Lukni Maulana*
Membincang kota Semarang dibenak kita terekam pikiram bahwa kota ini adalah kota air sebab seringnya media masa dan media elektronik memberitakan banjir. Selain kota yang berpotensi dengan bencana seperti banjir dan tanah longsor, Semarang merupakan ikon propinsi jawa tengah dengan sebutan kota industri yang terdapat berbagai macam bangunan industri, mal-mal dan hotel berbintang.
Kota dengan basis barang dan jasa menjadikan kota ini semakin kental dengan arus ekonomi, akan tetapi dibalik itu semua kota Semarang memiliki potensi besar sebagai kota pariwisata. Namun hal ini, pariwisata tidak hanya sebagai model mencari keuntungan ekonomi semata, ada khalayak penting yaitu pariwisata sebagai wahana pendidikan lingkungan.
Dalam hal ini dapat dikembangkan melalui kebijakan Wisata ekologi (ecotourism) yang merupakan salah satu program pemerintah Semarang sebagai bentuk perwujudan kota berwawasan lingkungan. Maka dalam hal ini seyogyanya pemerintah kota dapat memberikan perencanaan kota tentang konsep Kawasan Wisata ekologi, yang tidak mengkesampingkan masyarakat marjinal dan dapat memberikan keuntungan ekonomi di kawasan wisata.
Masyarakat tentu akan bangga sekali jika wisata ekologi menjadi suatu dambaan sebagai upaya untuk menarik para wisatawan lokal maupun asing. Mereka akan terpesona dan terkesima bahwa ibu kota yang biasanya identik dengan kegiatan ekonomi mampu menyuguhkan kesan lain berupa taman-taman wisata berbasis lingkungan.
Salah satu proyeksi tempat wisata ekologi tersebut yaitu terletak di kawasan Semarang Tengah seperti kawasan Gunung Pati dan Mijen, Kawasn Semarang Barat, khususnya kawasan Wisata kebun binatang Mangkang. Sebab kawasan tersebut memiliki nilai keindahan alam serta kekayaan tanaman dan buah-buahan.
Hal ini ditengarai oleh keunikan dan potensi kawasan tersebut, semacam Guo Kreo yang telah dikenal karena potensi alam dan kera-kera yang hidup bebas serta memiliki sungai-sungai dengan arus yang cukup deras. Bayaknya tempat pemancingan sebagai nilai plus untuk pengelolaan wisata ekologi, bahkan Semarang masih memiliki banyak tempat wisata yang bisa dikembangkan menjadi kawasan wisata ekologi diantaranya kawasan Pantai Maron dan Marina, Taman Margasatwa Wonosari atau Bonbin Mangkang, Kawasan Hutan dan Danau BSB di Ngaliyan dan Air Terjun dan gunung di Ungaran.
Oleh sebab itu, biar tidak terjadi konflik perencanaan kota antara pemerintah dengan masyarakat. Setidaknya pemerintah kota mampu membuat perencanaan kota berwawasan lingkungan yang tidak memarjinalkan daerah-daerah pingiran kota yang biasanya terkenak dampak dari pembangungan kawasan kota. Ini dapat dilihat dari banyaknya bencana baik bencana banjir maupun tanah longsor yang menimpa di kawasan tersebut semisal di daerah Genuk, Mangkang, Tugu, Tembalang, dan Gayam Sari.
Sebab kawasan wisata ekologi merupakan bentuk penyadaran nilai antara pemerintah dan masyarakat. Maka pemerintah dan masyarakat harus memiliki kesadaran dan bersemangat dalam mewujudkan kawasan wisata ekologi melalui partisipasinya dalam menjaga dan merawat lingkungan.
Melalui kawasan wisata ekologi diharapkan kita mampu bersifat arif dan bijak terhadap alam, karena sekarang ini dunia telah dilanda oleh krisis ekologi salah satu permasalahan internasional yaitu akibat terjadinya global warming.
Kawasan wisata ekologi sebagai bentuk representasi kota masa depan yang lebih bercorak kepada kota berwawasan lingkungan tanpa menghilangkan nilai kota berbasis barang dan jasa.
* Mahasiswa IAIN Walisongo Semarang dan Pengiat masalah sosial dan kebudayaan di Sanggar ILCI (Ilmu dan Cinta) Semarang
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

1 komentar:
enak dong, karya wisata terus...hehehe...
Posting Komentar