SELAMAT DATANG DI WEBLOG NEGERI KEGILAAN (Menebar Cinta Menerangi Semesta)

Minggu, 11 Januari 2009

Megawati Dan Politik Dinasti


Megawati Dan Politik Dinasti


Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) merupakan presiden ke enam setelah mengantikan presiden Megawati Soekarno Putri, setelah kemenangan koalisi Partai Demokrat dan Golongan Karya pada pemilu 2004. SBY adalah sesosok pemimpin yang memiliki karismatik tersendiri jika dilihat dari sudut pandang perjalanan hidupnya, ia adalah seseorang keturunan ningrat Anjosari II (Majapahit) dan Sultan Hamengku Buwono III dari jalur ayahnya Soekotjo yang beristri Siti Habibah. Nama SBY sendiri sebelumnya tidak begitu di perhitungkan namun jika dilihat dari pendidikan dan kepemimpinan, ia mahasiswa lulusan terbaik di AKABRI tahun 1973 dengan mendapatkan Piagam Lencana Adhi Makasaya yang langsung diterimanya dari presiden Soeharto. Karir militernya mulai menanjak semenjak SBY menjabat sebagai kepala staf sosial politik ABRI yang berubah nama setelah reformasi menjadi kepala staf tertorial TNI tahun 1998-1999.
Jika melihat sesosok SBY adalah seseorang yang memiliki jiwa kepemimpinan militer seperti mantan presiden Soeharto. Jadi jiwa kesatria sangat melekat pada dirinya. Alur kehidupanya berubah drastis ketika SBY mendirikan Partai demokrat sekaligus menjabat ketua umum dan mencalonkan diri menjadi kandidat presiden 2004. Lantas SBY mengandeng Yusuf Kalla untuk menempati wakil presiden dari Partai Golongan Karya yang memiliki masa kuat di kancah politik Indonesia. Sebenarnya perpecahan Partai golongan karya sudah terjadi semenjak Wiranto mencalonkan diri menjadi presiden. Namun sesosok SBY memiliki jiwa karismatik tersendiri di mata rakyat Indonesia. Pandangan rakyat tidak terlepas dari konteks Jawa yang berangapan bahwa SBY adalah sosok ratu adil atau pangeran piningit yang akan merubah keadaan Indonesia menjadi lebih baik. Episode baru inilah yang mengantarkan SBY ke puncak kursi jabatan tertinggi menjabat presiden republik Indonesia.
Perjalanan hidup manusia terus berubah layaknya air yang terus mengalir. Nama SBY semenjak menjadi presiden hingga penghujung pemilihan umum tahun 2009 mulai ada tanda-tanda penurunan popularitas. Mengapa nama SBY sekarang ini mengalami penurunan popularitas di bandingkan dengan mantan presiden ke lima Megawati Soekarno Putri, ada beberapa alasan diantaranya; pertama, di kancah dunia perpolitikan mulai muncul Partai politik baru dan para pendirinya tidak jauh-jauh dari periode orde baru sebut saja Wiranto, Rizal Ramli, Sultan Hamengku Buwono, Prabowo, Yusril Ihza Mahendra, dan Sutiyoso yang siap mencalonkan diri menjadi presiden republik Indonesia. Kedua, stabilitas ekonomi yang tidak mengalami perubahan apa lagi semenjak SBY menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) periode kedua sebesar tiga puluh persen, yang berakibat lahirnya orang miskin baru (OMB). Ketiga, momentum hari pendidikan nasional dan kebangkitan nasional berdampak pada aksi radikal para aktivis mahasiswa yang berakibat terbunuhnya mahasiswa UNAS. Pemerintahan SBY mencoba mengeluarkan kebijakan melalui bantuan khusus mahasiswa (BKM) dan seluruh aktivis mahasiswa perguruan tinggi menolak kebijakan tersebut sebagai kebijakan suap. Dampak ini berpengaruh pada tatanan hukum dan hak asasi manusia (HAM) yang surut dengan ketidak tegasan pemerintah mengambil sikap.
Kini presiden SBY mulai terjepit pada posisi yang tidak mengenakan bagi dirinya, sebab di mata rakyat Indonesia presiden SBY sudah tidak bisa mengerti keluh kesah rakyat Indonesia. Semenjak nama SBY redup muncul sosok yang memiliki karismatik tersendiri yaitu Megawati. Mantan presiden ke lima ini sudah mulai mengibarkan sayapnya di belantika perpolitkan Indonesia dan siap mencalonkan diri menjadi presiden mengantikan SBY. Popularitas Megawati sempat turun ketika menjabat presiden dan mengambil kebijakan radikal dengan menjual aset-aset Negara kepada pihak asing. Akan tetapi semenjak di penghujung pemilihan umum tahun 2009 nama Megawati sudah diatas angin jika di bandingkan dengan SBY di Partai Demokrat maupun kubu Gus Dur sendiri yang mengalami perpecahan di PKB.
Perjalanan Megawati untuk merebut simpati rakyat tidak terlepas dari kerja keras dan sikap lembutnya menjadi ketua umum dewan pimpinan Partai PDI Perjuangan. Popularitas Megawati terus naik di bandingkan dengan SBY dapat di lihat dari konteks perjalanan politiknya di antaranya, sesosok pemimpin karismatik di paratai PDI Perjuangan yang memiliki basis masa kuat dan fanatik di seluruh Indonesia, apalagi semenjak pilgub Jawa Tengah mengusung Bibit Waluyo dan Rustriningsih menjadi pemenang yang mendapatkan suara hampir setengah penduduk Jawa Tengah. Ini hanya seklumit Megawati di PDI Perjuangan, namun yang menjadi catatan penting yaitu Megawati sebagai sesosok anak proklamator kemerdekaan Indonesia Soekarno. Dapat dirasakan karismatika Soekarno yang mengajarkan rakyat Indonesia untuk menjaga nasionalisme menjadi pertimbangan popularitas Megawati tersendiri. Politik dinasti atau keturunan sangat kuat di Indonesia jadi Megawati sangat beruntung mendapatkan karismatika orang tuanya.
Sedikit berbeda dengan SBY yang terus berjuang dari titik nol untuk menjadi orang nomor satu di Indonesia. Bagi rakyat Indonesia tengelamnya nama SBY tidak berpengaruh, namun dengan saingan politik sebut saja Megawati sangat berpengaruh kuat. Bagi Megawati tersendiri yang menjadi catatan penting adalah ia harus menjaga peran karismatika Soekarno terhadap dirinya dan menjaga keutuhan kader PDI Perjuangan.

Tidak ada komentar:

 

blogger templates | Make Money Online