SELAMAT DATANG DI WEBLOG NEGERI KEGILAAN (Menebar Cinta Menerangi Semesta)

Kamis, 26 Februari 2009

Tebarkan Virus Ngeblog Bersama Loenpia Net

”Loenpia”
(SEMARANG) Blog telah menjadi virus dikalangan masyarakat internasional yang getol untuk berselanjar di dunia maya. Para pecinta blog adalah mereka yang memiliki berbagai kegiatan baik dari kalangan pelajar, pejabat, ekonom, pedagang hingga para politikus. Tidak heran jika mereka memanfaatkan blog sebagai media komunikasi, informasi dan promosi. Dengan memanfaatkan fitur gratis tersebut, mereka yang dulunya tidak bisa memanfaatkan untuk berkreasi di dunia maya kini mereka bebas berekspresi.
Loenpia Net merupakan kumpulan kaum blogger di wilayah Semarang. Wadah para pecinta dunia maya untuk saling bertukar pikiran, untuk mewadahi aspresiasi tersebut Loenpia Net mengadakan kegiatan yang bertajuk "Tebarkan Virus Ngeblog Bersama Loenpia Net dot Com" dalam acara Mega Bazar Computer 2009 di DP Mall Semarang. Acara ini berlangsung mulai 25 Februari hingga berakhir pada tanggal 1 Maret.
Event kali ini juga menegahkan berbagai macam kegiatan mulai dari pelatihan dan pengenalan blog secara perivat, blog clinic, talk show. Tidak sampai di situ kegiatan Loenpia Net, yang paling berkesan untuk para Blogger yaitu Lomba Blog ini diperuntuhkan bagi siapa saja dengan mendaftarkan diri di Stand paling akhir hingga hari Sabtu.
Agus Thohir (22), mahasiswa Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang, mengungkapkan, acara semacam ini perlu di adakan dan sangat di butuhkan sekali khususnya bagi mereka yang sangat awam di dunia maya, apa lagi virus ngeblog merupakan sarana yang efektif untuk saling tukar pengalaman di jagad maya," ucapnya.

Minggu, 22 Februari 2009

TU(h)AN PRESIDEN


Oleh : Lukni Maulana

Derap-derap langkah kaki terdengar seiring angin kecil berhembus di dalam ruangan auditorium pertemuan. Kaki itu muncul berhiaskan sepatu hitam dinas, pakaianya parlente dan nampak jas dan dasi memenuhi sekucur tubuhnya. Perlahan waktu orang-orang telah memadati arena tersebut, layaknya arena pertandingan sepak bola. Sorak-sorak gembira dan tepuk tangan menyambut kedatanggannya.
Wajah cakrawala yang kian berwarna merah padam muncul dari sedan berwarna hitam. Cakrawalanya kian bersinar terang menghijaukan sisi-sisi ruangan. Mungkin matahari telah lama bermimpi dalam peraduan indah gemilang bidadari surga. Sesosok manusia penuh karisma keluar melambaikan tangan, membungkam suara-suara yang penuh dengan ke-egoan. Teriakan para manusia kerdil menghantam janji-janji yang di bumbui dengan sugesti.
Terik mentari dan debu-debu seakan memadu kasih menciptakan romantisme picisan menyambut kedatangannya. Kehadiranya dianggap sebagai sesosok satrio piningit dengan berbekal visi yang lebih maju untuk negeri tercinta. Para pecintanya terlelap asyik mendengarkan khutbah kemerdekaan, mendayung waktu dalam pergulatan zaman yang lebih demokratis.
Tanpa penuh kesadaran, sekarang para pecinta telah menjadi ruh dan nyawa bagi pemimpinnya. Mereka rela melakukan apapun bahkan nyawapun menjadi taruhan, yang terpenting orang yang ia cintai dapat menduduki nikmatnya istana negara.
”Wahai pendukungku, akan aku ajarkan bagaimana demokrasi yang sesungguhnya. Bahwa perubahan dilakukan melalui hal terkecil yaitu melalui teriakan kalian untuk mendukungku”. Ucapan satrio piningit menghempas ke seluruh auditorium.
Pernahkan para pecinta kembali menjelajahi isi hatinya. Pada hakekatnya setiap diri mempunyai hak untuk mendukung dan memiliki kewajiban yang harus ia kerjakan. Namun disadari atau tidak, pada realitasnya para pecinta tetap menjadi nyawa untuk pujaannya.
”Eh...Man! Sudah jam berapa ini, sepertinya kok mentari sudah condong ke barat ?. Tanya Sugeng kepada Herman.
”Baru jam setengah tiga, emang ada apa to kok nanya jam segala ?”. Sahut Sugeng.
”Tahu ngak Man, kita disini berdiri sudah hampir 5 jam. Apa kau lupa ini sudah saatnya shalat dzuhur”.
”Oh..ya, hampir kelupaan. Tapi nangung lah acaranyakan hampir selesai. Ntar nggak kebagian amplop lho. Kasian tuh istri dan anakmu menunggu dirumah, sedangkan engkau tinggal shalat malahan kau tidak dapat amplopnya”. Herman mengajak sugeng.
”Tapi...!”.
”Ngak usah pakai tapi, lha yang punya acara saja lupa. Kita juga seharusnya ikut-ikutan lupa.
”Gitu ya...Man!. Ya udah”.
Waktu seakan memutar cepat, sesuatu yang diharapkan dan menjadi banyak incaran kaum pecinta. Bungkusan berwarna putih itu pastilah amplop yang telah digengamnya erat. Seorang manusia rendah berlari dengan tergesa-gesa memberikan salam kepada pujaanya.
”Terima kasih atas dukungannya, semogga ini bukan kali terakhir engkau menjadi para pecintaku”. Pesan terakhir untuk para pecintanya.
Dua sahabat Sugeng dan Herman berjalan dengan penuh keriangan, cara pandangnya mengatakan bahwa untuk tiga hari ini mereka bisa makan enak.
Orang yang di cintaipun beranjak pergi dengan sedan mewahnya dengan berbagai fasilitas di dalamnya. Sedangkan mereka berdua hanya bisa berjalan dengan di fasilitasi terik mentari. Tidak ada yang abadi di dunia ini, semuanya hanya mampir untuk di lewati, bukan di terjemahkan untuk bisa menjawab problema kehidupan. Tapi sangat sederhana sesungguhnya manusia hanya ingin menikmati kebahagiaan sementara yang penuh dengan kenyataan. Bukan omong kosong yang dibungkus dengan kemunafikan dan iri hati.
Bagaimana merumuskan demokrasi untuk negeri tercinta, yang berjubel dengan orang-orang besar dan pintar. Pada gilirannya membentuk sistem yang melahirkan pemimpin-pemimpin yang bermental miskin. Apakah orang kecil yang menjadi pusat pergeseran untuk menaklukan sistem. Problem yang tidak dapat dihindari oleh gerak-gerik manusia yaitu berupa materi. Apa lagi berfikir agama dan problem hermeneutik yaitu suatu hal yang berkaitan dengan proses tingkah laku pemahaman keagamaan.
* * *
Orientasi tersebut telah membutakan mata hatiku bergulir seiring perubahan yang tidak kenal henti. Mereka kaum pecinta melangkah dalam pembuktiannya untuk berinteraksi dengan diriku. Ini lah aku yang hanya bisa terbaring lemas diantara dua roda tanpa kaki. Aku hanya bisa memandang indah dunia dengan kedua mataku, namun aku tidak bisa menikmati langka kaki untuk menginjak bumi dan berlari kencang memetik bunga-bunga ditaman.
Kutukan pecinta itu menghantui hidupku, semua yang aku ucapkan seperti layaknya wahyu Jibril. Tangan-tanganku ini seperti berkah yang memberikan rizki, tetesan keringatku seperti halnya air zam-zam yang dapat menyembuhkan. Kemana Tuhan, apakah ia telah lari dan bersemubunyi di balik tirai, aku yang bodoh ataukah para pecinta yang amat keterlaluan terhadapku. Mereka telah menjerumuskanku dalam lembah kehinaan, sedangkan mereka sedikit kenikmatan namun sangat mensyukurinya.
Aku dan pecintaku hanyalah buah karya Tuhan yang paling agung dan unik. Pada awalnya penciptaan manusia, semua malaikat merasa kurang sepakat dengan penciptaan manusia sebagai khalifah di bumi, tapi mereka tetapa bersujud kepada manusia yang penuh dengan kehinaan sebagai bukti cinta kepada tuhannya. Sedangkan kaum pecintaku hanya mencintai bungkusan putih yang hanya berisi beberapa rupiah.
Maafkan aku wahai pecintaku. Ampuni hambamu Ya...Tuhan, Engkaulah segala dari ke-Mahaan tidak ada daya dan upaya selain asma-Mu. Aku tidak akan melupakan kejadian itu, saat mobil sedan yang ku tumpangi terperosok kedalam jurang. Kini mimpi-mimpi itu telah sirna, ditelan heningnya malam bulan purnama.
Melalui sujud taubatku ini, aku berjanji akan memberikan yang terbaik untuk negeri tercinta demi kemakmuran dan kesejahteraan untuk semua. Aku meyakini bahwa setiap manusia memiliki ruh yang merupakan saripati kesucian. Dimana di dalam ruh itu terkandung keimanan berupa kalimat “Laailaaha Illallah” dan “Asmaaul Husna”. Karena setiap ruh itu suci yang semestinya selalu berdzikir dan melakukan hal-hal yang baik, bukan menjadi tu(h)an presiden.
* * *
Sangat sederhana dalam merumuskan demokrasi, kita berhak memilih dan dipilih namum semua ada sistemnya. Sistem terbentuk karena adanya keinginan untuk mendapatkan yang terbaik di sisi-sisi singasana dipenuhi dengan limpahan intan permata. Sosok Herman dan Sugeng hanyalah manusia yang mencinta, ketika ia membenci atau menyukai akan mendapatkan perlakuan berbeda. Seperti halnya mendapatkan sedikit materi. Setiap insan menghendaki keabadian dan kemapanan hidup serta merasakan hal-hal yang menciptakan kenyamanan.
”Sekarang sudah tidak terdengar lagi suara-suara demokrasi”. Tanya Herman kepada Sugeng dengan sambil menikmati sebatang rokok dan secangkir kopi di warung makan Mbok Yuni.
”Iya...ya. Kau kan tahu sendiri si Firman Hadi Sutrisno itu mengalami kecelakaan dan sekarang ia hanya bisa duduk di kursi roda. Semua hartanyapun hampir habis untuk berobat”.
”Makanya kalian tu harus bersyukur, walau ngak punya uang tapi tetap sehat dan dapat menikmati makananku”. Mbok Yuni ikut-ikutan ngomong.
Keanehan muncul dari warung kecil di pertigaan jalan. Kicau burung bagai Sang Khidir mengajarkan cinta untuk Nabi Musa, sang pecinta telah lupa pada siapa yang namanya Firman Hadi Sutrisno seorang pengusaha sukses. Kenistaan ini muncul bisa dari ketinggian dan kerendahan. Di sisi lain demokrasi telah di kotori oleh kedurhakaan pecintanya dan cahaya mulai redup ditangan manusia yang tidak lagi memiliki materi. Pantaskah kita berfikir menjadi khalifah di bumi, sedangkan kita semua berebut untuk mendapatakan jabatan dan kehormatan.
Kau tercipta dari tanah dan merupakan simbol kebusukan, kekotoraan dan kenistaan. Dengan materikah engkau ingin memulyakan harkat, martabat dan takwamu. Tidak semua hanya awal dari sebuah akhir ”eling marang sangkan paraning dumadi”. Tujuan kita hidup adalah untuk mengabdikan diri menuju ke haribaan-Nya, maka janganlah kau kotori dengan noda-noda dusta dan durhaka serta materi semata.
Semarang, 20/02/09 (22.06 WIB)

