Sumber: WWW.gusdur.net
Krisis ekonomi telah menghancurkan banyak perusahaan besar di Indonesia, walau demikian perekonomian yang dikelola rakyat masih tetap berjalan. Karena itu KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berpendapat agar rakyat tidak khawatir jika modal asing belum mau menanamkan modalnya di Indonesia.
Karena masih ada cara selain menunggu pihak asing menanamkan modalnya di Indonesia. Caranya dengan membangun potensi ekonomi rakyat Indonesia. Populasi rakyat Indonesia yang besar dapat dijadikan pasaran dalam negeri. "Jangan bertumpu pada ekspor saja," kata Gus Dur.
Gus Dur menyampaikan hal itu saat membicarakan ceramah di depan Masyarakat Nelayan Lumpur, di Gresik Jumat(3/5) siang, dalam Haul Akbar Kyai Abdullah Sindojoyo ke 392. Acara yang diselenggarakan di tepi pantai Gresik itu diselenggarakan oleh Paguyuban Nelayan Sindujoyo. Turut menjadi pembicara pada Panglima Pasukan Berani Mati, KH Nuril Arifin.
Gus Dur mengingatkan jika ekonomi rakyat digerakkan dengan sungguh-sungguh, maka bangsa Indonesia tidak perlu berhutang pada IMF dan Bank Dunia. Potensi rakyat sendiri akan sanggup memenuhi kebutuhannya.
"Upaya pembangunan Indonesia jika hanya bertumpu pada penegakkan demokrasi dan hukum, tanpa memperhatikan sistem ekonomi yang sekarang timpang, yang hanya mementingkan konglomerat tidak akan ada hasilnya," kata Gus Dur.
Yang paling penting, jelas Gus Dur, bagi pengembangan ekonomi rakyat adalah dukungan modal melalui kredit murah bagi usaha kecil dan menengah.
Dirinya menyatakan penyebab kelumpuhan ekonomi rakyat di Indonesia adalah banyaknya pungutan liar. "Padahal berjalannya ekonomi rakyat itu dasarnya kejujuran dan keterbukaan," kata Gus Dur.
Apriori
Hal lain yang harus dibangun rakyat Indonesia adalah pembangunan akhlaq atau tata krama bangsa. Dirinya memaparkan, contoh hilangnya tata krama bangsa justru diperlihatkan oleh sikap legislatif. "Belum apa-apa legislatif sudah apriori terhadap eksekutif. Laporan pertanggungjawaban belum dibuat, mereka (legislatif) ramai-ramai sudah menyatakan menolak," kata Gus Dur.
Krisis ekonomi telah menghancurkan banyak perusahaan besar di Indonesia, walau demikian perekonomian yang dikelola rakyat masih tetap berjalan. Karena itu KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berpendapat agar rakyat tidak khawatir jika modal asing belum mau menanamkan modalnya di Indonesia.
Karena masih ada cara selain menunggu pihak asing menanamkan modalnya di Indonesia. Caranya dengan membangun potensi ekonomi rakyat Indonesia. Populasi rakyat Indonesia yang besar dapat dijadikan pasaran dalam negeri. "Jangan bertumpu pada ekspor saja," kata Gus Dur.
Gus Dur menyampaikan hal itu saat membicarakan ceramah di depan Masyarakat Nelayan Lumpur, di Gresik Jumat(3/5) siang, dalam Haul Akbar Kyai Abdullah Sindojoyo ke 392. Acara yang diselenggarakan di tepi pantai Gresik itu diselenggarakan oleh Paguyuban Nelayan Sindujoyo. Turut menjadi pembicara pada Panglima Pasukan Berani Mati, KH Nuril Arifin.
Gus Dur mengingatkan jika ekonomi rakyat digerakkan dengan sungguh-sungguh, maka bangsa Indonesia tidak perlu berhutang pada IMF dan Bank Dunia. Potensi rakyat sendiri akan sanggup memenuhi kebutuhannya.
"Upaya pembangunan Indonesia jika hanya bertumpu pada penegakkan demokrasi dan hukum, tanpa memperhatikan sistem ekonomi yang sekarang timpang, yang hanya mementingkan konglomerat tidak akan ada hasilnya," kata Gus Dur.
Yang paling penting, jelas Gus Dur, bagi pengembangan ekonomi rakyat adalah dukungan modal melalui kredit murah bagi usaha kecil dan menengah.
Dirinya menyatakan penyebab kelumpuhan ekonomi rakyat di Indonesia adalah banyaknya pungutan liar. "Padahal berjalannya ekonomi rakyat itu dasarnya kejujuran dan keterbukaan," kata Gus Dur.
Apriori
Hal lain yang harus dibangun rakyat Indonesia adalah pembangunan akhlaq atau tata krama bangsa. Dirinya memaparkan, contoh hilangnya tata krama bangsa justru diperlihatkan oleh sikap legislatif. "Belum apa-apa legislatif sudah apriori terhadap eksekutif. Laporan pertanggungjawaban belum dibuat, mereka (legislatif) ramai-ramai sudah menyatakan menolak," kata Gus Dur.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar