SELAMAT DATANG DI WEBLOG NEGERI KEGILAAN (Menebar Cinta Menerangi Semesta)

Kamis, 29 Januari 2009

AGAMA DAN RUANG PEREMPUAN


Oleh : Shinta Ardhiyani U*
(naskah ini ditunjukan untuk lomba Essay STAIN Purwokerto thn 2008 dengan tema " Agama dan Kekuasaan)

Seorang reformis dari tanah arab, Qasim Amin (1865-1908), pada abad XIX, dalam bukunya menyatakan sebuah keyakinan bahwa suatu bangsa tidak mungkin bisa berkembang tanpa bantuan dari separuh populasinya, yaitu perempuan.

Lepas dari jenis kelamin, perubahan dalam suatu kelompok masyarakat baik di lingkup kecil, maupun lingkup berbangsa dan negara, peran serta seluruh komponen masyarakat tak bisa dinafikkan. Komposisi pria dan perempuan yang menurut statistik lebih besar pada jumlah perempuan, secara logis membenarkan pernyataan Qasim Amin seperti tersebut diatas.

Fenomena yang ada, perempuan dirasa tidak mendapatkan posisi untuk melakukan optimalisasi peranan-peranannya dalam kancah bermasyarakat. Perempuan masuk ruang publik merupakan suatu hal yang masih jarang. Bahkan , masih menurut Qasim Amin ” Istri dianggap dapat dipakai sebagai alat untuk mencapai kenikmatan, kaum laki-laki dapat bermain dengannya selama dia inginkan, lalu dapat membuangnya ke jalan kalau dia sudah memutuskan begitu”. Reformis yang orang Mesir keturunan Turki ini sampai menganjurkan agar perempuan melepaskan jilbab, menyerukan pemberian pendidikan yang sama kepada laki-laki dan perempuan, dan meninggalkan poligami yang, menurutnya dapat ditolerir kalau sang istri mandul. Bukan hanya Qasim Amin, ada nama-nama reformis lain seperti Tahar Haddad (1899-1935) yang menyerukan hal yang serupa.

Pembicaraan mengenai hak-hak perempuan seakan-akan selalu bertentangan dengan religiusitas. Norma-norma agama dianggap selalu kontra produktif. Dari mulai perintah berjilbab hingga hukum waris selalu dilihat dari segi yang menyudutkan kaum hawa. Agama seolah-olah mendapatkan tuduhan sebagai biang patriarki yang mendudukan perempuan dalam posisi subordinat. Kemudian muncullah istilah ketidakadilan gender (dalam agama). Qasim Amin yang pengetahuan agamanya tidak diragukan lagi, masalah perempuan adalah juga bagian yang tak terpisah dari doktrin agama, sementara , para feminis kontemporer melihat problem perempuan lebih dari perspektif sosial budaya: perempuan sebagai objek diskriminasi gender yang dibentuk oleh masyarakat dan tradisi. Walaupun Kaum feminis kontemporer, meskipun mereka kerap mencari-cari justifikasi teologis dalam menyokong beberapa pernyataan interpretisnya terhadap masalah perempuan dan peran sosialnya, secara umum mereka “bukanlah ahli” soal agama, katakanlah seperti Qasim Amin yang pengetahuan agamanya tidak disangsikan lagi.

Tidak sepenuhnya salah jika kita memang melihat fenomena yang ada dari satu sudut saja, seperti para kaum feminis tersebut. Sebenarnya, agak enggan saya menggunakan kata feminis atau feminisme. Banyak salah kaprah dalam penggunaan kata itu. Misal, orang-orang timur yang menganggap kaum perempuan barat menjadi bebas karena feminisme. Padahal banyak hak yang masih diperjuangkan oleh kaum perempuan di barat pada abad XX ini. Contohnya seperti di Perancis, yang kaum perempuan baru diberi hak memilih pada bulan Oktober 1945 oleh presiden Jenderal de Gaulle.

Hal yang diperlukan dalam konteks permasalahan ini adalah bagaimana kita dapat mendudukan dengan benar akar permasalahan yang ada. Antara agama dan ketidakadilan gender yang kemudian menjadikan perempuan menjadi ”impoten” dalam melakukan fungsi-fungsinya dalam masyarakat.

Mitos Adam dan Hawa mungkin menjadi salah satu hal yang paling mudah untuk menjadi pijakan pihak-pihak yang mendudukan peran perempuan berseberangan dengan agama. Bahwa cerita yang kita pahami adalah Hawa sebagai penggoda, perempuan merupakan racun dunia – kalo katanya grup musik yang lagi laris The Changcuters. Pewarisan cerita tanpa pewarisan makna.

Pandangan teologis Abrahamic religions memiliki kisah tentang Hawa (perempuan) yang "dituduh" sebagai sumber "dosa asal" karena terbujuk iblis dengan memetik dan makan buah terlarang, danmemberikannya kepada Adam. Sementara kalangan menganggap kisah ini sebagai peminggiran perempuan. Bahkan, sementara pihak menafsirkan bahwa tradisi Kristiani telah mengembangkan kebencian dan kecurigaan pada wanita dalam "doktrin dosa asal"-nya. (Ayu Utami, 2002:12).

Padahal ketika kita mau berfikir mitos tersebut bukan semata-mata dari sudut pandang posisi si Hawa. Menafsirkan sebuah mitos yang juga merupakan sebuah bahasa sastrawi, dimana Agama mengungkapkan maknanya dengan bahasa yang indah. Dimaknai secara sederhana saja, bahwa jika tidak ada skenario Hawa membujuk Adam untuk memakan buah khuldi, maka tak akan pernah ada kehidupan di muka bumi ini. Dengan kata lain, tujuan dari kisah itu, bukan dengan maksud menminggirkan posisi perempuan, melainkan hanya sebagai salah satu alur yang dipilih untuk dijadikan starting point kehidupan di muka bumi. Karena tanpa adanya Hawa yang membujuk Adam, maka mustahil keduanya diturunkan kebumi, dan kita tak pernah mungkin ada saat ini.

Perdebatan seputar ketidakadilan gender dan agama memang selalu menjadi diskursus yang tak kunjung habis bahkan semakin dibicarakan semakin menarik karena dapat memunculkan inovasi perspektif dan wacana-wacana yang baru. Disini ada korelasi yang timbul antara agama dengan munculnya kekuasaan patriarki yang berkembang.

Perempuan dan laki-laki pada dasarnya hanya kategori spesies manusia yang keduanya dianugerahi derajat yang sama, dengan iman taqwa yang membedakan diantaranya. Penafsiran agama yang secara historis mungkin lebih banyak dilakukan oleh kaum laki-laki menimbulkan partisipasi perempuan dalam masyarakat cenderung diabaikan. Pada konteks ini, permasalahan yang timbul hanyalah tidak munculnya lateralisasi dalam penafsiran teks-teks agama. Namun jika kita mau menyimak, walaupun dalam wacana, agama sering dianggap melakukan ketidakadilan gender pada perempuan, pada kenyataannya perempuan mendapatkan tempat istimewa. . Paling tidak, dalam perspektif agama Katolik dan Islam, peran itu diakui secara istimewa dalam diri Maria (Maryam) Maria diterima sebagai yang perempuan yang mengandung, melahirkan, mendidik, dan mendewasakan Yesus dengan segala kedewasaan personal, kecerdasan spiritual, dan kemantapan profetik. Bahkan, peranan Maria diakui sedemikian penting dan istimewa dalam karya dan sejarah keselamatan Allah (QS Maryam 19: 18-21). Dalam posisi itu, martabat perempuan telah diangkat tinggi, bukan saja sebagai "citra Allah", tetapi sebagai Bunda Penebus.

Selain Maria, dalam Alkitab ada nama-nama perempuan yang berperan penting dalam sejarah keselamatan, seperti Deborah, Yudith, dan Esther. Dalam perspektif agama, mereka adalah models of very brave and strong women. Bahkan, dalam konteks sosial-politik pada zamannya, they played roles in saving the nation. (Dominic Izhaq, 2001:82)

Dalam sejarah perempuan dan agama, kita mengenal Bunda Theresa dari Calcuta. Dia merupakan simbol perempuan yang menjalin harmoni dengan agama dalam melawan kekerasan, kemiskinan, dan ketidakadilan. Sebelum Bunda Theresa, di kalangan agama Katolik terdapat para santa yang merelakan hidup dan kekudusan mereka untuk membela iman (dan agama) berhadapan dengan kekerasan budaya, sosial, ekonomi, dan politik. Dan, agama (Katolik) menerima korban kekerasan itu bukan sebagai pesakitan yang harus dijauhi, melainkan sebagai mutiara, para santa. Dalam tradisi itulah perempuan mendapat posisi sederajat, tanpa subordinasi, kekerasan, marjinalisasi, maupun ketidakadilan dalam agama.

Wacana yang ada, agama selalu didudukkan pada posisi pro partriarkhi. Penciptaan makna agama yang lebih mengukuhkan kekuasaan patriarkhi, sesungguhnya dalam prosesnya terselubung "ideologisme" antara tafsir agama dan konteks kekuasaan kaum laki-laki pada saat itu. Michel Foucault, seorang filsuf posmodernis, menengarai adanya hubungan antara "pengetahuan" dan "kekuasaan" (knowledge and power), yaitu bahwa kekuasaan menentukan pengetahuan, dalam arti: menetapkan tipe-tipe diskursus yang benar dalam arti yang "works"; menetapkan mekanisme yang memungkinkan untuk membedakan proposisi yang benar dan yang salah; menetapkan teknik dan prosedur dalam mencapai kebenaran di atas; menetapkan status dari mereka yang ditugasi untuk mengatakan hal-hal yang dianggap benar. (Foucault: 1980, 131).

Penafsiran agama yang kemudian memperkukuh patriarkhi, sebenarnya merupakan wujud bermainnya ideologi dalam pemaknaan agama. Secara sederhana patriarkhi memang akan sulit dihapus karena itu muncul semenjak masa awal peradaban manusia saat masih berburu dan meramu. Bisa dibayangkan pada kondisi primitif seperti itu, dimana mereka memenuhi kehidupannya mengandalkan kekuatan fisik, sementara perempuan mengalami fase-fase dimana dia harus beristirahat fisiknya (hamil). Maka pada saat itu, jelas laki-laki memiliki porsi yang lebih luas dalam perananna memenuhi kebutuhan hidup. Seiring waktu pemikiran dan zaman berkembang, saat menyadari bahwa kekuatan manusia bukan hanya pada fisik, peran-peran perempuan mulai tampak. Namun untuk menghapus sisa-sisa patriarkhi yang sudah membumi dari dimulainya peradaban, merupakan suatu hal yang sulit. Kemudian justru munculnya agama sebagai pencerahan menjadikan pemikiran terbuka dan mengurangi adanya patriarki yang menjadikan koloanialisasi pada perempuan. Agama justru membunuh keprimitifan patriarki, bukan sebuah pengukuhan seperti yang selama ini diwacanakan.

Maka pendudukan akar masalah yakni bagaimana kemudian kita dapat melakukan pemaknaan agama dengan semestinya dan bukan sebagai ajang bagi ideologi tertentu. Dalam pemaknaan-pemaknaan agama tidak dapat dipisahkan atau bahkan dikontraposisikan dengan kebebasan perempuan. Agama hadir di muka bumi untuk membebaskan perempuan. Ketika muncul pemaknaan bahwa agama vis a vis kebebasan perempuan (dalam artian berkarya), maka perlu dievaluasi pemaknaan agama yang dilakukan. Tidak dengan tendensius, namun dengan mencoba memulai dengan ketulusan untuk membebaskan perempuan dari belenggu budaya yang ada. Hal ini dapat sebagai otokritik pula pada gerakan perempuan, bahwa sebuah gerakan perlu melakukan sinergisitas dengan pemahaman hal-hal lain seperti agama. Aspek-aspek yang ada diluar gerakan sesungguhnya adalah sebuah komponen pendukung, bukan selalu diposisikan untuk vis a vis. Sinergisitas yang muncul antara gerakan agama dan gerakan perempuan akan membawa kepada sebuah perubahan sosial yang berkeadilan. Semoga!

Markas kebebasan, Sumampir-Purwokerto. 22 Desember 2008. 10:50 pm. Di penghujung deadline.

Sumber-sumber :
Muhammad, Husein K.H. 2001. Fiqh Perempuan : Refleksi Kiai atas Wacana Agama dan Gender. Jogjakarta : PT.LKiS Pelangi Aksara Jogjakarta. Muslim pada Agama dan Subordinasi Perempuan, www.lampungpost.com, diakses tanggal 10 Desember 2008. Assyaukanie, Luthfi. Gerakan Feminisme Arab (Arab Feminist Movement). Source: Jurnal Paramadina, Vol. I No 1, Juli-Desember 1998.
* Skretaris HMI Cabang Purwokerto

Ikhlas Kunci Ketenangan

Oleh: Fahrudin*

Tuhan Allah menciptakan manusia di bumi ini adalah untuk menjadi “khalifah”, menjadi “pemimpin” alam dunia. Tujuan-Nya pastilah agar manusia ini menjalani kehidupannya dengan bahagia, sehingga bisa menikmati kehidupan; dan bukan untuk menjadi gelisah dalam keraguan serta kekalutan hidup.

Sekarang ini kita berada di era Modern, era Globalisasi kata orang. Kecenderungan yang terjadi saat ini adalah orang berusaha terlalu keras, sangat memacu dirinya mati-matian demi untuk mengejar dan meraih tujuannya. Orang sudah terlalu kejam bersikap, bahkan terhadap dirinya sendiri.

Setiap hari kita bisa melihat banyak sekali orang yang selalu terburu-buru, sangat gelisah bahkan kalut dalam setiap langkahnya. Kadang kita juga sering melihat orang yang kelihatannya begitu santai secara fisik, tetapi kalau diamati lebih dalam, terlihat dari sorot mata dan pancaran aura dirinya yang mengatakan bahwa sebenarnya mereka juga gelisah seperti yang lainnya. Mereka ini hanya pandai berpura-pura menutupi kegelisahan dan kekalutannya saja.

Jutaan orang pada masa ini menderita “ketegangan syaraf” kelewat batas. Sepertinya saat ini penyakit ketegangan dan kegelisahan sudah begitu mewabah di dunia. Penyebarannya begitu cepat, mengalahkan penyakit influenza. Sekarang pun sudah menjadi hal langka sekali; orang yang bisa tenang, santai dalam pengertian sesungguhnya, bukan tenang yang pura-pura. Sebagaimana yang ditulis Catullus, seorang penyair Romawi, ribuan tahun lalu: “Ah, apa yang lebih nikmat daripada mengesampingkan kekhawatiran, ketika pikiran meletakkan bebannya. Dan setelah melakukan perjalanan jauh, kita pulang ke rumah lagi, dan beristirahat di sofa seperti yang kita dambakan”.

Pada zaman sekarang ini, sungguh sangat sedikit orang yang bisa beristirahat, sebagaimana ungkapan Catullus tersebut. Istirahat yang benar-benar istirahat, rileks, santai yang sesungguhnya, tidak mengalami “ketegangan mental”…memang tidak mudah untuk bisa menjalaninya. Akan tetapi, ada satu saran kunci agar Anda bisa memperoleh ketenangan hidup ini, yaitu: SELALU BERSIKAP IKHLAS dalam setiap apa pun yang Anda lakukan.

Salam Luar Biasa Prima!

* Direktur Lembaga Pers Mahasiswa Islam Cabang Semarang (LAPMI HMI)

Inner Beauty dan Iller Beauty*


Oleh: Yuyun Nailufah*

Membincang kecantikan tidak dapat lepas dari kodrat manusia secara lahiriah dan batiniah. Manusia tercipta di gambarkan dengan berbagai macam benda asalnya dari berupa tanah, Lumpur kering, air mani atau alaq, turab, shal-shalin. Eksistensi ini menunjukan bentuk atau keberadaan asal tercipta dalam artian berupa benda yang nampak begitu juga penciptaan iblis, jin dan malaikat. Manusia memiliki keistimewaan tersendiri di banding dengan mahluk lain, keistimewaan yang tidak di miliki mahluk lain yaitu sebagai manusia yang berfikir (homo sapien atau al hayamanu an natiq). Melalui akal fikir manusia dapat mengerti akan keindahan, kebenaran dan kebaikan.

Namun jika kita berbincang tentang kecantikan tidak dapat lepas dari bias perempuan tersendiri, sebab akronim kalau wanita itu pasti cantik dan laki-laki itu tampan. Inner beauty selalu menjadi momok bagi kaum hawa karena selalu di sandarkan pada aspek fisik. Akan tetapi jika dikaji secara menyeluruh tentang inner beauty di sini terjadi pembedaan (diversitas) sebab manusia mempunyai unsur fisik dan non fisik. Coba kita bedah apa itu sebenarnya inner beauty!

Inner beauty berasal dari bahasa inggris yaitu dari dua kata “inner” yang berarti dalam dan “beauty” yang artinya kecantikan. Jadi inner beauty dapat di artikan kecantikan yang terpancar dari diri pribadi seseorang. Biar tidak melihat manusia pada satu sisi (fisik), berbicara inner beauty harus tahu landasanya terutama bahwa keindahan (beautiful) itu ada 2 macam yaitu pertama, keindahan batin (inner beauty) yang lebih menekankan pada hati, sikap, perilaku dan tingkah laku. Kedua, keindahan lahir (physical beauty) yang lebih menitik beratkan pada aspek lahiriah dan fisiknya saja.

