SELAMAT DATANG DI WEBLOG NEGERI KEGILAAN (Menebar Cinta Menerangi Semesta)

Senin, 16 Februari 2009

Mau Meraup Dollar di Dunia Maya?

Sumber: http://www.kompas.com/read/xml/2009/02/11/22170833/mau.meraup.dollar.di.dunia.maya

INTERNET- kini menjadi wahana bagi peselancar dunia maya untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya tanpa harus berjerih lelah. Dengan memanfaatkan fasilitas pemasang iklan, pemilik website atau weblog pun menikmati kucuran dana dari setiap pengunjung yang mampir di domain-nya.
Cukup dengan mendaftarkan website atau weblog di program penyedia iklan milik Google, Adsense, uang terus mengalir sekalipun pemiliknya sedang tidur. Setidaknya itu gambaran besar mereka yang mau memanfaatkan teknologi yang semakin maju dan mudah.
Demikian dipaparkan oleh penulis buku Langkah Mudah Meraup Dollar Lewat Internet, Taufik Hidayat, dalam unjuk bincang di Kompas Gramedia Edu and Book Fair 2009 di Kota Semarang, Rabu (11/2). Taufik menjelaskan, lewat Adsense, pemasukan didapat dari setiap iklan yang diklik oleh pengunjung situs web.
Sistem bayar per klik inilah yang menghadirkan tantangan bagi para blogger untuk menghadirkan pengunjung sebanyak-banyaknya. Sebelumnya, Google akan menyeleksi layak tidaknya sebuah situs web dipasang iklan. Setelah itu, langkah selanjutnya tentu memperbanyak pengunjung.
Caranya, bergabung dengan komunitas dengan minat yang sama, atau memanfaatkan jejaring sosial, seperti Friendster atau Facebook. "Selain itu, buat judul-judul yang menarik perhatian. Buat orang penasaran lebih dulu," kata Taufik yang juga pengajar Magister Manajemen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Bank BPD Jateng.
Tidak hanya itu, kelebihan Adsense, menurut Taufik, adalah iklan yang dipasang sesuai dengan isi blog sehingga kemungkinan pengunjung mengklik iklan lebih besar. Meskipun demikian, pemilik blog tetap harus bekerja keras untuk memperbarui isi blog atau website-nya secepat mungkin agar pengunjung semakin tertarik.
"Kalau rajin meng-update, setiap bulan penghasilan pemilik blog berkisar 100-700 dollar AS tanpa harus berkeringat," tutur Taufik.
Lukni Maulana (24), mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang mengungkapkan, dirinya belum mengetahui cara memasang iklan di blog, padahal sudah banyak orang yang menyarankan dia untuk memasang iklan. "Ternyata caranya sangat mudah, saya akan langsung mencoba," ucapnya.

Pernikahan

Pernikahan
28 Januari 2009 11:30:18

Oleh: A. Mustofa Bisri

Pernikahan merupakan salah satu sunnah Rasul SAW dan merupakan anjuran agama. Pernikahan yang disebut dalam Quran sebagai miitsaaqun ghaliizh, perjanjian agung, bukanlah sekedar upacara dalam rangka mengikuti tradisi, bukan semata-mata sarana mendapatkan keturunan, dan apalagi hanya sebagai penyaluran libido seksualitas atau pelampiasan nafsu syahwat belaka.

Penikahan adalah amanah dan tanggungjawab. Bagi pasangan yang masing-masing mempunyai niat tulus untuk membangun mahligai kehidupan bersama dan menyadari bahwa pernikahan ialah tanggungjawab dan amanah, maka pernikahan mereka bisa menjadi sorga. Apalagi, bila keduanya saling menyintai.


Nabi Muhammad SAW telah bersabda yang artinya, “Perhatikanlah baik-baik istri-istri kalian. Mereka di samping kalian ibarat titipan, amanat yang harus kalian jaga. Mereka kalian jemput melalui amanah Allah dan kalimahNya. Maka pergaulilah mereka dengan baik, jangan kalian lalimi, dan penuhilah hak-hak mereka.

Ketika berbicara tentang tanggungjawab kita, Rasulullah SAW antara lain juga menyebutkan bahwa “suami adalah penggembala dalam keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas gembalaannya dan isteri adalah penggembala dalam rumah suaminya dan bertanggungjawab atas gembalaannya.”