masyarakat madani


Oleh: Mukhamad Habibi

Wacana masyarakat madani sebenarnya sudah sejak lama berkembang di Indonesia. Istilah ini mula-mula disampaikan Anwar Ibrahim dalam Festival Istiqlal pada tahun 1995. Meski demikian, penggagas awal masyarakat madani ini adalah Muhammad Naquib Al-Atas yang kemudian dielaborasi oleh Nurchalis Madjid. Masyarakat madani adalah satu citi-cita masyarakat ideal.

Menurut Naquib Al-Atas, Masyarakat madani adalah terjemahan dari al-mujtam’ al-madani. Kata madani sendiri memilki asal kata yang sama dengan ad-din atau agama yang juga merupakan asal kata dari tamaddun yang berarti peradaban. Di samping itu, kata madani jugu mempunyai akar yang sama dengan kata madinah yang berarti kota. Sehingga di sini ada keterkaitan antara agama (din), kota (madinah) dan peradaban (tamaddun). Masyarakat madani sendiri seringkali disamakan dengan isitlah civil society yang berasal dari khazanah pemikiran Barat. Civil society adalah masyarakat yang berperadaban, masyarakat yang merdeka, masyarakat yang pauh pada hukum.

Masyarakat madani dalam pemikiran Islam merujuk pada masyarakat Islam generasi awal, yaitu masyarakat yang di bangun oleh nabi di madinah yang semula bernama Yatsrib. Penggunaan nama madinah sendiri untuk membedakannya dengan golongan Barbar yang hidup nomaden. Dirujuknnya masyarakat madani pada masyarakat madinah ini karena masyarakat Madinah memiliki toleran yang tinggi terhadap sesama masyarakat, penghargaan dan kepatuhan pada hukum atau kesepakatan bersama yang ditunjukkan oleh Piagam Madinah.

Merujuk pada isi Piagam Madinah Nurchalis Madjid melihat, setidaknya ada empat prinsip yang membangun masyarakat madani: Pertama egaliterian, yaitu persamaan hak dan kewajiban bagi setiap warga. Tidak ada kolompok atau golongan yang lebih tinggi dari yang lain. Kedua, penghargaan kepada masyarakat diberikan atas dasar prestasi. Ketiga, keterbukaan dan partisipasi masyarakat. keempat, supremasi hukum tanpa pandang bulu. Kelimaa, inklusivisme yaitu sikap keterbukaan, rendah hati dan toleransi. Keenam, musyawarah. Sejalan dengan Nurcholis Madjid, AS. Hikam merumuskan empat ciri utama masyarakat madani, yaitu, kesukarelaan, keswasembadaan, kemandirian tinggi terhadap negara keterkaitan pada nilai-nilai hukum yang disepakati bersama.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang memilki kekhasan sosial-budaya. Merupakan fakta historis bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat majmuk, yang terdiri dari beragam suku, budaya, bahasa dan agama. Masing-masin suku, budaya dan bahasa memiliki satu sistem nilai yang berbeda. Kemajemukan ini akan menjadi bencana dan konflik yang berkepanjangan jika tidak dikelola dengan baik.

Kebhinekaan dan kearifan budaya lokal inilah yang harus dikelola sehingga menjadi basis bagi terwujudnya masyarakat madani, karena masyarakat madani Indonesia harsu dibangundari nilai-nilai yang ada didalamnya, bukan dari luar. Dengan demikian, menurut Tilaar ciri-ciri khas masyarakat madani Indonesia adalah a). Kergaman budaya sebagai dasar pengembangan identitas bangsa Indonesia dan identitas nasional, b). Adanya saling pengertian di antara anggota masyarakat, c). Adanya toleransi yang tinggi, dan d). Perlunya satu wadah bersama yang diwarnai oleh adanya kepastian hukum.

Perwujudan masyarakat madani indonesia adalah usaha holisitk yang mencakup a). aspek suprastrukur, yaitu bangunan paradigma tauhid, b). aspek sosial budaya yaitu adanya budaya masyarakat yang terdidik dan mandiri. c). Aspek struktur yaitu pada perbaiakan dan penguatan pada basis sistem kenegaraan. Wallahu a’lam bi masyarakat madani Indonesia.

Data-data kebangkrutan Indonesia


Sabtu, 03 Januari 2009
www.wawasan.com


KITA telah meninggalkan tahun 2008 dan memasuki tahun 2009. Selama tahun 2008 banyak hal yang sudah dilakukan pemerintah. Selama itu pula, masyarakat harap-harap cemas menanti gebrakan perubahan yang lebih produktif ketimbang tahuntahun sebelumnya. Sayangnya, kita tetap saja kecewa dengan hasil kerja dari para penyelenggara negara.