Setiap orang mendamba akan kecantikan dan ketampanan, akan tetapi tidak semua orang memiliki kecantikan batiniyah. Keindahan batin (inner beauty) merupakan keindahan yang di cari karena esensinya seperti keindahan ilmu, akal, pikiran, kesucian diri, tingkah laku dan kebaikan hati. Keindahan batin inilah yang merupakan titik pandang Allah pada diri hamba-hambanya, Allah berfirman dalam surat al A’raaf ayat 26:

"Hai anak Adam, Sesungguhnya kami Telah menurunkan kepadamu Pakaian untuk menutup auratmu dan Pakaian indah untuk perhiasan. dan Pakaian takwa, Itulah yang paling baik. yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, Mudah-mudahan mereka selalu ingat"

Dari petikan ayat al Qur’an dapat di tarik pemahaman bahwa Allah membagi keindahan dengan pakain indah berupa perhiasan dan pakain indah berupa takwa. Mengisyaratkan bahwa keindahan fisik dapat di hiasi dengan pakaian perhiasan dunia secara fisik, sedangkan dari diri yaitu takwa melalui peran pensucian jiwa. Nabi Muhammad sendiri berpesan kepada umatnya tentang inner beauty melalui hadis yang di riwayatkan imam Muslim: Dari petikan hadis di atas dapat di simpulkan bahwa kecantikan, ketampanan dan penampilan fisik di mata Allah tidak menjadi ukuran keindahan. Inner beauty inilah yang akan menghiasi keindahan fisik pada diri kita. Pada intinya inner beauty seperti sinar terang yang memberikan cahaya yang menyinari kegelapan pada diri kita walaupun penampilan fisik tidak begitu indah dan cantik ataupun tamapan.

Seseorang yang memiliki inner beauty akan terlihat indah, anggun, mulia dan penuh kharisma yang muncul dari batin tubuhnya, sebab seseorang yang selalu mensucikan diri akan terlihat di surga dengan rupa atau wajah yang terang. Inner beauty inilah yang dapat menutupi kekurangan yang ada pada diri kita secara lahiriah.

Zaman sekarang atau menurut Ronggowarsito di sebut zaman edan banyak orang menilai seseorang dari segi lahiriah/fisik saja, dia tidak melihat dari kebaikan hatinya. Tentu sebagai seorang yang normal mendambakan selain inner beauty juga mengidamkan kecantikan secara fisik. Akibatnya orang yang merasa dirinya jelek (fisik) terperangkap pada budaya pop yaitu dengan berbagai alat untuk menghiasi dirinya, dari rebonding, mak up, luluran, spa dll yang akan membuat dirinya lebih cantik dan menarik.

Dampak budaya pop inipun berlanjut pada hegemoni kaum kapitalis melalui perusahannya menciptakan berbagai product kecantikan dari sampo, parfum, perhiasan, sabun, pembersih wajah dengan tawaran akan memberikan keindahan tersendiri. Maka timbulah liberalisasi diri melaui kontes-kontes kecantikan yang hanya memperlihatkan keindahan lekuk tubuh/ fisik. Dari menonjolkan kecantikan wajah, tinggi badan, berat ideal, tapi lupa pada nilai yang mengajarkannya di bermasyarakat melalui keindahan alami dan telah lari dari nilai-nilai Islam yang mengajarkan untuk selalu menghambakan diri dan menutup aurat.

Perempunan yang cantik ataupun laki-laki yang tampan adalah mereka yang bebas dari taklid buta terhadap yang lain, terbebas dari desakan nafsu yang menghimpit, terbebas dari setiap kilauan yang memperdaya apapun namanya, terbebas dari penghambaan selain Allah.

Maka ingatlah kecantkan dan ketampanan tidak menjadi ukuran di mata Allah. Saatnyalah kita membersihkan diri dari lubang hitam kehinaan dunia, sebab siapa yang terperangkap pada kecantikan fisik akan menjadi sasaran iller beauty.

Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa dan postur tubuh kalian, akan tetapi Allah melihat pada hati kalian”.

* Yuyun Nailufah (Mahasiswa IKIP PGRI Semarang asli Jepara)

Karena ia begitu berbahasa


Oleh: Khotijatul Fatiyah

Karena ia, menentramkan jiwa

Karena ia, kurasa dekat denganNya

Karena ia, semua bermakna

Karena ia, lenyapkan buta

Karena ia, sadarkanku akan agung-khotijatul-fatiyahNya

Karena ia, sujudku bermakna

Karena ia, begitu berharga


Khotijatul Fatiyah (Mahasiswa IKIP PGRI Semarang asli Pemalang)

Sabtu, 24 Januari 2009

Percayalah, kamu bisa berubah


Percayalah, kamu bisa berubah

Naning Hidayah*

Manusia memang unik dengan keunikannya sendiri-sendiri. Ada yang tinggi, pendek, berpostur besar, kurus, berkulit putih, hitam, ada yang pintar, cerdas, ada yang sabar, pemarah, penyayang dan macam-macam lainnya. Tapi satu hal yang pasti, manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan. Tak ada yang sempurna. Mungkin, hampir semua dari kita sepakat akan hal tersebut. Nah, aku ingin bercerita tentang satu hal itu.

Terkadang, seringkali aku dengar ungkapan “Aku ya….orangnya begini. Gak bisa dirubah.”. Bahkan tak jarang ditambah dengan “ini sudah bawaan,”, “sudah dari sananya” atau “watakku sudah begini”. Ya. Kita semua memang memiliki kekurangan. Tapi parah dan fatal akibatnya jika muncul ungkapan-ungkapan seperti diatas. Sebuah bentuk kepasrahan, takdir dan cap negatif atas diri kita sendiri. Memang sih, tiap manusia punya watak yang berbeda-beda tetapi kalau sudah pasrah, berhubungan dengan takdir maka itu bukan perkara sepele karena menyangkut Tuhan-seperti lagu Desi Ratnasari yang bermasalah dan disensor karena menyebut takdir-.

Allah SWT menciptakan manusia dengan sebaik-baik ciptaan. Artinya bahwa fitrah yang diberikan Allah kepada hamba-Nya adalah sebuah potensi kesucian yang akan semakin membawa manusia dekat kepada Sang Kudus. Jika ternyata muncul sifat buruk dalam diri manusia pastinya bukan merupakan takdir dari Allah yang artinya bisa dirubah dan diperbaiki.

Persoalannya adalah pertama, apakah dia menyadari sifat buruknya tersebut dan kedua apakah dia sudah berusaha merubahnya. Sebab, tidak jarang juga ada orang yang menyadari tetapi menganggap sifat tersebut sebagai sesuatu yang forgiven. Sehingga muncul ungkapan-ungkapan seperti diatas. Watakku memang begini. Titik. Dan dampak yang luas lagi kalau sudah menyangkut jamaah, masyarakat, teman. Kita bias dibuat “makan hati” dengannya.

Kesempurnaan hanya milik Allah, Kata Dorce. Tidak ada manusia yang sempurna koq. So, kita gak usah pesimis dan pasrah dengan keadaan. Orang yang sudah berusaha meskipun gagal, lebih baik daripada orang yang tidak berusaha sama sekali.

* Wanita tangguh asli Banjarnegara saat ini aktif di Korp Pengader Nasional (KPN) HMI PB Jakarta





PESAN AKHIR KEMATIAN*


PESAN AKHIR KEMATIAN*

Prolog :

Semua peserta/pemain berada di panggung menyanyikan lagu ” Anak-anak di jual bersama-sama, yang di irimgi musik.

( semua pemain meninggalkan panggung setelah lagu selesai, kecuali pemeran Bunga yang duduk merenung memandangi bait-bait puisi)

Narasi :

Jarak 75 KM dari pusat kota Semarang, nampak terlihat perkampungan dipinggiran hutan karet. Di sinilah Bunga (Nama samaran ) tinggal di sebuah kontrakan sederhana, Bunga tumbuh sebagai remaja putri cantik di kampungnya. Kesehariannya sering menggantikan Ibunya mengerjakan pekerjaan rumah, setelah Ia tidak bisa lagi melanjutkan sekolahnya. Pendidikan Bunga terhenti saat duduk di kelas dua SMP.

( Bunga membaca puisi penuh ekpresi kesedian )

Cat : Buat 2 bait puisi tentang perjalanan rumah tangga yang broken home dan hak-haknya yang terabaikan.

(Di belakang/ luar panggung terdengar kegaduhan pertengkaran kedua orang tua Bunga yang selalu mempersoalkan kondisi keluarga. Kegaduhan pertengkaran ini, semakin lama semakin dekat dan memasuki panggung . suasana ini diiringi musik)

cat : bikin dialog pertengkaran kedua ortu

Dialog :

Ibu : ”Bapak selalu mementingkan urusannya sendiri, dan tak pernah tau istri dan anak !”