Begitulah, laki-laki dan perempuan yang telah diikat atas nama Allah dalam sebuah pernikahan, masing-masing terhadap yang lain mempunyai hak dan kewajiban. Suami wajib memenuhi tanggungjawabnya terhadap keluarga dan anak-anaknya, di antaranya yang terpenting ialah mempergauli mereka dengan baik. Istri dituntut untuk taat kepada suaminya dan mengatur rumah tangganya.

Masing-masing dari suami-isteri memikul tanggung jawab bagi keberhasilan perkawinan mereka untuk mendapatkan ridha Tuhan mereka. Apabila masing-masing lebih memperhatikan dan melaksanakan kewajibannya terhadap pasangannya daripada menuntut haknya saja, Insya Allah, keharmonisan dan kebahagian hidup mereka akan lestari sampai Hari Akhir. Sebaliknya, apabila masing-masing hanya melihat haknya sendiri karena merasa memiliki kelebihan atau melihat kekurangan dari yang lain, maka kehidupan mereka akan menjadi beban yang sering kali tak tertahankan.

Masing-masing, laki-laki dan perempuan, secara fitri mempunyai kelebihan dan kekurangannnya sendiri-sendiri. Kelebihan-kelebihan itu bukan untuk diperbanggakan atau diperirikan. Kekurangan-kekurang pun bukan untuk diperejekkan atau dibuat merendahkan. Tapi semua itu merupakan peluang bagi kedua pasangan untuk saling melengkapi. Kedua suami-isteri bersama-sama berjuang membangun kehidupan keluarga mereka dengan akhlak yang mulia dan menjaga keselamatan dan keistiqamahannya selalu. Dengan demikian akan terwujudlah kebahagian hakiki di dunia maupun di akhirat kelak, Insya Allah.

Meski Krisis, Ekonomi Rakyat Tetap Jalan

Sumber: WWW.gusdur.net

Krisis ekonomi telah menghancurkan banyak perusahaan besar di Indonesia, walau demikian perekonomian yang dikelola rakyat masih tetap berjalan. Karena itu KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berpendapat agar rakyat tidak khawatir jika modal asing belum mau menanamkan modalnya di Indonesia.

Karena masih ada cara selain menunggu pihak asing menanamkan modalnya di Indonesia. Caranya dengan membangun potensi ekonomi rakyat Indonesia. Populasi rakyat Indonesia yang besar dapat dijadikan pasaran dalam negeri. "Jangan bertumpu pada ekspor saja," kata Gus Dur.

Gus Dur menyampaikan hal itu saat membicarakan ceramah di depan Masyarakat Nelayan Lumpur, di Gresik Jumat(3/5) siang, dalam Haul Akbar Kyai Abdullah Sindojoyo ke 392. Acara yang diselenggarakan di tepi pantai Gresik itu diselenggarakan oleh Paguyuban Nelayan Sindujoyo. Turut menjadi pembicara pada Panglima Pasukan Berani Mati, KH Nuril Arifin.

Gus Dur mengingatkan jika ekonomi rakyat digerakkan dengan sungguh-sungguh, maka bangsa Indonesia tidak perlu berhutang pada IMF dan Bank Dunia. Potensi rakyat sendiri akan sanggup memenuhi kebutuhannya.

"Upaya pembangunan Indonesia jika hanya bertumpu pada penegakkan demokrasi dan hukum, tanpa memperhatikan sistem ekonomi yang sekarang timpang, yang hanya mementingkan konglomerat tidak akan ada hasilnya," kata Gus Dur.

Yang paling penting, jelas Gus Dur, bagi pengembangan ekonomi rakyat adalah dukungan modal melalui kredit murah bagi usaha kecil dan menengah.

Dirinya menyatakan penyebab kelumpuhan ekonomi rakyat di Indonesia adalah banyaknya pungutan liar. "Padahal berjalannya ekonomi rakyat itu dasarnya kejujuran dan keterbukaan," kata Gus Dur.


Apriori
Hal lain yang harus dibangun rakyat Indonesia adalah pembangunan akhlaq atau tata krama bangsa. Dirinya memaparkan, contoh hilangnya tata krama bangsa justru diperlihatkan oleh sikap legislatif. "Belum apa-apa legislatif sudah apriori terhadap eksekutif. Laporan pertanggungjawaban belum dibuat, mereka (legislatif) ramai-ramai sudah menyatakan menolak," kata Gus Dur.

Pendidikan Nilai Ekologi Untuk Anak Didik

Oleh: Lukni Maulana
(Tulisan ini pernah termuat di Suara Merdeka)
Sistem pendidikan Indonesia lebih banyak dibangun atas dekrit-kebijakan ideologi penguasa, bukan lahir dari kesadaran masyarakat dan ahli pendidikan. Jadi Pendidikan sekarang telah mengalami penyakit yang begitu serius dan perlu penanganan yang sistematis, karena pendidikan sebagai proses pembelajaran dan bukan kenikmatan yang hanya di nikmati oleh penguasa dan lapisan sosial tertentu.
Penanaman nilai-nilai kepada anak didik sangat di perlukan sebagai upaya membangun kesadaran untuk mengetahui siapa dirinya dan lingkungan hidupnya. Pendidikan nilai merupakan pendidikan yang menekankan keseluruhan aspek sebagai pengajaran dan bimbingan kepada peserta didik agar menyadari nilai kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Sebab pendidikan nilai sangat di perlukan untuk kemajuan di dunia pendidikan, karena sekarang pendidikan hanya di fokuskan sebatas moral kognitif bukan moral learning.
Maka jiwa pendidikan perlu di kembalikan yaitu sebagai pembelajaran yang menanamkan nilai-nilai, termasuk penanaman nilai lingkungan kepada anak didik. Pendidikan lingkungan sebagai jalan untuk memberikan pengenalan dan kesadaran terhadap lingkungan. Aspek etika, moral tidak semata-mata diberikan hanya untuk berinteraksi antar sesama, akan tetapi juga penanaman nilai terhadap lingkungan hidupnya.
Pendidikan Nilai Lingkungan
Problem pencemaran lingkungan banyak mendapat sorotan, karena telah menimpa penghuni dunia masa kini dan generasi yang akan datang. Kalau ditelusuri, faktor utama terjadinya perusakan lingkungan akibat penggunaan secara besar-besaran produk-produk teknologi modern. Aktivitas manusia di bidang industri yang membakar produk hutan ini telah menghasilkan semburan miliaran ton partikel, gas karbondioksida serta klorofluorokarbon. Emisi karbon ini ditimbulkan dari pembakaran bahan bakar fosil yang tak dapat diperbaruhi, seperti batu bara, gas, dan minyak bumi. Kerusakan hutan khususnya di Indonesia sebagai paru-paru dunia memiliki andil cukup besar sebagai pemicu perubahan iklim dan pemanasan global akibat dari menipisnya lapisan ozon.
Kondisi lingkungan dengan dirusaknya hutan, pembakaran, illegal logging, lahan petanian di sulap menjadi area industri dan perumahan. Telah membawa dampak negatif seperti kekeringan. Indonesia merupakan salah satu Negara yang sangat merasakan dampak kerusakan sistem cuaca. Kerusakan sistem cuaca tersebut telah menimbulkan anomaly iklim berupa kenaikan suhu 1-1,5 derajat celcius di Afrika, sehingga masa udara kering yang berhembus dari Australia bergerak ke hutan Afrika. Fenomena ini mengakibatkan kekeringan di kawasan ekuator, termasuk di dalamnya Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan sebagian Sumatra.
Perubahan iklim akan mempersulit Negara berkembang sepeti Indonesia untuk mencapai sasaran pembangunan berkelanjutan dan tujuan pembangunan milenium atau millennium development goals / MDG’s. Perubahan iklim akan mengancam ketersediaan sumber daya alam, menambah parah persoalan yang dihadapi, menciptakan persoalan baru, dan membawa upaya pencarian solusi makin sulit dan mahal.
Sudah jelas diketahui bahwa kerusakan alam dan lingkungan hidup yang dasyat bukan di sebabkan oleh penuaan alam itu sendiri tetapi justru diakibatkan oleh tangan-tangan yang selalu berdalih memanfaatkannya, yang sesungguhnya sering kali mengeksploitasi tanpa mempedulikan kerusakan lingkungan. Krisis lingkungan hidup dan kemanusiaan harus menjadi pusat perhatian bagi pemerintah, masyarakat, ahli pendidikan dan setiap komunitas keagamaan baik LSM maupun organisasi keagamaan.
Fenomena tersebut membuktikan bahwa perlu adanya rekonstruksi baru di bidang pendidikan untuk menghadapi tantangan zaman global. Di era postmodern segala sistem dari berbagai ideologi perlu adanya konstruksi baru pada arah epistemologi pada kususnya di bidang pendidikan. Format pendidikan yang sesuai kondisi di atas, perlu menyajkan salah satu strategi dengan mengimplementasikan pendidikan nilai ekologi yang berbasis agama sebagai sumber penanaman jiwa anak didik untuk bisa mengenali arti kehidupan sebenarnya.
Karena pendidikan merupakan jenjang awal sesorang mengenal dirinya, dengan mengetahui siapa dirinya ia akan memahami tujuan hidupnya, sebab pendidikan merupakan upaya mengintegrasikan fungsi di dunia. Pendidikan nilai lingkungan merupakan proses belajar mengajar yang dapat menghasilkan perubahan tingkah laku dan sikap untuk menghargai lingkungan hidup dari mikrokosmos hingga makrokosmos. Maka hal ini bukan hanya penyampaian pesan berupa mata pelajaran, melainkan menanamkan sikap dan nilai siswa yang sedang belajar untuk mengenali siapa dirinya serta di mana ia tinggal. Di harapakan dengan penanaman pendidikan nilai lingkungan hidup siswa mampu memperaktekan, melestarikan dan memanfaatkan lingkungan sesuai kebutuhan. Siswa mampu mengetahui peran dan tanggung jawabnya yaitu hubungan tiga dimensi antara Tuhan, alam dan manusia. Ketiga hubungan itu yaitu pertama, hubungan teosentris atau hubungan dengan Tuhannya yang berarti bahwa setiap manusia adalah mahluk yang tercipta untuk beribadah dan menghambakan dirinya. Kedua, hubungan antroposentris yaitu hubungan dengan manusia yang memiliki arti setiap kehidupan manusia tidak terlepas dengan peran dan kedudukan manusia lainya melalui interaksi sosial, komunikasi dan sosialisasi. Ketiga, hubungan ekosentris yaitu hubungan dengan lingkungan yang berarti bahwa manusia memiliki peran dan fungsi untuk menjaga dan merawat alam lingkungan hidupnya.