Memang harus diakui ada beberapa kemajuan yang telah diperoleh, namun masalah-masalah klasik di sejumlah sektoral masih menguak keprihatinan yang mendalam. Kita dapat merefleksikan berbagai persoalan kenegaraan yang bakal kita hadapi ulang di tahun ini; bahkan tantangannya kian berat.

Kerawanan pangan
Indonesia masih menghadapi krisis pangan. Krisis, dalam arti terus meningkatnya ketergantungan pada impor. Hal ini ditandai dengan suplai dan harga sembako yang kian mahal. Akibatnya, prahara rawan pangan merebak di berbagai daerah.

Besarnya poin krisis memiliki korelasi dengan banyaknya penduduk yang mengalami kerawanan pangan. Tahun lalu, jumlah penduduk miskin sebesar 16,6% dari 217 juta penduduk (data BPS). Jika mengggunakan standar Bank Dunia, orang miskin di Indonesia berjumlah 110 juta jiwa (50%).

Pertanian tidak menyejahterakan petani. Data BPS menunjukkan, pertumbuhan sektor pertanian dari 4,1 % pada 2004 menjadi 3,0 % pada awal 2008. Pangsa PDB pertanian menurun dari 15,5% pada 2004 menjadi 13% pada tahun 2008.

Indonesia telah kehilangan swasembada pangan. Pada tahun lalu produksi gabah kering turun 1,2 juta ton jika dibandingkan pada 2007. Sekarang, tiap tahunnya Indonesia tidak kurang mengimpor beras sejumlah 2 juta ton.

Menurut Angka Impor Pangan versi Prof Rokhmin Dahuri, Indonesia adalah pengimpor beras terbesar (2,5 juta ton/thn) dan pengimpor gula terbesar kedua di dunia (2,0 juta ton/thn). Selain itu, kita juga mengimpor kedelai (1,2 juta ton), jagung (1,3 juta ton), dan sapi (550.000 ekor) pada tahun kemarin (sumber: Muchtar Effendi Harahap, 2 Des 2008).

South Centre memperkirakan bahwa 90% perdagangan pangan dunia dikontrol 5 perusahaan transnational coorporation (TNCs); 75% perdagangan serealia dikuasai 2 TNCs; 3 TNCs menguasai 85% perdagangan teh; 5 TNCs menguasai 70% produksi tembakau; 7 TNCs menguasai 83% produksi gula; dan 4 TNCs menguasai 2/3 pasar pestisida, serta 100% pasar global bibit transgenik. TNCs bisa mengontrol harga input, membentuk harga kartel, mendepak perusahaan lokal, dan membeli komoditas petani dengan harga super murah.

Sesuai data Departemen Perdagangan RI, harga kebutuhan pokok, terutama di masa Pemerintah SBY dari tahun ke tahun mengalami kenaikan yang relatif tinggi.

Sumberdaya alam dan kehutanan
Kekuatan asing dan elemen-elemen pemerintah telah berkonspirasi dengan Bank Internasional, menjarah kekayaan alam yang menyebabkan Environmental Crime, Mineral Crime, dan Tax Crime. Sistem Kontrak Karya dengan pihak asing telah merugikan Indonesia.

Menurut BP Migas, produksi minyak bumi Indonesia mengalami penurunan hingga 16%. Mulai 2006 penurunan produksi ini mencapai 30.000 barel/hari.

Indonesia mengekspor minyak mentah namun mengimpornya kembali dengan harga 0,38 - 3,95 USD/barel lebih mahal. Impor minyak mentah sebenarnya tak perlu dilakukan seandainya ekspor tak dilakukan. Produksi minyak KPS bisa dibeli pemerintah dan dapat diolah di kilang dalam negeri. Negara dirugikan 3 - 4 triliun rupiah/tahun.

Perimbangan Perdagangan Minyak Mentah (Crude Oil) dan Produksi Minyak (Oil Product) makin minus khususnya sejak 2003. Data Trade Balance of Oil and Oil Product menunjukkan Indonesia bukan lagi negara pengekspor minyak, melain sudah menjadi pengimpor minyak.

Dominasi koorporasi internasional dalam eksplorasi migas sudah memiskinkan bangsa kita. 85% produksi migas dikuasai kontraktor asing, utamanya Chevron-eks Caltex, termasuk Unocal, CNOOC, Exxon Mobil, BP, dan Vico. Kontraktor nasional (termasuk Pertamina) cuma memproduksi 15%.

Produksi migas lebih ditujukan untuk ekspor. Lebih 58% produksi gas diekspor. Defisit gas di dalam negeri mencapai 2.036,64 MMSCFD. Lebih dari 40% produksi minyak mentah masih diekspor, padahal kebutuhan dalam negeri yang mencapai 1,4 juta barel/hari sudah melebihi kapasitas produk yang hanya 1 juta/hari.

Makin melemahnya posisi tawar (bargaining power) pemerintah terhadap kontraktor migas bisa dilihat dari indikasi ini: 1) Pemberlakuan DMO Holiday: kontraktor tidak wajib menjual minyak ke dalam negeri untuk jangka waktu tertentu. 2) Perubahan DMO fee: pemerintah harus membeli minyak yang di DMO-kan dengan harga pasar. 3) Perubahan batas atas cost recovery dari 40%- 60% menjadi 100% dan bahkan 120% untuk lapangan marginal. 4) Split bagi hasil 0% bagi pemerintah, 100% kontraktor (kasus Natuna D Alpha). 5) Disepakatinya kontrak ekspor gas/LNG dengan harga 3-4 USD/MMBTU, padahal harga pasar sudah mencapai 9 USD/MMBTU.

Sub-sektor Minerba didominasi perusahaan asing. Penerimaan negara dari Minerba relatif tidak signifikan, rata-rata 3% dari total penerimaan negara. Lebih kecil dibandingkan penerimaan dari devisa (remittance) TKI yang mencapai 30 triliun rupiah. Devisa dari Minerba hanya 20,9 triliun rupiah (Data: DESDM).

PT Freeport Indonesia dan Newmont Nusa Tenggara menguasai 100% produksi konsentrat tembaga di Indonesia. Dua perusahaan ini menguasai lebih 86% produksi emas dan perak. Royalti emas dan perak hanya 1% dari gross revenue, sedang royalti tembaga cuma 3,5%.

Lebih dari 67% produksi batubara dihasilkan oleh kontraktor batubara asing, seperti Arutmin, Adaro, Kaltim Prima Coal, dan Kideco. Lebih 95% produksi beragam mineral diekspor. Lebih 70% produksi batubara juga diekspor.

Untuk minyak sawit mentah (CPO), pemerintah lebih melayani permintaan luar negeri ketimbang kepentingan dalam negeri. Tahun lalu, 53% CPO diekspor ke Eropa. Akibatnya, minyak goreng langka dan harga di dalam negeri melonjak. Kerugian akibat salah urus dalam pengelolaan SDA seperti pertanian, kehutanan dan kelautan sebesar 30 triliun rupiah/tahun.

Hasil Indonesia mengekspor ikan tangkap hanya 2 miliyar USD/tahun, sedangkan Thailand sebesar 11 miliyar USD. Padahal Thailand memiliki garis pantai hanya 2.400 km, sedangkan garis pantai Indonesia sepanjang 81.000 km. Sementara kerugian akibat pencurian ikan sebesar 4 miliyar USD/tahun.

Kerusakan hutan terus melaju dengan mengorbankan rakyat. Menurut Departemen Kehutanan (per 20/8/2006), Indonesia memiliki hutan seluas 120,35 juta ha (62,6% dari luas daratan) yang memiliki kekayaan mega biodiversity ketiga setelah Brazil dan Kongo. Namun, laju kerusakannya termasuk dalam deforestasi tercepat. Setiap jam, kawasan hutan lenyap seluas 300 lapangan sepak bola. 2 tahun lalu, laju kerusakan hutan Indonesia sudah mencapai 2,72 juta ha. Maraknya illegal logging mengakibatkan negara rugi 40 triliyun rupiah/tahun.