Bapak : ”Memangnya Ibu pernah memikirkan masa depan anak kita?” Apa yang Ibu berikan ?” Setiap hari keluyuran tak jelas apa yang dilakukan”.

Ibu : ”Sekarang bisa saja bapak bicara begitu!, Berkacalah…. Setiap hari kerja bapak hanya mabok dan selebihnya main kartu di ujung gang”.

Bapak : ” Ya , memang beginilah keadaan saya, Lantas apa maumu?”

Ibu : ”Saya tidak betah hidup seperti ini. Saya menginginkan kita hidup dengan cara masing-masing”.

Bapak : ”maksudnya?,…. cerai?”

Bunga : ” Cukup !” Saya masih terlalu muda untuk mendengar dan menyaksikan ini. Cukup Bapak…, Cukup Ibu !”

( Bunga berlari dengan raut muka sedih dan marah meninggalkan panggung sambil membantik lembaran kertas puisi yang di bawanya)

Narator :

Ya…, terkabullah permintaan ibu bunga untuk bercerai dengan suaminya. Akhirnya bapak Bunga pergi meninggalkan rumah kontrakan dan tak pernah memberi kabar sedikitpun. Begitu pula dengan Ibu bunga, 1 bulan setelah sepergian suaminya, Iapun berpamitan kepada Bunga untuk pergi bekerja menjadi TKI, dan berjanji akan selalu mengirim uang tiap bulan untuk kebutuhan Bunga . Namun apa yang dijanjikan Ibunya, ternyata tidak sekalipun Ia mengirimkan kabar . Bunga akhirnya memutuskan meninggalkan kontrakan. Ia memilih hidup bersama sahabatnya yang tinggal tidak jauh dari pusat kota.

Dialog :

Surti (nama samaran ) : ”Sebetulnya apa yang kau rasakan tak jauh beda dengan yang aku rasakan Bunga ”.

Bunga : ” Apa yang terjadi denganmu ?”

Suirti : ” Saya tinggal bersama nenek dan ke dua orang tuaku ikut program transmigrasi ke luar jawa”. ”Saya harus mengamen di jalanan untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup kami ”.

Natrator :

Akhirnya Bunga mau tidak mau harus mengikuti jejak sahabatnya, yaitu dengan cara mengemis/mengamen di jalanan, dari perempatan, kereta, bis kota maupun pusat keramaian. Satu tahun kemudian Bunga dan Surti sering kali di ajak tante Tutik ke rumahnya, kadang diajak jalan-jalan ke tempat –tempat rekreasi. Mereka berkenalan dengan tante Tutik saat mengamen di permpatan. Rupanya tante tutik sering kali sinnggah di tempat mangkal bunga dan Surti.

Dialog :

Tante Tutik : ” He ..Apa kalian mau bekerja menjadi pembatu rumah tangga di tempat saudaraku ?” . ”Di sana sambil bekerja juga akan di sekolahkan.

Bunga : ”Apa kami mendapat imbalan uang setelah bekerja ?”

Tante tutik : ” Ya pasti, Satu bulan sekali mendapatkan upah sebesar 500.000 rupiah”.

Narator :

Akhirnya tanpa pikir panjang Surti dan Bunga menerima tawaran tante Tutik untuk bekerja menjadi pembatu rumah tangga.. Keesokan harinya mereka menyiapkan beberapa kebutuhannya seperti pakaian dan sdedikit uang tabungan hasil mengamen. Bersama tante Tutik merteka menuju ke salah satu tempat dengan mengendarahi transpotasi jasa travel.

Dialog

Tante Tutik : ”Kalian sementara akan aku titipkan di rumah saudaraku”.

Bunga : ”Kenapa tidak langsung ke tempat kerja tante ?”

Tante Tutik : ”Ya Kalian akan langsung kerja, setelah tante mengurus identitas kalian. ”klian kan belum mempunyai KTP ?”

Surti : ”Maksudnya, identitas kami akan dipalsukan ?”

Tante Tutik : ” Ya , betul agar pekerjaan kalian lancar!’ Kalian aku tinggal sementara Nanti saudaraku pasti menjumpai kalian ”.

(Bunga dan Surti mengangguk tanda mengerti., Kemudian Tante tutik meninggalkan rungan. Tak lama kemudian datang Seorang wanita (Mami Dina ) yang mengaku saudara tante Tutik.)

Dialog :

Mami Dina : ” He … Apa kalian yang bernama Bunga dan Surti?’

Bunga dan Surti : ” Betul Tante”. Tante ini siapa ya ?”

Mami Dina : ” Jangan panggil aku Tante , Panggil saja aku mami, mami Dina”. Saya kakaknya Tutik yang tinggal di kota ini. ”Saya yang meminta tolong Tutik supaya mencarikan orang untuk membantu pekerjaan rumah”.

Narator :

Sesaat setelah cukup istirahat, akhirnya mereka meninggalkan rumah penampung sementara menuju arah barat kota . Sesampainya tujuan Bunga dan Surti sempat terheran-heran, melihat suasana ramai di tengah perkampungan kecil. Selama 1 minggu mereka di perlakukan layaknya pembantu rumah tangga. Sikap ramahpun nampak tercermin oleh mami dina. Tak segan pula mami Dina mengajak shoping Bunga dan Surti untuk sekedar membeli pakaian trendi. Nama Bunga dan Surti perlahan berubah menjadi Shinta dan Shanti. Pekerja mereka perlahan bergeser menjadi pelayan mini bar. Suatu hari Bunga dimintai menemani tamu laganan (eksekutif muda ) yang berkunjung.

(Tamu) Rudi : ” Kamu nampak cantik?”… O.ya… Temeni Om ke hotel sebentar ya?” ada sesuatu untukmu

Bunga : ” Memangnya Om mau ngapain?” Biar aku tunggu di sini saja:.

Rudi : ” Tidak apa sebentar saja . Lagi pula Mamimu sudah memberikan izin.

Mami Dina : ” Iya ,….Bunga temanilah om Rudi sebentar, itu bagian dari kerjamu”.

Bunga : ”Baiklah kalau begitu”.

Narator :

Mereka akhirnmya meninggalkan tempat dan menuju ke hotel dimana Rudi menginap. Disinilah di kamar hotel , rupanya bunga diperdaya oleh Rudi. Bunga harus menelan rasa getir perih dan tercabik-cabik saat kesuciannya terenggut. Acapkali teriakan rasa sakit seolah memecah seisi ruangan hotel. Hal yang tak jauh berbedapun dialami oleh Surti. Akhirnya mereka tak bisa berbuat apa-apa selain pasrah terhadap keadaan. Waktu demi waktu terus bergulir, siang berubah menjadi malam. 3 tahun sudah Bunga dan Surti hidup dalam cengkraman penguasa rumah bordil, yang setiap hari harus di paksa menjadi pemuas nafsu para lelaki hidung belang, menjadi pemakai obat-obatan dan minuman keras. Bahkan saat ini surti dan Bunga tidak tinggal bersama lagi. Surti di jual kepada orang asing untuk di jadikan istri kontrak..

Dialog :

Bunga : ” Tuhan Kapan kami keluar dari cengkraman lingkaran ini?” Kami sudah tak kuat lagi Tuhan. Apa salah kami ?’ ……Kami hanyalah korban …………….

Pelanggan : ”Masih ada tersisa mutiara dari sekian banyak penikmat nafsu saudaraku”

Bunga : ” Siapa tuan ini , apakah belum cukup melihat penderitaan ini”.

Pelanggan : ”Justru kedatangan saya ini, bermaksud mengajak Bunga keluar dari persoalan ini.

Bunga : ” Benarkah tuan mau menolong saya?” Terimakasih tuan-terimakasih tuan”.

(Pada saat mereka mau meninggalkan kamar dan bermaksud mengelabuhi mami Dina , tiba-tiba Bunga jatuh pingsan. Mami Dina , Pelanggan dan beberpa teman Bunga. Berusaha mengangkat Bunga memindahkan ke ruangan tak jauh dari tempat Bunga pingsan.)

Dialog :

Temen Bunga : ” Mami, Bunga …..badan Bunga panas dan nafasnya tak beraturan”.

Mami : ” Coba kamu keluar lekas cari dokter!”

Pelanggan : ” Mari mbak aku temani cari dokter.’.

Narator :

Sementara mereka mencari pertolongan dokter, kondisi Bunga semakin lama-semakin parah , panas dibdanya semakin tinggi dan seolah tiada daya yang tersisa. Tak lama kemudian datanglah seorang dokter bersama pelanggan dan temen Bunga. Dokter langsung menghampiri dan memeriksanya.

Dialog :

Dokter : ” Kondisinya cukup serius, Aku sarankan untuk segera dibawa ke rumah sakit ”.

Mami : ”baiklah kalau begitu dok ”.

Temen Bunga : ” Mari Mas kita angkat Bunga ke mobil ”.

(Belum sampai ke mobil, Bunga menggerakkan ke dua tangannya dan kemudian siuman. Mereka meletakkan kembali Bunga dan menyandarkan tubuhnya ke bahu pelanggan. Saat itulah sedikit terucap dari bibir mungil Bunga.)

Bunga : ” Kehidupan selalu mengalir …….. berliku perjalanan …banyak duri batu menghadang”.

(Bunga mengambil secarik kertas dari balik kain bajunya . Saat itulah bunga menghembuskan nafas terakhir. Pelanggan perlahan mengambil selembar kertas bertuliskan bait-bait puisi. Kemudian penuh penghayatan pelanggan membacanya bait puisi tersebut)

Cat : Tolong bikin puisi bertemakan perjuangan hidup manusia . bahwa pekerjaan ini sesungguhnya tidak dikehendaki oleh Bunga atau Bunga-bunga yang lain. Tidak sepantasnya anak-anak di eksploitasi .

Narator :

Bunga adalah sebagian contoh korban kebiadaban ( Tolong lanjutkan narasi ending ini . Bunga mati karena penyakit HIV AIDS yang di deritanya. Sedangkan Surti mengalami cacat mental dan fisik karena korban kekerasan dari swami kontrak. Saat ini Ia tinggal di rumah sakit jiwa.


Naskah ini di ambil dari diskusi kelompok peserta . Dikembangkan oleh Pendamping.

Di perbolehkan untuk merubah atau menyempurnakan.

* Yuli BDN (Aktivis LSM Setara Semarang)

TIPOLOGI PENDIDIKAN SALAH URUS


TIPOLOGI PENDIDIKAN SALAH URUS
Agus Thohir*

Fenomena ironis yang muncul di dunia pendidikan kita saat ini adalah semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, probabilitas untuk menjadi penganggur pun semakin tinggi. Perihal ini melahirkan paradoks: semakin tinggi seseorang berpendidikan maka seharusnya semakin mudah ia mendapat pekerjaan. Benarkah pendidikan kita menghasilkan para pengangguran terdidik? Selama ini memang lembaga pendidikan kita menganut sistem pendidikan warisan Belanda yang menekankan pada kemampuan hafalan. Sehingga yang tertanam pada sumberdaya manusia terdidik orientasinya adalah cepat lulus dengan hasil terbaik. Tapi kurang dibekali kecakapan hidup (life skill) yang memadai, misal kemampuan berkomunikasi dan membangun jaringan (link).
Kasus meningkatnya jumlah sarjana yang menganggur dari 183.629 orang pada tahun 2006 menjadi 409.890 orang pada tahun 2007 ini menjadi permasalahan serius bagi lembaga pendidikan dinegeri ini. Lalu ada apa dibalik semua itu? Apakah kurikulum pendidikan kita yang salah atau kebijakan pemerintah yang tidak sesuai. Menurut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengakui ada ketidaksesuaian (mismatch) antara lulusan perguruan tinggi dan kualifikasi yang dibutuhkan pasar industri dan jasa di masyarakat yang berakibat sulitnya sarjana mendapat pekerjaan.
Masih banyak penyebab lain, diantaranya pertama, kondisi sistem kampus yang tidak mendukung untuk menciptakan keahlian khusus yang dibutuhkan mahasiswa kelak ketika terjun kemasyarakat. Pada sisi lain Perguruan Tinggi tetap membuka lebar jurusan yang jenuh terutama untuk ilmu sosial, ekonomi, politik, dan hukum.
Kedua, paradigma yang terbagun oleh kebanyakan sarjana kita kecenderungan, semakin tinggi tingkat pendidikan semakin besar keinginan mendapat pekerjaan yang aman. Sehingga mereka tidak berani mengambil pekerjaan yang beresiko (baca: pekerjaan kasar).
Ketiga, minimnya keahlian individu, misal berbahasa asing, kemampuan berkomunikasi, kerja dll. Semua pengalaman tersebut justru tak diperoleh secara formal di bangku sekolah namun sebaliknya didapat dari inisiatif dan kreativitas individu. Individu kreatif cenderung memiliki tingkat keberhasilan tinggi.
Sebenarnya masih banyak problem yang melilit pendidikan bangsa ini, menurut penulis sudah saatnya semua lembaga pendidikan berbenah untuk mengurangi bahkan menghilangkan permasalahan pelik tersebut bagaimanapun caranya.
Bila pendidikan jelas arah maka lulusan perguruan tinggi tidak akan kesulitan kerja bahkan kelak mereka akan sanggup menciptakan lapangan pekerjaan, bukan mengandalkan perusahaan tertentu.
Disamping itu pemerintah juga harus mampu meracik strategi dan kebijakan baru untuk mengatasi bertambahnya pengangguran terdidik. Sudah menjadi kewajiban bersama antara pemerintah, lembaga pendidikan tinggi dan penyedia lapangan pekerjaan untuk mengatasi menganalisa sejauhmana kerlibatan ketiganya dalam mengatasi permasalahan tersebut.
awal februari 2008.
* Direktur Lingkar Studi Alternatif (LaSTa) Ssemarang

Demonologi Partai Islam


Demonologi Partai Islam

Lukni Maulana*

Pemilu tahun 2009 sudah mendekati waktunya, era kebebasan sudah mulai berkembang di Indonesia semenjak orde baru runtuh. Tuntutan perbaikan sistem pemerintahan yang berlandaskan good governance dan clean governance sangat dinanti oleh seluruh masyarakat Indonesia.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah mengumumkan jumlah partai peserta pemilu 2009 yang berjumlah 34 partai. Arus perubahan di Negara ini sangat cepat, proses demokrasi semakin mengakar ke seluruh masyarakat. Hadirnya multipartai tersebut sudah membuktikan bahwa Indonesia merupakan Negara yang menjunjung tinggi kebebasan dalam berapresiasi di kancah publik

Namun untuk memperbaiki sistem pemerintahan di Indonesia tidak semudah membalikan kedua tangan ada jalur khusus agar dapat mencapainya yaitu melewati jalur partai politik, maka tidak heran timbulnya multi partai. Kehadiran partai politik tidak terlepas dengan adanya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Partai Politik, dalam Pasal 1 di sebutkan bahwa “Partai politik adalah organisasi yang bersifat nasional dan dibentuk oleh sekelompok warga Negara Indonesia secara sukarela atas dasar kesamaan kehendak dan cita-cita….” Dan Pasal 2 “Partai politik didirikan dan dibentuk oleh paling sedikit 50 (lima puluh) orang warga Negara Indonesia yang telah berusia 21 (dua puluh satu) tahun dengan akta notaris dan menyertakan 30% keterwakilan permpuan”.

Sekarang ini partai menjadi alat untuk menguasai dan bahkan untuk mengubah aturan-aturan yang berlaku di pemerintahan. Indonesia merupakan Negara yang menganut sistem demokrasi modern, di mana sistem demokrasi ini tidak dapat terlepas dari adanya partai. Jadi pemerintahan demokrasi oleh rakyat dan untuk rakyat hanya terwujud melalui partai politik sebagai wakil suara rakyat di pemerintahan.

Partai Islam, akankah…?

Partai secara bahasa di sebut Hizb yang berarti tanah yang kasar (al-ardh al-ghalizhab asy-syadidah), namun dalam bahasa al-Qur’an di gunakan juga untuk menunjukan sebuah kelompok yang mempunyai kekuatan dan kekentalan. Partai sebagai sebuah kelompok yang ghirahnya kuat mempunyai kecenderungan bangga dengan dirinya sendiri atau kelompoknya. Pendirian partai biasanya tidak dapat terlepaskan dari nilai-nilai dan tujuan partai itu sendiri.

Sedangkan demonologi ditinjau secara etimologi adalah “the study of demons or evil spirits” dan secara terminologi adalah suatu perekayasaan sistem untuk menempatkan sesuatu agar ia dipandang sebagai ancaman yang menakutkan. dalam ilmu komunikasi termasuk dalam teori-penjulukan (labelling theory), yang bisa direkayasa menjadi public opinion sedemikian hebat sehingga korban misinterpretasi menjadi hancur reputasinya dan tak mampu bertahan.

Dalam kaitannya dengan partai Islam, maka demonologi adalah sebuah perekayasaan sistem perpolitikan untuk menempatkan partai Islam dan kadernya agar dipandang sebagai ancaman. Seharusnya bagaimana menempatkan partai Islam dalam kancah demokrasi di Indonesia.

Namun hingga saat ini partai plitik yang berbendera Islam masih saja tercerai berai. Sejarah telah mengaris bawahi sesungguhnya bersatunya umat Islam sangat dibutuhkan, ini dibuktikan dengan lahirnya partai Masyumi yang menyatukan organisasi Islam di Indonesia terutama dua kekuatan besar yaitu Muhammadiyah dan NU. Namun sejarah telah membuktikan Masyumi tidak dapat bertahan lama bahkan menghilang dari percaturan politik di sebabkan terjadi perpecahan. Perpecahan ini bermula dari lahirnya Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) pada tahun 1947 kemudian NU pada pada tahun 1952 dan berlanjut Muhammadiyah hingga organisasi-organisasi kecil sebut saja golongan salaf, al ikhwan, al irsyad, hizbut tharir.

Partai politik Islam semakin sulit untuk bersatu yang sarat dengan kepentingan politik. Pemerintahan menjadi ajang meraih kekuasaan bukan lagi mewujudkan visi Islam yang sesungguhnya, dalam urusan publik yang berkaitan dengan problematika keIslaman saja masih saja terjadi perbedaan pendapat.

Pada akhirnya Islam menjadi labelisasi pada sebuah partai dan Islam sudah tidak cocok menjadi alat politik namun tidak dapat menafikan adanya kampanye berbau agama. Pemilu tahu 2004 sudah membuktikan perolehan partai Islam tidak dapat mengunguli partai sekuler semacam Partai Golkar yang memperoleh suara 21,6 % dan PDI-P 18,5 %. Partai Islam semisal PKB hanya mendapatkan 10,6%, PPP 8,2%, PAN 6,4 % dan PKS 7,1%. Itu belum persoalan perpecahan di tubuh PKB yang menempatkan PKNU sebagai partai baru, notebenenya kader Nahdiyin sangat besar. Lain lagi dengan Muhammadiyah yang di anggap organisasi modern menempatkan PAN hanya mendapatkan segelintir suara.

Apalah jadinya jika partai yang bekonotasi Islam ini masih berjalan pada visi partai tanpa tahu arah tujuan visi Islam sesungguhnya. Belum lagi persoalan yang menekankan pada siapa yang pantas menjadi presiden dan wakil presiden. Dominasi pemimpin karismatik semakin hilang di tubuh partai Islam sebut saja mantan presiden Abdurrahman Wahid. Berbeda dengan partai lain yang masih menempatkan karima Megawati Soekarno Putri di PDI-P dan Susilo Bambang Yudhoyono di Partai Demokrat.

Adakah partai yang benar-benar memperjuangkan suara rakyat. Multipartai yang sekarang ada hanya ueforia atau hanya sekedar meramaikan pesta lima tahun sekali. Akan tetapi keberlanjutan partai terus membawa sederet masalah jika tidak mampu memberikan perubahan yang lebih baik untuk bangsa. Sederet problem yang selama ini menjadi momok permasalahan belum juga tertuntaskan sebagaimana mestinya lihat kasus korupsi yang terus berlanjut, penegakan hukum dan pelangaran hak asasi manusia.

Rakyat hanya bisa berharap semoga saja ada partai yang masih komitmen untuk memperjuangkan nasib mereka. Maka kita harus memandang persoalan terhadap kader Islam sebagai generasi yang unggul, pertama memfokuskan kepada pembinaan kader Islam supaya mereka lebih mengetahui lebih banyak lagi mengenai agamanya sehingga tercipta seorang muslim yang mempunyai hati dan akhlak yang luhur, serta intelektualitas, spiritualitas dan penguasaan teknologi. Kedua, kader Islam dalam memandang partai Islam tidak sebatas melihat dari ideologinya akan tetapi pada kader-kader yang berakhlak, visi dan misi yang berorientasi pada kesejahteraan untuk semua. Ketiga, bersatu kembali mewujudkan cita-cita Islam dengan menyatukan visi untuk kesejahteraan dan kemakmuran, “al-bunyan la taqumu fi yaumin wa lailatin“, Bangunan itu tidak mungkin dibangun hanya dalam sehari semalam.

Demonologi merupakan retorika yang menempatkan Islam menjadi ancaman, tidak heran pada akhirnya tercerai berai karena memiliki berbagai kepentingan. Jika saja umat Islam bersatu pada satu bendera tentu saja akan memiliki kekuatan yang besar dan akan dapat merubah tatanan sesuai dengan visi islam yang semestinya. Namun inilah demokarasi…, bagaimana umat Islam selanjutnya!

Saatnyalah partai yang berlabel Islam menyadari posisinya, kekuasaan bukan segalanya. Namun sandiwara politik kitalah yang menang dengan menempatkan aktor “demokrasi” sebagai pemeran utama, tidak heran jika partai menjadi alat untuk menguasai dan merubah tatanan aturan sistem di Indonesia.

* Pimpinan Redaksi Buletin BERSUARA Semarang dan Warga Teater BETA IAIN Walisongo Semarang

Aksi untuk palestina anak sanggar ILCI


[ Selasa, 06 Januari 2009 ]
Prihatin Palestina, Mahasiswa Bakar Diri
SEMARANG - Apa yang dilakukan Lukni Maulana benar-benar nekat. Untuk menunjukkan keprihatinannya yang mendalam atas invasi Israel ke Palestina, pemuda 24 tahun ini rela membakar dirinya. Untungnya, mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo angkatan 2003 ini tidak menderita cedera serius. Ia hanya mengalami luka lecet-lecet kecil di bagian pergelangan kaki dan tangannya.

Aksi nekat itu dilakukan Lukni dalam aksi keprihatinan bersama 50-an massa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang digelar di bundaran Tugu Muda Semarang Senin (5/1).

"Saya sudah yakin tidak apa-apa, karena sudah disertai perhitungan matang. Lagipula saya sudah pakai pengaman," kata Lukni usai melakukan aksi gendeng-nya tersebut.

Tak urung, aksi bakar diri itu pun mendapat perhatian masyarakat dan pengguna jalan yang melintas di sekitar Tugu Muda. Arus lalu lintas sempat tersendat, karena pengguna jalan melambatkan kendaraannya hanya untuk melongok aksi nekat Lukni. Namun kemacetan tidak berlangsung lama, karena aksi bakar diri hanya berlangsung tak lebih dari 2 menit.

Koordinator aksi Agus Thohir mengatakan, aksi keprihatinan HMI Cabang Semarang ini digelar serentak di 11 titik di Kota Semarang. Di antaranya, dilakukan di pertigaan jalan tol Gayamsari, Jalan Kartini, perempatan Bangkong, perempatan Milo, dan Tugu Muda. Aksi didukung perwakilan HMI dari Undip, IAIN Walisongo, Udinus, Unwahas, dan IKIP PGRI.

Di setiap aksinya, aktivis HMI menyebarkan selebaran, serta menghimpun dana sumbangan dari masyarakat. Pengumpulan dana ini rencananya akan dilakukan selama tiga hari hingga Rabu (7/1) besok. Selanjutnya, dana yang terkumpul akan disumbangkan ke Palestina melalui Gerakan Muslim Muda se-Asia di Jakarta.

"Selama 10 hari penyerangan Israel, telah menewaskan 400 lebih muslim Palestina. Tidak ada jalan lain bagi kita sesama muslim untuk membantu dalam hal apapun. Dan, kami menyediakan diri untuk menyalurkan bantuan tersebut," kata Thohir. (dib/aro)
http://jawapos.com/radar/index.php?act=detail&rid=55470


Kamis, 22 Januari 2009

KAWASAN WISATA EKOLOGI


KAWASAN WISATA EKOLOGI
Wisata ekologi (ecotourism) merupakan salah satu program pemerintah Semarang sebagai bentuk perwujudan kota berwawasan lingkungan. Namun bagaimana mewujudakan wisata ekologi tersebut, jika identitas kota Semarang sebagai kota barang dan jasa masih terjadi konflik terkait dengan perencanaan kota. Konflik tersebut terjadi sebagai akibat ketidakyamanan masyarakat terhadap kinerja pemerintah kota, seperti; kurangnya sarana dan prasarana lingkungan, penderitaan yang di akibatkan oleh banjir dan tanah longsor, pengalihan lahan pertanian menjadi industri dan perumahan dan bahkan berbagai benturan kepentingan terkait dengan lahan dan ruang yang semakin terbatas.
Maka seyogyanya pemerintah kota dapat memberikan perencanaan kota yang tidak mengkesampingkan masyarakat marjinal dan dapat memberikan yang terbaik demi kemakmuran dan kesejahteraan masyarakatnya. Masyarakat tentu akan bangga sekali jika wisata ekologi menjadi suatu dambaan sebagai upaya untuk menarik para wisatawan lokal maupun asing. Mereka akan terpesona dan terkesima bahwa ibu kota yang biasanya identik dengan kegiatan ekonomi mampu menyuguhkan kesan lain berupa taman-taman wisata berbasis lingkungan. Salah satu proyeksi tempat wisata ekologi tersebut yaitu terletak di kawasan Semarang Tengah, khususnya kawasan Gunung Pati dan Mijen dan Kawasn Semarang Barat, khususnya kawasan Mangkang. Sebab kawasan tersebut memiliki nilai keindahan alam serta kekayaan tanaman dan buah-buahan. Hal ini ditengarai oleh keunikan dan potensi kawasan tersebut, semacam Guo Kreo yang telah dikenal karena potensi alam dan hewan yang hidup bebas serta memiliki sungai-sungai dengan arus yang cukup deras. Bayaknya tempat pemancingan sebagai nilai plus untuk pengelolaan wisata ekologi, bahkan Semarang masih memiliki banyak tempat wisata yang bisa dikembangkan menjadi kawasan wisata ekologi diantaranya kawasan Pantai Maron dan Marina, Taman Margasatwa Wonosari atau Bonbin Mangkang, Kawasan Hutan dan Danau BSB di Ngaliyan dan Air Terjun dan gunung di Ungaran.
Oleh sebab itu, biar tidak terjadi konflik perencanaan kota antara pemerintah dengan masyarakat. Setidaknya pemerintah kota mampu membuat perencanaan kota berwawasan lingkungan yang tidak memarjinalkan daerah-daerah pingiran kota yang biasanya terkenak dampak dari pembangungan kawasan kota. Ini dapat dilihat dari banyaknya bencana baik bencana banjir maupun tanah longsor yang menimpa di kawasan tersebut semisal di daerah Genuk, Mangkang, Tugu, Tembalang, dan Gayam Sari.
Sebab kawasan wisata ekologi merupakan bentuk penyadaran nilai antara pemerintah dan masyarakat. Maka pemerintah dan masyarakat harus memiliki kesadaran dan bersemangat dalam mewujudkan wisata ekologi melalui partisipasinya dalam menjaga dan merawat lingkungan bukan hanya konflik perencanaan kota yang menimbulkan konflik sosial. Melalui kawasan wisata ekologi diharapkan kita mampu bersifat arif dan bijak terhadap alam, karena sekarang ini dunia telah dilanda oleh krisis ekologi salah satu permasalahan internasional yaitu akibat terjadinya global warming. Kota Masa Depan Kawasan wisata ekologi sebagai bentuk representasi kota masa depan yang lebih bercorak kepada kota berwawasan lingkungan tanpa menghilangkan nilai kota berbasis barang dan jasa. Kota masa depan merupakan sebuah perencanaan kota Semarang yang memiliki slogan ATLAS (Aman Tertib, Lancar, Asri, dan Sehat), tentunya kota yang mampu memberikan rasa kemanusiaan dan kesejahteraan kepada masyarakat. Kawasan wisata ekologi bukan hanya pemanfaatan ekonomi bisnis semata, namun terikat dengan tujuan kota masa depan yaitu yang mampu memberikan pembelajaran pendidikan nilai lingkungan hidup baik berupa tempat riset atau laboratorium ekologi. Melalui wisata ekologi seseorang mulai belajar experiential learning (belajar melalui pendekatan pengalaman), pepatah bijak mengatakan pengalaman adalah guru terbaik. Menanamkan pendidikan nilai lingkungan hidup tidak hanya proses kegiatan belajar mengajar di kelas, namun dapat diterapkan di kawasan wisata ekologi yang menyajikan pembelajaran interaktif semisalnya; outbound, outing, arum jeram, fly fox dan pengenalan tumbuhan dan binatang. Lewat pembelajaran nilai lingkungan hidup di kawasan wisata ekologi merupakan sebagai bentuk pembelajaran pelestarian kota, karena kawasan kota telah lelah dengan kegiatan industri dan perdagangan yang sering kali memberikan kejenuhan dan kebosanan. Akankah perwujudan kawasan wisata ekologi dapat terrealisasikan, yang tidak hanya sekedar mengejar motif ekonomi akan tetapi mampu mewujudkan tujuan kota masa depan yang menghargai lingkungannya. Peran Masyarakat Kawasan wisata ekologi merupakan tujuan mulia yang akan menanamkan nilai-nilai, baik struktur ekonomi, pendidikan, sosial dan budaya maupun estetika. Bahkan merupakan kebanggaan tersendiri buat kota Semarang jika mampu merealisasikan kawasan tersebut serbagai bentuk pembelajaran terhadap alam. Adanya kawasan wisata ekologi merupakan terobosan baru yang tentunya jangan di sia-siakan begitu saja, akan tetapi menjadi sebuah kesempatan baik untuk pemerintah maupun masyarakat. Oleh sebab itu, harus ada bentuk kerja sama antara pemerintah dan masyarakat untuk merealisasikan kawasan wisata ekologi, agar setiap orang mampu menyadari peran dan hubungan dirinya dengan lingkungan hidup. Sebab masyarakat sebagai sistem sosial yang memiliki interaksi dan komunikasi langsung dengan lingkungan hidupnya memiliki andil besar dalam mewujudaknya baik memalui bentuk pelestarian dan menjaga keseimbangan (equilibrium) lingkungan, karena masyarakat sebagai penghuni lingkungan hidup. Menjunjung tinggi kesadaran lingkungan adalah sebuah alternatif individu, dan akhirnya menuntut kesadaran kolektif. Bahkan masyarakat dapat mengembangkanya ke dalam dataran ekonomi semisalnya dengan pengembangan usaha makanan kecil, oleh-oleh khas Semarang dan pernak-pernik kerajinan tangan. Tentunya potensi wisata ekologi menjadi pola hubungan yang saling menguntungkan dan upaya pemerintah dalam meningkatkan perekonomian masyarakat. Melalui kerjasama tersebut diharapkan dapat mendapatkan manfaat, selain sebagai upaya untuk pelestarain dan penghijauan alam. Dengan demikian kawasan wisata ekologi adalah sebuah kebutuhan dan peran masyarakat sangat dibutuhkan dalam mewujudkan hal tersebut. Maka setiap masyarakat berhak untuk mengaktualisasikan ide dan gagasan perencanaan kota masa depan yang lebih hijau dan indah. Kerjasama antara pemerintah dan masyarakat merupakan keterpaduan yang harusnya saling menopang guna mewujudkan kota berwawasan lingkungan. Dengan demikian selain sebagai upaya mewujudkan kota masa depan, kawasan wisata ekologi menjadi proyeksi kota Semarang untuk menunjukan eksistensi kota berwawasan lingkungan.

Minggu, 11 Januari 2009

KETERAMPILAN BERBAHASA LISAN


KETERAMPILAN BERBAHASA LISAN

Siti Muallifah*


Manusia ditinjau dari sudut antropologi di istilahkan sebagai “homo socius” artinya mahluk yang bermasyarakat, saling tolong menolong dan berinteraksi dengan sesama dalam rangka mengembangkan kehidupanya di segala bidang. Dalam kehidupan sehari-hari setiap anggota masyarakat terlibat dalam komunikasi, baik komunikasi lisan maupun komunikasi tertulis. Agar dalam komunikasi berjalan lancar, masing-masing pihak harus dapat saling memahami maksud yang dikomunikasikan, maka diperlukan sarana yang tepat dalam mewujudkan hal tersebut terutama kepada siswa.
Di lihat dari aspek ini maka diperlukan pengembangan pembelajaran interaktif, terutama penyampaian ide ke dalam bahasa lisan. Namun dalam kenyataan di kelas sangat berbeda sekali, untuk mengutarakan idenya saja siswa banyak yang belum bisa, apa lagi sampai menyajikannya ke dalam bahasa lisan. Sebab pembelajaran di kelas terlalu monoton seperti ceramah, jadi murid hanya menjadi obyek transfer knowledge.
Untuk mewujudkan hal itu maka pendidikan menjadi sarana utama yang perlu di kelola, secara sistematis dan konsisten berdasarkan berbagai pandangan teoritikal dan praktikal sepanjang waktu sesuai dengan lingkungan manusia hidup itu sendiri. Terutama pada kegiatan belajar mengajar di kelas, seorang pendidik harus mampu mengembangkan potensi siswa terutama pengembangan ide dan kemampuan mengutarakannya ke dalam bahasa lisan.
Pendidik merupakan salah satu komponen yang penting dalam rangka mewujudkan suatu proses belajar mengajar. Fungsi guru disini akan menyampaikan, memberikan dan mentransformasikan ilmu kepada anak didik dari apa yang belum bisa menjadi bisa, apa yang belum tahu menjadi tahu, sehingga proses belajar mengajar itu dikatakan berhasil. Pendidik sangat berperan dalam rangka pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas, oleh karena itu harus dapat menempatkan diri sebagai tenaga profesional yang baik, bertanggung jawab sesuai dengan tugas profesinya.

Pendidik juga di tuntut untuk menyajikan pembelajaran yang menarik dan meyenangkan, sehingga siswa tertarik untuk mengikuti pelajaran dengan serius. Maka seorang pendidik harus mampu memberikan metode yang terbaik kepada siswa. Serta mampu memanfaatkan media pembelajaran untuk memahamkan pokok materi dan merangsang siswa untuk bisa mendapatkan ide baru secara logis. Dengan menemukan ide baru, kemudian siswa dapat menulisnya dan pendidik memberikan stimulus kepada siswa untuk bisa menyampaikannya ke dalam bahasa lisan
Sebab salah satu dari sekian banyak jenis keterampilan yang penting untuk dimiliki oleh setiap orang adalah keterampilan berbicara atau seni berbicara yang biasa disebut dengan teknik retorika. Serta kemampuan mengevaluasi dan menganalisa materi pelajaran sehingga siswa mampu mendapatkan ide baru dari proses belajar serta dapat menyajikannya ke dalam bahasa lisan.
Oleh sebab itu keterampilan berbahasa lisan dan menemukan ide baru dalam materi belajar siswa perlu dikembangkan secara sistematis. Maka dari itu seorang pendidik harus mampu mengembangkan pendidikan partisipatif dengan memberikan suguhan model pembelajaran aktif. Salah satu teknik pembelajaran aktif semisal dengan, memanfaatkan media gambar untuk merangsang siswa menemukan ide baru dari gambar tersebut, kemudian siswa diajak untuk berpendapat sehinga terjadi komunikasi satu arah. Terkadang penggunaan gambar cenderung membosankan, namun media gambar dapat di sajikan pula dengan teknik permainan, simulasi, problem solving dan drill and paractic. Setelah mampu terjalin komunikasi aktif bisa di kembangkan lewat diskusi partisipatif, sehingga tercipta komunikasi dua arah atau lebih.
Keterampilan dalam berbahasa lisan merupakan keterampilan bahasa yang perlu dikuasai dengan baik, karena ketrampilan berbahasa suatu indikator terpenting bagi keberhasilan siswa. Melalui penguasaan keterampilan berbicara yang baik, siswa dapat mengkomunikasikan ide-ide dan gagasannya, baik di sekolah dan lingkungan hidupnya.
Selain itu pendidik merupakan instrumen proses pendidikan sebab salah satu faktor penentu keberhasilan terletak pada eksistensi guru yang mempunyai peranan penting dalam kegiatan belajar mengajar. Dalam arti seorang yang bertanggung jawab menghantarkan ke arah kedewasaan dan kematangan.


* Guru Bahasa Indonesia SMA Muhammadiyah 2 Demak dan Pengiat Sanggar ILCI


.

Megawati Dan Politik Dinasti


Megawati Dan Politik Dinasti


Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) merupakan presiden ke enam setelah mengantikan presiden Megawati Soekarno Putri, setelah kemenangan koalisi Partai Demokrat dan Golongan Karya pada pemilu 2004. SBY adalah sesosok pemimpin yang memiliki karismatik tersendiri jika dilihat dari sudut pandang perjalanan hidupnya, ia adalah seseorang keturunan ningrat Anjosari II (Majapahit) dan Sultan Hamengku Buwono III dari jalur ayahnya Soekotjo yang beristri Siti Habibah. Nama SBY sendiri sebelumnya tidak begitu di perhitungkan namun jika dilihat dari pendidikan dan kepemimpinan, ia mahasiswa lulusan terbaik di AKABRI tahun 1973 dengan mendapatkan Piagam Lencana Adhi Makasaya yang langsung diterimanya dari presiden Soeharto. Karir militernya mulai menanjak semenjak SBY menjabat sebagai kepala staf sosial politik ABRI yang berubah nama setelah reformasi menjadi kepala staf tertorial TNI tahun 1998-1999.
Jika melihat sesosok SBY adalah seseorang yang memiliki jiwa kepemimpinan militer seperti mantan presiden Soeharto. Jadi jiwa kesatria sangat melekat pada dirinya. Alur kehidupanya berubah drastis ketika SBY mendirikan Partai demokrat sekaligus menjabat ketua umum dan mencalonkan diri menjadi kandidat presiden 2004. Lantas SBY mengandeng Yusuf Kalla untuk menempati wakil presiden dari Partai Golongan Karya yang memiliki masa kuat di kancah politik Indonesia. Sebenarnya perpecahan Partai golongan karya sudah terjadi semenjak Wiranto mencalonkan diri menjadi presiden. Namun sesosok SBY memiliki jiwa karismatik tersendiri di mata rakyat Indonesia. Pandangan rakyat tidak terlepas dari konteks Jawa yang berangapan bahwa SBY adalah sosok ratu adil atau pangeran piningit yang akan merubah keadaan Indonesia menjadi lebih baik. Episode baru inilah yang mengantarkan SBY ke puncak kursi jabatan tertinggi menjabat presiden republik Indonesia.
Perjalanan hidup manusia terus berubah layaknya air yang terus mengalir. Nama SBY semenjak menjadi presiden hingga penghujung pemilihan umum tahun 2009 mulai ada tanda-tanda penurunan popularitas. Mengapa nama SBY sekarang ini mengalami penurunan popularitas di bandingkan dengan mantan presiden ke lima Megawati Soekarno Putri, ada beberapa alasan diantaranya; pertama, di kancah dunia perpolitikan mulai muncul Partai politik baru dan para pendirinya tidak jauh-jauh dari periode orde baru sebut saja Wiranto, Rizal Ramli, Sultan Hamengku Buwono, Prabowo, Yusril Ihza Mahendra, dan Sutiyoso yang siap mencalonkan diri menjadi presiden republik Indonesia. Kedua, stabilitas ekonomi yang tidak mengalami perubahan apa lagi semenjak SBY menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) periode kedua sebesar tiga puluh persen, yang berakibat lahirnya orang miskin baru (OMB). Ketiga, momentum hari pendidikan nasional dan kebangkitan nasional berdampak pada aksi radikal para aktivis mahasiswa yang berakibat terbunuhnya mahasiswa UNAS. Pemerintahan SBY mencoba mengeluarkan kebijakan melalui bantuan khusus mahasiswa (BKM) dan seluruh aktivis mahasiswa perguruan tinggi menolak kebijakan tersebut sebagai kebijakan suap. Dampak ini berpengaruh pada tatanan hukum dan hak asasi manusia (HAM) yang surut dengan ketidak tegasan pemerintah mengambil sikap.
Kini presiden SBY mulai terjepit pada posisi yang tidak mengenakan bagi dirinya, sebab di mata rakyat Indonesia presiden SBY sudah tidak bisa mengerti keluh kesah rakyat Indonesia. Semenjak nama SBY redup muncul sosok yang memiliki karismatik tersendiri yaitu Megawati. Mantan presiden ke lima ini sudah mulai mengibarkan sayapnya di belantika perpolitkan Indonesia dan siap mencalonkan diri menjadi presiden mengantikan SBY. Popularitas Megawati sempat turun ketika menjabat presiden dan mengambil kebijakan radikal dengan menjual aset-aset Negara kepada pihak asing. Akan tetapi semenjak di penghujung pemilihan umum tahun 2009 nama Megawati sudah diatas angin jika di bandingkan dengan SBY di Partai Demokrat maupun kubu Gus Dur sendiri yang mengalami perpecahan di PKB.
Perjalanan Megawati untuk merebut simpati rakyat tidak terlepas dari kerja keras dan sikap lembutnya menjadi ketua umum dewan pimpinan Partai PDI Perjuangan. Popularitas Megawati terus naik di bandingkan dengan SBY dapat di lihat dari konteks perjalanan politiknya di antaranya, sesosok pemimpin karismatik di paratai PDI Perjuangan yang memiliki basis masa kuat dan fanatik di seluruh Indonesia, apalagi semenjak pilgub Jawa Tengah mengusung Bibit Waluyo dan Rustriningsih menjadi pemenang yang mendapatkan suara hampir setengah penduduk Jawa Tengah. Ini hanya seklumit Megawati di PDI Perjuangan, namun yang menjadi catatan penting yaitu Megawati sebagai sesosok anak proklamator kemerdekaan Indonesia Soekarno. Dapat dirasakan karismatika Soekarno yang mengajarkan rakyat Indonesia untuk menjaga nasionalisme menjadi pertimbangan popularitas Megawati tersendiri. Politik dinasti atau keturunan sangat kuat di Indonesia jadi Megawati sangat beruntung mendapatkan karismatika orang tuanya.
Sedikit berbeda dengan SBY yang terus berjuang dari titik nol untuk menjadi orang nomor satu di Indonesia. Bagi rakyat Indonesia tengelamnya nama SBY tidak berpengaruh, namun dengan saingan politik sebut saja Megawati sangat berpengaruh kuat. Bagi Megawati tersendiri yang menjadi catatan penting adalah ia harus menjaga peran karismatika Soekarno terhadap dirinya dan menjaga keutuhan kader PDI Perjuangan.
 

blogger templates | Make Money Online