Menggerakkan Nasionalisme dalam Islam

Oleh Lukma Wibowo
Dosen AKP Widya Buana Semarang

Sebagian dari kita mungkin tidak menyadari tentang keunikan umat Islam bangsa ini. Indonesia dapat dikatakan merupakan satu-satunya bangsa muslim yang menggunakan aksara latin untuk bahasa nasionalnya. Selain Indonesia, semua bangsa muslim di belahan dunia mempergunakan huruf arab, kecuali dua: Turki karena nasionalisasi oleh Musthafa Kemal dan Bangladeh dengan huruf Bengali yang tetap dipertahankan sebagai bagian dari nasionalismenya.
Maka, dalam konteks ini—bagi Nurcholis Madjid (1992 : 5)—Indonesia itu sangat unik, dan termasuk komunitas muslim yang paling sedikit ter-“arab”-kan. Komunitas muslim di Indonesia berada dalam lingkungan budaya besar melayu (Malayu-Islamic Civilization). Karakter Indonesia ditunjukkan dengan model keberislaman yang begitu kaya berbagai macam citarasa kebudayaan yang pernah muncul di dunia.
Artinya dari sudut ini, untuk keislaman di Indonesia, salah satu point yang terpenting adalah bagaimana adanya penegakan moralitas kebangsaan (nationalism morality) atas nilai-nilai Islam itu sendiri.

Pendistorsian definisi
Nasionalisme dan Islam memang mempunyai definisinya sendiri-sendiri. Akan tetapi keduanya dapat berjalan dalam kepentingan positif yang sama. Adagium cinta tanah air adalah sebagian dari iman, menunjukkan prinsip yang menghargai “lokalitas ruang dan waktu” dimana bangsa itu hidup, dengan tetap mengindahkan nilai universal Islam yang rahmatan lil alamin. Namun pada riilnya, kita banyak dihadapkan persoalan politik kekuasaan—baik kepentingan penguasa negara (internal) maupun internasional.
Secara internal kenegaraan, kenyataannya makna nasionalisme acapkali terlihat sebagai sebuah proses yang ”digurui” oleh penguasa. Contohnya saja, definisi nasionalisme oleh Orde Baru tidak berangkat dari visi keindonesiaan yang terbuka. Nasionalisme di masa Orba dibangun atas perekonomian kapitalisme internasional. Menurut Orba, ekonomi adalah parameter utama bagi stabilitas politik, dan tesis itu diukur manakala Orde Lama terperosok lantaran tata perekonomian negara yang amat lemah.
Dan kekerasan sosial-politik yang dibingkai atas nama Asas Tunggal Pancasila (1985) dan kekerasan fisik oleh militerisme, benar-benar telah mengubur visi keislaman-kebangsaan dalam nasionalisme Indonesia kala itu.
Sementara di era ini, model nasionalisme ala Orba belum sepenuhnya hilang. Beberapa daerah masih ada yang ingin memisahkan diri dari NKRI. Ini tentu sebuah kritik, bahwa kampanye nasionalisme oleh pemerintah kurang bersendikan pada anasir keadilan sosial. Selebihnya, definisi nasionalisme masih belum beranjak dari dominasi kekuasaan, terutama elit pemodal dan birokrat.