Bersamaan kerusakan hutan, persoalan konversi lahan terus meningkat. Khususnya di kawasan ekologis genting atau kawasan pesisir yang terkena abrasi tinggi dan terumbu karang mengalamai kehancuran hebat. Sisa terumbu karang yang baik kini tinggal 6%.

Pertambangan yang merusak masih saja bebas mencemari sungai, laut dan udara. Semburan Lapindo sebagai drama perusakan terbesar sepanjang abad juga kurang mampu diatasi Pemerintah SBY-JK. Lingkungan hidup selama 3 tahun tak pernah memegang posisi kunci.

Pengurasan SDA telah mendatangkan bencana bagi masyarakat di sekitar daerah yang dieksploitasi, karena dampak lingkungan dan menciutnya lahan pertanian. Akibatnya kini terdapat perbedaan sangat kontras dalam penguasaan lahan. Petani hanya menguasai lahan 0,4-1,3 ha untuk budidaya, sedangkan 1 perusahaan perkebunan menguasai rata-rata 1.780 ha dan 10 group penguasa HPH menguasai 24 juta ha dari 51 juta ha hutan produksi.

Sebanyak 85% bencana alam yang dilaporkan Bakornas PB disebabkan oleh dampak kerusakan lingkungan akibat pengurasan SDA. Sementara hak masyarakat atas pengelolaan SDA tak pernah jelas dan tak pernah diatur.

Ancaman kekurangan air akan dihadapi jutaan penduduk di Pulau Jawa, yang jumlahnya 65% total penduduk di Indonesia. Cadangan air di Jawa hanya 4% dari total cadangan stok nasional akibat tangkapan air selalu dihancurkan. Lima tahun belakangan ini banjir di Pulau Jawa meningkat 3 kali lipat.

Misalnya saja, kondisi Bengawan Solo belakangan ini makin memrihatinkan. Hutan di Daerah Aliran Sungai yang memasok air ke Bengawan Solo hanya tinggal 1%.

Pemerintah sekarang tidak memberikan anggaran signifikan untuk bencana alam karena 70% anggaran justru habis untuk aparat pemerintahan. Sumber daya alam kita, kini telah berubah, dari berkah menjadi petaka.

Industri dan perdagangan
Keberadaan pasar tradisional belakangan ini makin tergilas oleh maraknya supermarket. Di Jakarta, misalnya, sekitar 80% pedagang tradisional saat ini tak mampu tumbuh, karena kalah bersaing dengan pasar modern. Bahkan, beberapa pasar regional dan wilayah saat ini dikuasai produk impor.

Menurut Bank Dunia, tiada supermarket di manapun di dunia yang begitu bergantung pada produk impor seperti di Indonesia. Sekitar 60% sayur mayur dan buah yang dijual berasal dari impor. Angka ini 2-3 kali lebih besar dari produk impor di supermarket di Thailand, Meksiko, dan Cina.

Ketergantungan industri pengolahan pada bahan baku impor demikian besar. Industri keramik, misalnya mengimpor tanah liat hingga pelapis. Lebih dari 90% kapas untuk industri tekstil juga diimpor. Ketergantungan impor pun terjadi pada besi, plastik, produk turunan minyak bumi, dan permesinan. Industri makanan olahan juga masih bergantung pada impor. Untuk komoditas yang melimpah di negeri ini, seperti kayu dan rotan, industri pengolahannya masih meneriakkan kelangkaan bahan baku. Sebaliknya, industri kayu - rotan di Cina dan Vietnam yang tak memiliki sumber bahan baku justru maju pesat.

Media massa dan telekomunikasi
Menurut MPPI (Masyarakat Pers dan Penyiaran Indonesia), kepemilikan televisi swasta mengarah pada monopoli kepemilikan. Adanya pelanggaran UU No 32/2002: dimana suatu badan hukum paling banyak hanya memiliki dua izin penyelenggaraan penyiaran televisi yang ada di dua provinsi berbeda.

MPPI menunjukkan, PT Media Nusantara Citra Tbk (MNC) adalah badan hukum bukan penyelenggara usaha di bidang penyiaran telah memiliki dan menguasai 3 Lembaga Penyiaran Swasta sekaligus, yaitu 99,99% pada RCTI, 75% pada TPI dan 99,99% pada Global TV.

Kondisi ini jelas tidak sehat, membuat masyarakat tak punya banyak pilihan dan juga dapat membodohi masyarakat karena informasi yang diterima akan relatif seragam dan cenderung tidak mendidik. Bahkan, televisi sudah dipakai untuk kepentingan tertentu pada Pemilu 2009. Saat ini ada sejumlah pemilik televisi yang memakai medianya untuk membela diri ketika terkena persoalan. Lembaga penyiaran seharusnya sesuai dengan asas diversity of ownership dan asas diversity of content.

Korporasi asing telah memonopoli usaha telekomunikasi. Salah satu fakta yakni Keputusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) yang menetapkan Temasek Holdings (milik Singapura) telah melanggar UU NO 5/1999 tentang Larangan Praktik Monopoli, karena memiliki saham di dua perusahaan telekomunikasi: yaitu PT Telekomsel dan Indosat Temasek, lewat Singtel dan ST Telemedia, menguasai 35% saham Telekomsel dan 41,94% saham Indosat.

Infrastruktur, maritim, dan pertahanan
Menurut ECONIT"s Economic Outlook 2008, setelah 3 tahun Pemerintah SBY hanya terbangun 48 km (3.7%) dari target 1.300 km atau 260 km/tahun (2005-2009). Hasil dari dua kali Infrastructure Summit, tentang percepatan pembangunan infrastruktur lebih merupakan respon birokratik ketimbang upaya konkrit menyelesaikan masalah pembangunan infrastruktur.

Seluruh pelabuhan dan kapal Indonesia dinilai tidak aman sehingga terancam "diboikot asing" (Peringatan US Coast Guard). Hal ini disebabkan adanya penilaian bahwa masih banyak perusahaan pelayaran dan pelabuhan di Indonesia yang belum melakukan kode keamanan maritim ISPS CODE. Dalam perhitungan volume lalu lintas barang, resiko ini menjadi hambatan bagi ekspor dan impor sebesar 400 juta ton/thn.

Dalam bingkai kemandirian bangsa, bidang pertahanan dan keamanan Indonesia terlihat masih dalam posisi sebagai objek. Misalnya, dalam kasus DCA (Defence Cooperation Agreement) dengan Singapura; penyelesaian hukum pelanggaran HAM oleh prajurit TNI; serta alat persenjataan.

Singapura berani melakukan perluasan wilayah dengan menimbun pasir yang diambil dari wilayah Indonesia. Perbatasan Indonesia-Malaysia di sepanjang Kalimantan makin lama makin merugikan kita. Sebagian kawasan perkebunan di Sabah dan Serawak sudah menjorok 7 km ke dalam wilayah Indonesia, dijadikan kawasan Malaysia.

Ketergantungan Indonesia sangat tinggi terhadap impor persenjataan militer. Ketergantungan ini, terutama pada AS (34%), Prancis (12%), Jerman (12%), Rusia (10%) dan Inggris (9%). Industri strategis domestik hanya mampu memberikan kontribusi sebesar 5%. Menurut INFID, negaranegara NATO mendominasi sebagai sumber pengadaan Alutsista TNI. Indonesia telah menjadi bagian aliansi strategis NATO.

Indonesia termasuk negara paling rendah alokasi anggaran belanja pertahanan dari persentase PDB. Hanya sekitar 0,76-0,88% dari PDB. Padahal secara normatif tingkat ideal 5%; tingkat wajar 3%; tingkat minimal 2% dari PDB. Anggaran pertahanan Indonesia adalah yang terkecil di antara negara tetangga.

Politik luar negeri, politik hukum, dan korupsi
Masalah nasib TKI, kita hanya mampu defensif, bukan proaktif melobi-terutama otoritas negara Malaysia dan negara lain di mana TKI bekerja-untuk melindungi WNI di luar negeri, sembari mendesakan penyelesaian hukum terhadap WNA, agar bisa diadili di negaranya.

Pemerintah terlalu lemah saat berhadapan dengan IMF, atau bankbank internasional dan negara-negara investor yang menyebabkan sebagian besar sumber daya kita telah dikuasai pihak asing.

Indonesia tidak mampu mempertahankan prinsip politik luar negeri bebas aktif, misalnya kasus dukungan terhadap Resolusi PBB tentang urusan negara lain. Posisi Indonesia masih berdiri sebagai follower dibandingkan sebagai negara yang bediri equal apalagi point maker.

Sekalipun tidak semua, terdapat peraturan perundang-undangan (UU, PP, juga Perda) terbit dalam pengaruh kepentingan kelompok usaha bisnis/kapital, atau uang pinjaman lembaga multilateral seperti IMF dan Bank Dunia, bukan memihak negara dan rakyat. Indikasi keberpihakan bukan untuk rakyat kebanyakan, antara lain pada: UU Migas, UU Privatisasi Air, UU Privatisasi BUMN, UU Penanaman Modal, atau UU No. 27/2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau- pulau Kecil di wilayah Indonesia.

PP No. 2/2008 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berasal dari Penggunaan Kawasan Hutan untuk Kepentingan Pembangunan di luar Kegiatan Kehutanan yang berlaku pada Departemen Kehutanan, ditandatangani Presiden SBY 4 Februari 2008. Menurut Siti Maemunah (dari JATAM), yang paling bersorak dikeluarkannya PP ini adalah pelaku pertambangan. Ada 14 perusahaan yang mendapat pengecualian meneruskan tambangnya di hutan lindung. Sebagian besar adalah perusahaan tambang asing sekelas Freeport (AS), Rio Tinto (Inggris), Inco (Kanada) dan Newcrest (Australia) (Kompas, 21/02/08).

Untuk konteks korupsi, hasil penelitian ICW melalui 86 media massa menyebutkan, tindak pemberantasan korupsi selama ini gagal menyentuh pejabat berkuasa, khususnya pejabat di tingkat pusat. Uang negara yang dapat dikembalikan baru sedikit. Padahal hasil audit BPK pada petengahan 2007 menemukan 5.717 kasus penyimpangan penggunaan anggaran dengan nilai penyimpangan 8.805 triliun rupiah.

Hasil jajak pendapat tahun ini, 50% responden masih merasakan tidak puas atas upaya pemerintah dalam menangani jenis kasus korupsi, politik dan pelanggaran HAM. Proses hukum seringkali harus tunduk pada arus kepentingan elite dan tersamarkan dalam spekulasi serta kepentingan pemilik kapital.

Pendidikan dan kesehatan
Saat tahun 2008, pemerintah (dalam APBN dan APBD) belum melaksanakan keputusan MK untuk menyediakan anggaran 20% untuk pendidikan.

Pemerintah tampak memaksakan agar tahun 2008 RUU Badan Usaha Pendidikan selesai dibahas di DPR, dan menjadi UU. Menurut banyak pihak, Format BPH tak ubahnya kapitalisasi pendidikan yang kelak membuka jalan bagi pihak asing untuk memegang saham sampai 49% untuk tiap satuan pendidikan.

Lemahnya akses bagi penduduk miskin. 70,85% masyarakat miskin memeroleh akses pendidikan pada jenjang menengah saja, sementara kelompok kaya 94,58%.

Konstitusi dan UU Sisdiknas mengamanatkan wajib belajar 9 tahun. Menurut Komnas Perlindungan Anak, sepanjang 2007 ada 33,9 juta anak dilanggar hak pendidikannya; 11 juta anak berusia 7-8 tahun buta huruf dan sama sekali belum pernah mengecap bangku sekolah, sisanya putus sekolah. Bila diperinci, 4.370.492 anak putus sekolah dasar, 18.296.332 anak putus sekolah menengah pertama. Adapun 11 juta sisanya (lebih dari 30%) anak buta huruf karena tak pernah bersekolah.

Indeks Pembangunan Pendidikan (IPP) menurut Laporan EFA (Education for All), dalam Global Monitoring Report 2008 oleh PBB (UNESCO)-dengan mengompilasi data pendidikan dari 129 negara di dunia-Indonesia berada pada "EDI sedang" bersama 53 negara lain. IPP Indonesia menunjukkan adanya pergeseran posisi dengan Malaysia. Jika pada tahun sebelumnya peringkat Indonesia selalu berada di atas Malaysia, kini telah di bawahnya.

World Bank menilai kondisi kesehatan Indonesia sebagai Unfinished Agenda karena di satu pihak kasus penyakit tidak menular (NCDs) terus meningkat (penyakit jantung 30% penyebab kematian di Indonesia, juga tergolong satu dari 10 angka penderita Diabetes). Penderita gizi buruk semakin bertambah. Kalau 2005 anak balita yang menderita gizi buruk sebanyak 1,8 juta jiwa, pada 2008 menjadi 4 juta jiwa. Lebih memrihatinkan lagi, 3 dari 10 anak balita di 72 kabupaten terkena busung lapar, dan 11 juta dari 31 juta anak usia sekolah kini mengalami anemia gizi.

Angka Kematian Balita (AKB) di Indonesia 30,8/1000, masih merupakan salah satu angka tertinggi di ASEAN. Angka Kematian Ibu (AKI-MMR) sebesar 224/100.000 dan merupakan tertinggi di ASEAN.

Sekitar 94% masyarakat Indonesia terkena penyakit depresi mental, mulai dari tingkat ringan hingga berat, yang berakibat munculnya perilaku amoral, pemalas, ketidakpatuhan hukum, peminta-minta dll.

Menjamurnya Rumah Sakit Swasta milik asing yang berorientasi pada profit dan menempatkan pasien kaya sebagai sasaran utama. Abai terhadap kelompok miskin.

Menurut Badan Narkotika Nasional, tiap hari di Indonesia ada 40 orang yang meninggal karena narkoba. Ada 3,6 juta pecandu narkoba di Indonesia, separoh dari jumlah itu tinggal di Jakarta. Hasil Survei BSN menunjukkan 32% dari total 3,2 juta pengguna narkoba dan obat terlarang secara nasional adalah pelajar dan mahasiswa (1.037.682 orang). Survei yang dilakukan pada 33 provinsi menunjukkan, prevalansi penyalahgunaan narkotik dalam satu tahun terakhir mencapai 5,3%. Artinya, dalam tahun terakhir, di antara 100 pelajar dan mahasiswa, terdapat 5 pemakai narkoba.

Ini adalah sedikit dari data-data dekandensi Indonesia. Semua data yang diajukan adalah sekadar gambaran tentang kondisi kenegaraan serta kebangsaan kita di akhir dan saat menempuh tahun yang baru. Selamat merefleksikan Indonesia; selamat datang tahun baru 2009 yang penuh tantangan. lind

Lukman Wibowo:
dosen dan peneliti di
AKP Widya Buana

Senin, 16 Februari 2009

Mau Meraup Dollar di Dunia Maya?

Sumber: http://www.kompas.com/read/xml/2009/02/11/22170833/mau.meraup.dollar.di.dunia.maya

INTERNET- kini menjadi wahana bagi peselancar dunia maya untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya tanpa harus berjerih lelah. Dengan memanfaatkan fasilitas pemasang iklan, pemilik website atau weblog pun menikmati kucuran dana dari setiap pengunjung yang mampir di domain-nya.
Cukup dengan mendaftarkan website atau weblog di program penyedia iklan milik Google, Adsense, uang terus mengalir sekalipun pemiliknya sedang tidur. Setidaknya itu gambaran besar mereka yang mau memanfaatkan teknologi yang semakin maju dan mudah.
Demikian dipaparkan oleh penulis buku Langkah Mudah Meraup Dollar Lewat Internet, Taufik Hidayat, dalam unjuk bincang di Kompas Gramedia Edu and Book Fair 2009 di Kota Semarang, Rabu (11/2). Taufik menjelaskan, lewat Adsense, pemasukan didapat dari setiap iklan yang diklik oleh pengunjung situs web.
Sistem bayar per klik inilah yang menghadirkan tantangan bagi para blogger untuk menghadirkan pengunjung sebanyak-banyaknya. Sebelumnya, Google akan menyeleksi layak tidaknya sebuah situs web dipasang iklan. Setelah itu, langkah selanjutnya tentu memperbanyak pengunjung.
Caranya, bergabung dengan komunitas dengan minat yang sama, atau memanfaatkan jejaring sosial, seperti Friendster atau Facebook. "Selain itu, buat judul-judul yang menarik perhatian. Buat orang penasaran lebih dulu," kata Taufik yang juga pengajar Magister Manajemen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Bank BPD Jateng.
Tidak hanya itu, kelebihan Adsense, menurut Taufik, adalah iklan yang dipasang sesuai dengan isi blog sehingga kemungkinan pengunjung mengklik iklan lebih besar. Meskipun demikian, pemilik blog tetap harus bekerja keras untuk memperbarui isi blog atau website-nya secepat mungkin agar pengunjung semakin tertarik.
"Kalau rajin meng-update, setiap bulan penghasilan pemilik blog berkisar 100-700 dollar AS tanpa harus berkeringat," tutur Taufik.
Lukni Maulana (24), mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang mengungkapkan, dirinya belum mengetahui cara memasang iklan di blog, padahal sudah banyak orang yang menyarankan dia untuk memasang iklan. "Ternyata caranya sangat mudah, saya akan langsung mencoba," ucapnya.

