Hammam Abdee
Aktivis KPT BETE, Sekarang kuliah S2 di IAIN Walisongo Semarang
Teater merupakan kesenian yang mempunyai nilai tersendiri yaitu berupa nilai otonomi (bukan berarti pisah dari nilai kehidupan), kecuali sebagai hiburan, teater juga mempunyai nilai kehidupan yang besar, karena dapat memperhalus dan memperkaya batin manusia. Seorang seniman dapat memilih tema atau judul lakon yang akan di pentaskan mulai dari cinta kasih sesama manusia, kebobrokan moral, kepincangan sosial, kebengisan manusia, dan hubungan dengan makhluk yang maha tinggi (Tuhan). Semua tema tersebut dapat diolah dengan bagus agar dapat mengena pada sasaran (audien).
Lakon drama bersumber pada kehidupan manusia. Karena itu drama sebenarnya merupakan penyajian ulang kisah yang dialami manusia. Yang namanya penyajian ulang, tentu saja cerita drama panggung tidak akan sama dengan kehidupan manusia yang sesungguhnya di masyarakat, memang ada kemungkinan pemain drama memerankan peristiwa yang dialaminya sendiri di masyarakat. Akan tetapi umumnya akan di perankan kembali peristiwa yang dialaminya dengan tepat. Apalagi kalau pelaku sudah pasti pelaku yang meninggal, misalnya dalam acara pembunuhan, sudah pasti pelaku yang sesungguhnya tidak dihidupkan kembali lalu menyajikan ulang peristiwa pembunuhan atas dirinya yang sudah dialaminya.
Dalam sebuah pertunjukan teater harus mempunyai unsur-unsur yang tidak bisa lepas dari pertunjukan teater tersebut, unsur-unsur itu adalah :
* Plot, yaitu perjalanan cerita atau kerangka dari awal hingga akhir yang merupakan jalinan konflik antara dua tokoh yang berlawanan.
* Perwatakan atas characterization, yaitu penampilan keseluruhan dari ciri-ciri atau tipe jiwa seorang tokoh dalam teater.
* Dialog, yaitu penuturan kata-kata dari para pemain diatas panggung.
* Setting, yaitu unsur yang meliputi tempat, waktu, dan latar belakang.
* Interpretasi kehidupan, yaitu kehidupan yang ditampilkan diatas panggung haruslah dipertanggungjawabkan oleh peristiwa sandiwara.
Pemain atau aktor teater merupakan hal yang tidak dapat dilepaskan dari teater itu sendiri. Karena aktor adalah jiwa dari teater. Untuk menjadi aktor yang baik atau paling tidak layak pakai sesuai keinginan naskah dan sutradara diperlukan proses yang tidak sebentar.
Pemain harus dapat merasakan perasaan yang terkandung dalam suatu ucapan dan mengucapkan harus sesuai dengan perasaan yang mendorongnya. Oleh karena itu dalam latihan dan bermain diatas panggung haruslah disertai dengan perasaan supaya mereka dapat menghayati pementasannya dan penonton juga dapat merasakan nilai yang terkandung dalam percakapan yang sedang berlangsung di panggung. Oleh karena itu dibutuhkan modulasi dan intonasi yang jelas, irama yang hidup, konsonan dan vokal yang jelas artikulasinya, pernafasan dan penggunaan alat bicaranya harus diatur sebaik-baiknya.
Sebelum pemain bermain diatas panggung di perlukan lebih dulu suatu persiapan batin dan pengenalan watak pelaku yang akan diperankan. Melalui proses identifikasi, baik yang sempurna dengan pengalaman emosi dirinya sendiri, maupun dengan mengkontruksi unsur-unsur yang diambil dari pengalaman orang lain, atau kombinasi antara kedianya lalu memulai menggambarkan atau mengimajinasikannya (konsentrasi), kemudian menghubungkan watak itu dengan teks. Pada saat inilah diperlukan penguasaan teknik bermain, menciptakan situasi dramatis, menghubungkan dialog dengan lagu, inilah yang dialami oleh Asrul Sani disebutnya “memberi bentuk teater”. Supaya permainan lebih hidup, pemain hendaknya meneliti kemungkinan-kemungkinan lain di luar teks untuk memperkokoh perwatakan. Dalam bermain teater hal yang terpenting adalah memberi bentuk lahir pada watak dan emosi pelaku, watak yang harus diperankan itu mempunyai tiga bagian yang harus nampak, yaitu : watak tubuh, watak fikiran, dan watak emosi. Dalam pandangan R. Boleslavsky, semua itu berarti “menciptakan keseluruhan hidup sukma manusia diatas panggung. Sukma manusia itu harus dapat dilihat dalam segala segi, baik fisik, mental, maupun emosional. Di samping itu sifatnya harus unik”. Semuanya bertujuan supaya peserta didik bisa merasakan tokoh atau lakon yang ia perankan dan nilai dari cerita yang dipentaskan. Dan pada akhirnya dapat menjadi pelajaran bagi kehidupan sehari-hari.
Demikianlah garis besarnya teknik yang perlu dalam bermain teater (menjadi aktor) diatas panggung. Dan yang terakhir sebagai penutup, sesuatu tidak akan dapat diraih tanpa mencoba dan menekuni. Menjadi aktor yang handal tidak semudah membalik telapak tangan tapi juga tidak sulit menghitung bintang hanya keuletan dan niat tulus semuanya akan berjalan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar