaman derasnya arus globalisasi, yang mengharuskan kita untuk tidak hanya berpangku tangan, melainkan harus bersiap diri untuk lebih meningkatkan kualitas dalam semua aspek kehidupan. Harus “eling lan waspada” menghadapi berbagai godaan dan cobaan di zaman Kala-tidha ini, di mana banyak hal yang diliputi oleh keadaan yang serba “tida-tida” – penuh was-was, keraguan, dan ketidakpastian.
.

Minggu, 29 Maret 2009

LOVE is a NEED

CINTA NEEDS is a
Love is the subject of union with the object, they mutually binding. Even kebergantungan each other, then you do not nodai ties with the hubris and hypocrisy.
Everyone want to feel love and want to be beloved. However, someone who would like to make should be able to read themselves, because many people who want to find love or even her minder did not believe in himself, I was a fraud, criminals, prostitutes or the poor me, my ugly face oe bobody's perfect.
That means the same regard to self-worth or not we all have the form of material and realistic in the sense only on the things that are visible lahiriyah. While the potential not only to the human problems of the material (reason and senses). Love is the potential of creating lahiriyah because gumpalah blast ruh Illahiyah in which the sentence is a nation (no god other than Allah).
But we must realize our own position, that in itself is a bond of love. Whoever is able to recognize themselves and know of the existence of potential heart, obviously in love that will be present in the self if we are able to clean the soul. Because the soul is the center circle of love, do not you feel because kekuranganmu minder, but if you are able to feel the droplets of water means that the soul is able to realize your love for each of the heart to think. For water droplets the sincerity of the soul is to receive what the attitude and sincerity of one ketundukkan "innal muhiba liman yuhibul mu'tiun" Indeed, when we love and we must obey what we love.
Basically, when we already feel the love, we will become slaves always ready to attend. O lovers of the, if indeed beruntungnya yourself to be able to clear up heart, pure, white, clean, and full of light. Truly happy souls reside if you have the heart that cared untain with prayer, is the reflection and zikir terawat with Shaleh charity.
In fact love has brought us hover above the cloud-free flying experience pleasure. For the love spark our minds have to always be positf, words are very beautiful and tuneful. Salalu dilumuri mouth with words that, far from the word hubris. Every grains contain moisture dimulutnya nuance wisdom and advice. Said he is very valuable, if other people listen and he will be stunned and amazed.
"Say:" If you (really) love Allah, follow me, Allah love and forgive your sins. " Allah is Forgiving, Merciful. " (Ali 'Imran verse 31).
It is very obvious if you have brought us in the quietness, so if you do not take love for it. If you love yourself with the changes the better, so if you do not love these quotes. If with a sincere love for yourself, patience and experience happiness, then you do not love about it.
O Know the lovers, we are not perfect human beings. Seyogyanyalah seconds we begin to realize the advantages we are not short of us. To become better, we must continue to try and continue the process of development will bring us love and forgiveness reach.
Furthermore, who does not want to feel the love!. Of course, we all want to feel.
Weak Gempal Bulu Stalan, 26 March 2009
 

blogger templates | Make Money Online