Pernikahan

Pernikahan
28 Januari 2009 11:30:18

Oleh: A. Mustofa Bisri

Pernikahan merupakan salah satu sunnah Rasul SAW dan merupakan anjuran agama. Pernikahan yang disebut dalam Quran sebagai miitsaaqun ghaliizh, perjanjian agung, bukanlah sekedar upacara dalam rangka mengikuti tradisi, bukan semata-mata sarana mendapatkan keturunan, dan apalagi hanya sebagai penyaluran libido seksualitas atau pelampiasan nafsu syahwat belaka.

Penikahan adalah amanah dan tanggungjawab. Bagi pasangan yang masing-masing mempunyai niat tulus untuk membangun mahligai kehidupan bersama dan menyadari bahwa pernikahan ialah tanggungjawab dan amanah, maka pernikahan mereka bisa menjadi sorga. Apalagi, bila keduanya saling menyintai.


Nabi Muhammad SAW telah bersabda yang artinya, “Perhatikanlah baik-baik istri-istri kalian. Mereka di samping kalian ibarat titipan, amanat yang harus kalian jaga. Mereka kalian jemput melalui amanah Allah dan kalimahNya. Maka pergaulilah mereka dengan baik, jangan kalian lalimi, dan penuhilah hak-hak mereka.

Ketika berbicara tentang tanggungjawab kita, Rasulullah SAW antara lain juga menyebutkan bahwa “suami adalah penggembala dalam keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas gembalaannya dan isteri adalah penggembala dalam rumah suaminya dan bertanggungjawab atas gembalaannya.”

Begitulah, laki-laki dan perempuan yang telah diikat atas nama Allah dalam sebuah pernikahan, masing-masing terhadap yang lain mempunyai hak dan kewajiban. Suami wajib memenuhi tanggungjawabnya terhadap keluarga dan anak-anaknya, di antaranya yang terpenting ialah mempergauli mereka dengan baik. Istri dituntut untuk taat kepada suaminya dan mengatur rumah tangganya.

Masing-masing dari suami-isteri memikul tanggung jawab bagi keberhasilan perkawinan mereka untuk mendapatkan ridha Tuhan mereka. Apabila masing-masing lebih memperhatikan dan melaksanakan kewajibannya terhadap pasangannya daripada menuntut haknya saja, Insya Allah, keharmonisan dan kebahagian hidup mereka akan lestari sampai Hari Akhir. Sebaliknya, apabila masing-masing hanya melihat haknya sendiri karena merasa memiliki kelebihan atau melihat kekurangan dari yang lain, maka kehidupan mereka akan menjadi beban yang sering kali tak tertahankan.

Masing-masing, laki-laki dan perempuan, secara fitri mempunyai kelebihan dan kekurangannnya sendiri-sendiri. Kelebihan-kelebihan itu bukan untuk diperbanggakan atau diperirikan. Kekurangan-kekurang pun bukan untuk diperejekkan atau dibuat merendahkan. Tapi semua itu merupakan peluang bagi kedua pasangan untuk saling melengkapi. Kedua suami-isteri bersama-sama berjuang membangun kehidupan keluarga mereka dengan akhlak yang mulia dan menjaga keselamatan dan keistiqamahannya selalu. Dengan demikian akan terwujudlah kebahagian hakiki di dunia maupun di akhirat kelak, Insya Allah.

Meski Krisis, Ekonomi Rakyat Tetap Jalan

Sumber: WWW.gusdur.net

Krisis ekonomi telah menghancurkan banyak perusahaan besar di Indonesia, walau demikian perekonomian yang dikelola rakyat masih tetap berjalan. Karena itu KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berpendapat agar rakyat tidak khawatir jika modal asing belum mau menanamkan modalnya di Indonesia.

Karena masih ada cara selain menunggu pihak asing menanamkan modalnya di Indonesia. Caranya dengan membangun potensi ekonomi rakyat Indonesia. Populasi rakyat Indonesia yang besar dapat dijadikan pasaran dalam negeri. "Jangan bertumpu pada ekspor saja," kata Gus Dur.

Gus Dur menyampaikan hal itu saat membicarakan ceramah di depan Masyarakat Nelayan Lumpur, di Gresik Jumat(3/5) siang, dalam Haul Akbar Kyai Abdullah Sindojoyo ke 392. Acara yang diselenggarakan di tepi pantai Gresik itu diselenggarakan oleh Paguyuban Nelayan Sindujoyo. Turut menjadi pembicara pada Panglima Pasukan Berani Mati, KH Nuril Arifin.

Gus Dur mengingatkan jika ekonomi rakyat digerakkan dengan sungguh-sungguh, maka bangsa Indonesia tidak perlu berhutang pada IMF dan Bank Dunia. Potensi rakyat sendiri akan sanggup memenuhi kebutuhannya.

"Upaya pembangunan Indonesia jika hanya bertumpu pada penegakkan demokrasi dan hukum, tanpa memperhatikan sistem ekonomi yang sekarang timpang, yang hanya mementingkan konglomerat tidak akan ada hasilnya," kata Gus Dur.

Yang paling penting, jelas Gus Dur, bagi pengembangan ekonomi rakyat adalah dukungan modal melalui kredit murah bagi usaha kecil dan menengah.

Dirinya menyatakan penyebab kelumpuhan ekonomi rakyat di Indonesia adalah banyaknya pungutan liar. "Padahal berjalannya ekonomi rakyat itu dasarnya kejujuran dan keterbukaan," kata Gus Dur.


Apriori
Hal lain yang harus dibangun rakyat Indonesia adalah pembangunan akhlaq atau tata krama bangsa. Dirinya memaparkan, contoh hilangnya tata krama bangsa justru diperlihatkan oleh sikap legislatif. "Belum apa-apa legislatif sudah apriori terhadap eksekutif. Laporan pertanggungjawaban belum dibuat, mereka (legislatif) ramai-ramai sudah menyatakan menolak," kata Gus Dur.

Pendidikan Nilai Ekologi Untuk Anak Didik

Oleh: Lukni Maulana
(Tulisan ini pernah termuat di Suara Merdeka)
Sistem pendidikan Indonesia lebih banyak dibangun atas dekrit-kebijakan ideologi penguasa, bukan lahir dari kesadaran masyarakat dan ahli pendidikan. Jadi Pendidikan sekarang telah mengalami penyakit yang begitu serius dan perlu penanganan yang sistematis, karena pendidikan sebagai proses pembelajaran dan bukan kenikmatan yang hanya di nikmati oleh penguasa dan lapisan sosial tertentu.
Penanaman nilai-nilai kepada anak didik sangat di perlukan sebagai upaya membangun kesadaran untuk mengetahui siapa dirinya dan lingkungan hidupnya. Pendidikan nilai merupakan pendidikan yang menekankan keseluruhan aspek sebagai pengajaran dan bimbingan kepada peserta didik agar menyadari nilai kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Sebab pendidikan nilai sangat di perlukan untuk kemajuan di dunia pendidikan, karena sekarang pendidikan hanya di fokuskan sebatas moral kognitif bukan moral learning.
Maka jiwa pendidikan perlu di kembalikan yaitu sebagai pembelajaran yang menanamkan nilai-nilai, termasuk penanaman nilai lingkungan kepada anak didik. Pendidikan lingkungan sebagai jalan untuk memberikan pengenalan dan kesadaran terhadap lingkungan. Aspek etika, moral tidak semata-mata diberikan hanya untuk berinteraksi antar sesama, akan tetapi juga penanaman nilai terhadap lingkungan hidupnya.
Pendidikan Nilai Lingkungan
Problem pencemaran lingkungan banyak mendapat sorotan, karena telah menimpa penghuni dunia masa kini dan generasi yang akan datang. Kalau ditelusuri, faktor utama terjadinya perusakan lingkungan akibat penggunaan secara besar-besaran produk-produk teknologi modern. Aktivitas manusia di bidang industri yang membakar produk hutan ini telah menghasilkan semburan miliaran ton partikel, gas karbondioksida serta klorofluorokarbon. Emisi karbon ini ditimbulkan dari pembakaran bahan bakar fosil yang tak dapat diperbaruhi, seperti batu bara, gas, dan minyak bumi. Kerusakan hutan khususnya di Indonesia sebagai paru-paru dunia memiliki andil cukup besar sebagai pemicu perubahan iklim dan pemanasan global akibat dari menipisnya lapisan ozon.
Kondisi lingkungan dengan dirusaknya hutan, pembakaran, illegal logging, lahan petanian di sulap menjadi area industri dan perumahan. Telah membawa dampak negatif seperti kekeringan. Indonesia merupakan salah satu Negara yang sangat merasakan dampak kerusakan sistem cuaca. Kerusakan sistem cuaca tersebut telah menimbulkan anomaly iklim berupa kenaikan suhu 1-1,5 derajat celcius di Afrika, sehingga masa udara kering yang berhembus dari Australia bergerak ke hutan Afrika. Fenomena ini mengakibatkan kekeringan di kawasan ekuator, termasuk di dalamnya Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan sebagian Sumatra.
Perubahan iklim akan mempersulit Negara berkembang sepeti Indonesia untuk mencapai sasaran pembangunan berkelanjutan dan tujuan pembangunan milenium atau millennium development goals / MDG’s. Perubahan iklim akan mengancam ketersediaan sumber daya alam, menambah parah persoalan yang dihadapi, menciptakan persoalan baru, dan membawa upaya pencarian solusi makin sulit dan mahal.
Sudah jelas diketahui bahwa kerusakan alam dan lingkungan hidup yang dasyat bukan di sebabkan oleh penuaan alam itu sendiri tetapi justru diakibatkan oleh tangan-tangan yang selalu berdalih memanfaatkannya, yang sesungguhnya sering kali mengeksploitasi tanpa mempedulikan kerusakan lingkungan. Krisis lingkungan hidup dan kemanusiaan harus menjadi pusat perhatian bagi pemerintah, masyarakat, ahli pendidikan dan setiap komunitas keagamaan baik LSM maupun organisasi keagamaan.
Fenomena tersebut membuktikan bahwa perlu adanya rekonstruksi baru di bidang pendidikan untuk menghadapi tantangan zaman global. Di era postmodern segala sistem dari berbagai ideologi perlu adanya konstruksi baru pada arah epistemologi pada kususnya di bidang pendidikan. Format pendidikan yang sesuai kondisi di atas, perlu menyajkan salah satu strategi dengan mengimplementasikan pendidikan nilai ekologi yang berbasis agama sebagai sumber penanaman jiwa anak didik untuk bisa mengenali arti kehidupan sebenarnya.
Karena pendidikan merupakan jenjang awal sesorang mengenal dirinya, dengan mengetahui siapa dirinya ia akan memahami tujuan hidupnya, sebab pendidikan merupakan upaya mengintegrasikan fungsi di dunia. Pendidikan nilai lingkungan merupakan proses belajar mengajar yang dapat menghasilkan perubahan tingkah laku dan sikap untuk menghargai lingkungan hidup dari mikrokosmos hingga makrokosmos. Maka hal ini bukan hanya penyampaian pesan berupa mata pelajaran, melainkan menanamkan sikap dan nilai siswa yang sedang belajar untuk mengenali siapa dirinya serta di mana ia tinggal. Di harapakan dengan penanaman pendidikan nilai lingkungan hidup siswa mampu memperaktekan, melestarikan dan memanfaatkan lingkungan sesuai kebutuhan. Siswa mampu mengetahui peran dan tanggung jawabnya yaitu hubungan tiga dimensi antara Tuhan, alam dan manusia. Ketiga hubungan itu yaitu pertama, hubungan teosentris atau hubungan dengan Tuhannya yang berarti bahwa setiap manusia adalah mahluk yang tercipta untuk beribadah dan menghambakan dirinya. Kedua, hubungan antroposentris yaitu hubungan dengan manusia yang memiliki arti setiap kehidupan manusia tidak terlepas dengan peran dan kedudukan manusia lainya melalui interaksi sosial, komunikasi dan sosialisasi. Ketiga, hubungan ekosentris yaitu hubungan dengan lingkungan yang berarti bahwa manusia memiliki peran dan fungsi untuk menjaga dan merawat alam lingkungan hidupnya.

Menggerakkan Nasionalisme dalam Islam

Oleh Lukma Wibowo
Dosen AKP Widya Buana Semarang

Sebagian dari kita mungkin tidak menyadari tentang keunikan umat Islam bangsa ini. Indonesia dapat dikatakan merupakan satu-satunya bangsa muslim yang menggunakan aksara latin untuk bahasa nasionalnya. Selain Indonesia, semua bangsa muslim di belahan dunia mempergunakan huruf arab, kecuali dua: Turki karena nasionalisasi oleh Musthafa Kemal dan Bangladeh dengan huruf Bengali yang tetap dipertahankan sebagai bagian dari nasionalismenya.
Maka, dalam konteks ini—bagi Nurcholis Madjid (1992 : 5)—Indonesia itu sangat unik, dan termasuk komunitas muslim yang paling sedikit ter-“arab”-kan. Komunitas muslim di Indonesia berada dalam lingkungan budaya besar melayu (Malayu-Islamic Civilization). Karakter Indonesia ditunjukkan dengan model keberislaman yang begitu kaya berbagai macam citarasa kebudayaan yang pernah muncul di dunia.
Artinya dari sudut ini, untuk keislaman di Indonesia, salah satu point yang terpenting adalah bagaimana adanya penegakan moralitas kebangsaan (nationalism morality) atas nilai-nilai Islam itu sendiri.

Pendistorsian definisi
Nasionalisme dan Islam memang mempunyai definisinya sendiri-sendiri. Akan tetapi keduanya dapat berjalan dalam kepentingan positif yang sama. Adagium cinta tanah air adalah sebagian dari iman, menunjukkan prinsip yang menghargai “lokalitas ruang dan waktu” dimana bangsa itu hidup, dengan tetap mengindahkan nilai universal Islam yang rahmatan lil alamin. Namun pada riilnya, kita banyak dihadapkan persoalan politik kekuasaan—baik kepentingan penguasa negara (internal) maupun internasional.
Secara internal kenegaraan, kenyataannya makna nasionalisme acapkali terlihat sebagai sebuah proses yang ”digurui” oleh penguasa. Contohnya saja, definisi nasionalisme oleh Orde Baru tidak berangkat dari visi keindonesiaan yang terbuka. Nasionalisme di masa Orba dibangun atas perekonomian kapitalisme internasional. Menurut Orba, ekonomi adalah parameter utama bagi stabilitas politik, dan tesis itu diukur manakala Orde Lama terperosok lantaran tata perekonomian negara yang amat lemah.
Dan kekerasan sosial-politik yang dibingkai atas nama Asas Tunggal Pancasila (1985) dan kekerasan fisik oleh militerisme, benar-benar telah mengubur visi keislaman-kebangsaan dalam nasionalisme Indonesia kala itu.
Sementara di era ini, model nasionalisme ala Orba belum sepenuhnya hilang. Beberapa daerah masih ada yang ingin memisahkan diri dari NKRI. Ini tentu sebuah kritik, bahwa kampanye nasionalisme oleh pemerintah kurang bersendikan pada anasir keadilan sosial. Selebihnya, definisi nasionalisme masih belum beranjak dari dominasi kekuasaan, terutama elit pemodal dan birokrat.

Kepentingan kapitalisme
Dari segi internasionalisasi, kapitalisme global berkepentingan hendak menjadikan semua bangsa di dunia sebagai—meminjam istilah Alexander Kojeve, “masyarakat homogen universal”—dalam ideologi materialisme.
Tiga strategi kapitalisme (yaitu: Ideologisasi politik melalui demokrasi liberal, cengkeraman ekonomi melalui neoliberalisme, serta penyeragaman budaya melalui pola kosumerisme) bekerja demi ke arah masyarakat tersebut. Melalui gerakan globalisasinya, potensi keanekaragaman kultural dan local wisdom, dengan sendirinya tercerabut dari akar kehidupan berbangsa kita.
Dari titik permasalahan inilah, seharusnya Islam di Indonesia hadir bukan hanya sebagai estetik simbolisasi, melainkan sebagai penguatan atas nilai-nilai etik nasionalisme dalam proses kebangsaannya.

Globalisasi vs universalisasi Islam
Universalisasi nilai Islam dan globalisasi, pada pengertian berupaya melintasi sekat-sekat apapun di belahan dunia, mungkin bisa dikatakan sama. Tetapi, keduanya saling berseberangan dalam tujuan yang ingin dicapainya.
Globalisasi mengandung ideologi materialisme yang berambisi menjadikan seluruh manusia masuk dalam kerangka pandang kapitalistik. Segalanya diukur melalui kepuasan ragawi, dan pemenuhan ekonomi ansich. Dalam konteks kejiwaan, materialisme sebenarnya tidak memerdekakan dari nafsu duniawi, melainkan pada ujungnya manusia akan terbelenggu oleh hasratnya untuk berkuasa (will to power). Secara otomatis, kerakusan pada segala hal, akan melanda manusia. Korupsi, eksploitasi alam, dan pola konsumtif, hanyalah satu dari sekian efek negatif pengaruh ideologi materialisme.
Berbeda dengan globalisasi, universalisasi Islam adalah ikhtiyar untuk menanamkan kesadaran moral pada manusia untuk menunaikan kewajibannya sebagai khalifah. Misi kekhalifahan itu bermaksud menjadikan dunia sejahtera dalam asas ketuhanan, keadaban, serta egaliterian—dan tentu saja menghargai keanekaragaman sosial budaya manusia di berbagai wilayah dunia.
Di samping itu, perlu digarisbawahi bahwa universalisasi Islam bukan bertendensi pada penyeragaman identitas beragama, melainkan umat muslim hanya berkomitmen menghadirkan nuansa keilahian bagi seluruh pluralitas bangsa.

Menggerakkan nasionalisme Islam
Semantik pendefinisian Islam niscaya mengalami penekanan implikasi yang berbeda dimana suatu bangsa itu hidup dan berkembang. Demikian pula pada definisi nasionalisme. Islam yang berarti “penyelamatan” dan nation (bhs Latin, natio) yang bermakna “tanah kelahiran”, dalam konteks kekinian, dapat disatukan misinya. Oleh karenanya, jika definisi nasionalisme Indonesia di arahkan pada usaha "menyelamatkan tanah air”, misi ini sama sekali tidak berlawanan dengan visi keislaman universal.
Untuk itu, kiranya ada dua agenda umum yang mesti dipertegas dalam konsepsi nasionalisme Islam Indonesia yakni:
Pertama, umat Islam Indonesia harus tetap menyatakan “negara ini ada”. Negara nasion Indonesia yang sudah terbukti korup, tidak serta merta lalu kita biarkan lenyap dari panggung teritorial dunia. Justeru, adalah tugas kaum muslim untuk menghapus praktik-praktik eksploitatif dan KKN dari sistem pemerintahan. Nasionalisme harus diimplementasikan pada partisipasi sosial-politik kita.
Di saat yang sama, nasionalisme di dalam Islam sepatutnya tumbuh sebagai perjuangan memperkuat pribadi yang sejati. Pribadi bangsa yang besar namun bersahaja, dan kaya kebudayaan tapi memiliki sifat welah asih yang mendalam. Bukan bangsa yang korup, tak mandiri, konsumtif, dan menjadi ekor dari kekuasaan neoliberalisme internasional, seperti saat ini.
Kedua, ruang-ruang pengambilan kebijakan publik yang terbuka saat ini dapat digunakan untuk membantu pemerintah keluar dari tekanan neoliberalisme yang sedang melakukan proses stateless. Karena itu, diperlukan perlawanan bersama (common platform) dari seluruh elemen bangsa (nations) terhadap kekuatan-kekuatan penyangga neoliberalistik.
Lebih lanjut, nasion Indonesia harus dimaknai sebagai medan jihad dalam berislam. Agama Islam memang tidak mengenal batas-batas teritorial dalam perjuangannya. Namun sebagai wilayah bangsa muslim terbesar di dunia, Indonesia pantas dibela sebagai konsep iman yang mencakup cinta pada tanah air. Artinya, nasionalisme diperkuat di ”medan teritorial” Indonesia dalam kerangka dakwah Islam yang bervisi mensejahterakan alam semesta.

Jumat, 06 Februari 2009

STARTING POINT TOWARD A CHANGE


Oleh: Retno Aprillia*

One evidence which will never cheat is your lifeLook for at neighbor’s garden which in flowerSurely, You never find itTogetherness, sincerity in struggling, and sacrifice is indivisible matter(Femyla As-Sa’diyah; 2008)An endless change is how we act consciously and head for detected, survive and make a change is my first aim live here. Now, we are faced with the real common enemy and automatically we must be alert in this world.
HMI conveys many values that can make somebody feel that this is their real life. Real evidence that we require to make a move is caused by a grind and injustice in all aspect. Every society own the values believed with. Dimiciling value in a society not only as life guide but also as meaning giver for charitable its member. Harmony value can differentiate which is there are in a society become a beautiful life panorama. Therefore, values is always viewed as vitally something even hold high by all member a society.I
f we express our felling when join in this community, no words can be said. Students in University usually have different perception when look into the organization itself, even they don’t care about their responsibility. When we join with a community and association, firstly we have the same mission and goal of course, from that point I feel HMI is the suitable community of Islamic Students that can explore their capability in managing time, people, system, etc.
But the basic thing that can build our awareness is our belief. Islam give the biggest contribution in human being QS. Ali Imron : 19This verse tells that Islam is the best of life. Allah declares that Islam the perfect religion for Human being and the universe.
Ulil Albab as name that given for a human ask us to think and do with a reference. For example: We must know why we live in this world, what is our aim, and what should we do?? That questions must be answered by yourself of course with Tauhid perceptions. What a beautiful ISLAM it is. So, what will you wait for now. Let join us if you care and aware about your duty in this world as a human.
Because a change never be done by yourself and now. Save struggling for Allah. Last but not least, I just want to say thank you for Allah that make us as family and please don’t separate us and gathered in the heaven Amin…
Thanks for all Mujahid and Mujahidah in HMI Allah blesses you and your family. Yakin Usaha Sampai…..(femyla)
* Mahasiswa IKIP PGRI Semarang dan Kader HMISemarang

Hikayat Rumah Tua

Oleh: Elly Fitriyana*
Dinding-dinding yang mulai rapuh
Atap-atap yang mulai retak
Kayu-kayu yang mulai lapuk
Rumput-rumput yang mulai tumbuh liar
Masih ku ingat kala iturumah ini begitu megah
Dinding dan balok-balok kayunya begitu kokoh
Atap tampak berkilau menantang sengatan panas dan deras hujan
Keyakinan yang terbangun dari sana
Semangat yang terbangun dari sana
Harap gemilang yang terbangun dari sana
Keberanian yang terpupuk dari sana
Bahkan rumput tak berani mengganggu malu
Malu ia hanya berani menyembul di pojok-pojok halaman

Kini... semua tlah berubah

Permukaan...segala... semua beralih rupa

namun entah bagaimana spirit dalam rumah itu

Samakah?... bertambahkah?... atau hilang barangkali

Tak ada yang tahu persis

Cobalah tanyakan hal itu

Pada rumput yang menjadi saksi perjalananyah... tanyakan!

Smg, ahad, 281203

* Perempuan Menetap di Malang
 

blogger templates | Make Money Online