Kepentingan kapitalisme
Dari segi internasionalisasi, kapitalisme global berkepentingan hendak menjadikan semua bangsa di dunia sebagai—meminjam istilah Alexander Kojeve, “masyarakat homogen universal”—dalam ideologi materialisme.
Tiga strategi kapitalisme (yaitu: Ideologisasi politik melalui demokrasi liberal, cengkeraman ekonomi melalui neoliberalisme, serta penyeragaman budaya melalui pola kosumerisme) bekerja demi ke arah masyarakat tersebut. Melalui gerakan globalisasinya, potensi keanekaragaman kultural dan local wisdom, dengan sendirinya tercerabut dari akar kehidupan berbangsa kita.
Dari titik permasalahan inilah, seharusnya Islam di Indonesia hadir bukan hanya sebagai estetik simbolisasi, melainkan sebagai penguatan atas nilai-nilai etik nasionalisme dalam proses kebangsaannya.

Globalisasi vs universalisasi Islam
Universalisasi nilai Islam dan globalisasi, pada pengertian berupaya melintasi sekat-sekat apapun di belahan dunia, mungkin bisa dikatakan sama. Tetapi, keduanya saling berseberangan dalam tujuan yang ingin dicapainya.
Globalisasi mengandung ideologi materialisme yang berambisi menjadikan seluruh manusia masuk dalam kerangka pandang kapitalistik. Segalanya diukur melalui kepuasan ragawi, dan pemenuhan ekonomi ansich. Dalam konteks kejiwaan, materialisme sebenarnya tidak memerdekakan dari nafsu duniawi, melainkan pada ujungnya manusia akan terbelenggu oleh hasratnya untuk berkuasa (will to power). Secara otomatis, kerakusan pada segala hal, akan melanda manusia. Korupsi, eksploitasi alam, dan pola konsumtif, hanyalah satu dari sekian efek negatif pengaruh ideologi materialisme.
Berbeda dengan globalisasi, universalisasi Islam adalah ikhtiyar untuk menanamkan kesadaran moral pada manusia untuk menunaikan kewajibannya sebagai khalifah. Misi kekhalifahan itu bermaksud menjadikan dunia sejahtera dalam asas ketuhanan, keadaban, serta egaliterian—dan tentu saja menghargai keanekaragaman sosial budaya manusia di berbagai wilayah dunia.
Di samping itu, perlu digarisbawahi bahwa universalisasi Islam bukan bertendensi pada penyeragaman identitas beragama, melainkan umat muslim hanya berkomitmen menghadirkan nuansa keilahian bagi seluruh pluralitas bangsa.

Menggerakkan nasionalisme Islam
Semantik pendefinisian Islam niscaya mengalami penekanan implikasi yang berbeda dimana suatu bangsa itu hidup dan berkembang. Demikian pula pada definisi nasionalisme. Islam yang berarti “penyelamatan” dan nation (bhs Latin, natio) yang bermakna “tanah kelahiran”, dalam konteks kekinian, dapat disatukan misinya. Oleh karenanya, jika definisi nasionalisme Indonesia di arahkan pada usaha "menyelamatkan tanah air”, misi ini sama sekali tidak berlawanan dengan visi keislaman universal.
Untuk itu, kiranya ada dua agenda umum yang mesti dipertegas dalam konsepsi nasionalisme Islam Indonesia yakni:
Pertama, umat Islam Indonesia harus tetap menyatakan “negara ini ada”. Negara nasion Indonesia yang sudah terbukti korup, tidak serta merta lalu kita biarkan lenyap dari panggung teritorial dunia. Justeru, adalah tugas kaum muslim untuk menghapus praktik-praktik eksploitatif dan KKN dari sistem pemerintahan. Nasionalisme harus diimplementasikan pada partisipasi sosial-politik kita.
Di saat yang sama, nasionalisme di dalam Islam sepatutnya tumbuh sebagai perjuangan memperkuat pribadi yang sejati. Pribadi bangsa yang besar namun bersahaja, dan kaya kebudayaan tapi memiliki sifat welah asih yang mendalam. Bukan bangsa yang korup, tak mandiri, konsumtif, dan menjadi ekor dari kekuasaan neoliberalisme internasional, seperti saat ini.
Kedua, ruang-ruang pengambilan kebijakan publik yang terbuka saat ini dapat digunakan untuk membantu pemerintah keluar dari tekanan neoliberalisme yang sedang melakukan proses stateless. Karena itu, diperlukan perlawanan bersama (common platform) dari seluruh elemen bangsa (nations) terhadap kekuatan-kekuatan penyangga neoliberalistik.
Lebih lanjut, nasion Indonesia harus dimaknai sebagai medan jihad dalam berislam. Agama Islam memang tidak mengenal batas-batas teritorial dalam perjuangannya. Namun sebagai wilayah bangsa muslim terbesar di dunia, Indonesia pantas dibela sebagai konsep iman yang mencakup cinta pada tanah air. Artinya, nasionalisme diperkuat di ”medan teritorial” Indonesia dalam kerangka dakwah Islam yang bervisi mensejahterakan alam semesta.

Jumat, 06 Februari 2009

STARTING POINT TOWARD A CHANGE


Oleh: Retno Aprillia*

One evidence which will never cheat is your lifeLook for at neighbor’s garden which in flowerSurely, You never find itTogetherness, sincerity in struggling, and sacrifice is indivisible matter(Femyla As-Sa’diyah; 2008)An endless change is how we act consciously and head for detected, survive and make a change is my first aim live here. Now, we are faced with the real common enemy and automatically we must be alert in this world.
HMI conveys many values that can make somebody feel that this is their real life. Real evidence that we require to make a move is caused by a grind and injustice in all aspect. Every society own the values believed with. Dimiciling value in a society not only as life guide but also as meaning giver for charitable its member. Harmony value can differentiate which is there are in a society become a beautiful life panorama. Therefore, values is always viewed as vitally something even hold high by all member a society.I
f we express our felling when join in this community, no words can be said. Students in University usually have different perception when look into the organization itself, even they don’t care about their responsibility. When we join with a community and association, firstly we have the same mission and goal of course, from that point I feel HMI is the suitable community of Islamic Students that can explore their capability in managing time, people, system, etc.
But the basic thing that can build our awareness is our belief. Islam give the biggest contribution in human being QS. Ali Imron : 19This verse tells that Islam is the best of life. Allah declares that Islam the perfect religion for Human being and the universe.
Ulil Albab as name that given for a human ask us to think and do with a reference. For example: We must know why we live in this world, what is our aim, and what should we do?? That questions must be answered by yourself of course with Tauhid perceptions. What a beautiful ISLAM it is. So, what will you wait for now. Let join us if you care and aware about your duty in this world as a human.
Because a change never be done by yourself and now. Save struggling for Allah. Last but not least, I just want to say thank you for Allah that make us as family and please don’t separate us and gathered in the heaven Amin…
Thanks for all Mujahid and Mujahidah in HMI Allah blesses you and your family. Yakin Usaha Sampai…..(femyla)
* Mahasiswa IKIP PGRI Semarang dan Kader HMISemarang

Hikayat Rumah Tua

Oleh: Elly Fitriyana*
Dinding-dinding yang mulai rapuh
Atap-atap yang mulai retak
Kayu-kayu yang mulai lapuk
Rumput-rumput yang mulai tumbuh liar
Masih ku ingat kala iturumah ini begitu megah
Dinding dan balok-balok kayunya begitu kokoh
Atap tampak berkilau menantang sengatan panas dan deras hujan
Keyakinan yang terbangun dari sana
Semangat yang terbangun dari sana
Harap gemilang yang terbangun dari sana
Keberanian yang terpupuk dari sana
Bahkan rumput tak berani mengganggu malu
Malu ia hanya berani menyembul di pojok-pojok halaman

Kini... semua tlah berubah

Permukaan...segala... semua beralih rupa

namun entah bagaimana spirit dalam rumah itu

Samakah?... bertambahkah?... atau hilang barangkali

Tak ada yang tahu persis

Cobalah tanyakan hal itu

Pada rumput yang menjadi saksi perjalananyah... tanyakan!

Smg, ahad, 281203

* Perempuan Menetap di Malang
 

blogger templates | Make Money Online