SELAMAT DATANG DI WEBLOG NEGERI KEGILAAN (Menebar Cinta Menerangi Semesta)

Sabtu, 24 Januari 2009

PESAN AKHIR KEMATIAN*


PESAN AKHIR KEMATIAN*

Prolog :

Semua peserta/pemain berada di panggung menyanyikan lagu ” Anak-anak di jual bersama-sama, yang di irimgi musik.

( semua pemain meninggalkan panggung setelah lagu selesai, kecuali pemeran Bunga yang duduk merenung memandangi bait-bait puisi)

Narasi :

Jarak 75 KM dari pusat kota Semarang, nampak terlihat perkampungan dipinggiran hutan karet. Di sinilah Bunga (Nama samaran ) tinggal di sebuah kontrakan sederhana, Bunga tumbuh sebagai remaja putri cantik di kampungnya. Kesehariannya sering menggantikan Ibunya mengerjakan pekerjaan rumah, setelah Ia tidak bisa lagi melanjutkan sekolahnya. Pendidikan Bunga terhenti saat duduk di kelas dua SMP.

( Bunga membaca puisi penuh ekpresi kesedian )

Cat : Buat 2 bait puisi tentang perjalanan rumah tangga yang broken home dan hak-haknya yang terabaikan.

(Di belakang/ luar panggung terdengar kegaduhan pertengkaran kedua orang tua Bunga yang selalu mempersoalkan kondisi keluarga. Kegaduhan pertengkaran ini, semakin lama semakin dekat dan memasuki panggung . suasana ini diiringi musik)

cat : bikin dialog pertengkaran kedua ortu

Dialog :

Ibu : ”Bapak selalu mementingkan urusannya sendiri, dan tak pernah tau istri dan anak !”

Bapak : ”Memangnya Ibu pernah memikirkan masa depan anak kita?” Apa yang Ibu berikan ?” Setiap hari keluyuran tak jelas apa yang dilakukan”.

Ibu : ”Sekarang bisa saja bapak bicara begitu!, Berkacalah…. Setiap hari kerja bapak hanya mabok dan selebihnya main kartu di ujung gang”.

Bapak : ” Ya , memang beginilah keadaan saya, Lantas apa maumu?”

Ibu : ”Saya tidak betah hidup seperti ini. Saya menginginkan kita hidup dengan cara masing-masing”.

Bapak : ”maksudnya?,…. cerai?”

Bunga : ” Cukup !” Saya masih terlalu muda untuk mendengar dan menyaksikan ini. Cukup Bapak…, Cukup Ibu !”

( Bunga berlari dengan raut muka sedih dan marah meninggalkan panggung sambil membantik lembaran kertas puisi yang di bawanya)

Narator :

Ya…, terkabullah permintaan ibu bunga untuk bercerai dengan suaminya. Akhirnya bapak Bunga pergi meninggalkan rumah kontrakan dan tak pernah memberi kabar sedikitpun. Begitu pula dengan Ibu bunga, 1 bulan setelah sepergian suaminya, Iapun berpamitan kepada Bunga untuk pergi bekerja menjadi TKI, dan berjanji akan selalu mengirim uang tiap bulan untuk kebutuhan Bunga . Namun apa yang dijanjikan Ibunya, ternyata tidak sekalipun Ia mengirimkan kabar . Bunga akhirnya memutuskan meninggalkan kontrakan. Ia memilih hidup bersama sahabatnya yang tinggal tidak jauh dari pusat kota.

Dialog :

Surti (nama samaran ) : ”Sebetulnya apa yang kau rasakan tak jauh beda dengan yang aku rasakan Bunga ”.

Bunga : ” Apa yang terjadi denganmu ?”

Suirti : ” Saya tinggal bersama nenek dan ke dua orang tuaku ikut program transmigrasi ke luar jawa”. ”Saya harus mengamen di jalanan untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup kami ”.

Natrator :

Akhirnya Bunga mau tidak mau harus mengikuti jejak sahabatnya, yaitu dengan cara mengemis/mengamen di jalanan, dari perempatan, kereta, bis kota maupun pusat keramaian. Satu tahun kemudian Bunga dan Surti sering kali di ajak tante Tutik ke rumahnya, kadang diajak jalan-jalan ke tempat –tempat rekreasi. Mereka berkenalan dengan tante Tutik saat mengamen di permpatan. Rupanya tante tutik sering kali sinnggah di tempat mangkal bunga dan Surti.

Dialog :

Tante Tutik : ” He ..Apa kalian mau bekerja menjadi pembatu rumah tangga di tempat saudaraku ?” . ”Di sana sambil bekerja juga akan di sekolahkan.

Bunga : ”Apa kami mendapat imbalan uang setelah bekerja ?”

Tante tutik : ” Ya pasti, Satu bulan sekali mendapatkan upah sebesar 500.000 rupiah”.

Narator :

Akhirnya tanpa pikir panjang Surti dan Bunga menerima tawaran tante Tutik untuk bekerja menjadi pembatu rumah tangga.. Keesokan harinya mereka menyiapkan beberapa kebutuhannya seperti pakaian dan sdedikit uang tabungan hasil mengamen. Bersama tante Tutik merteka menuju ke salah satu tempat dengan mengendarahi transpotasi jasa travel.

Dialog

Tante Tutik : ”Kalian sementara akan aku titipkan di rumah saudaraku”.

Bunga : ”Kenapa tidak langsung ke tempat kerja tante ?”

Tante Tutik : ”Ya Kalian akan langsung kerja, setelah tante mengurus identitas kalian. ”klian kan belum mempunyai KTP ?”

Surti : ”Maksudnya, identitas kami akan dipalsukan ?”

Tante Tutik : ” Ya , betul agar pekerjaan kalian lancar!’ Kalian aku tinggal sementara Nanti saudaraku pasti menjumpai kalian ”.

(Bunga dan Surti mengangguk tanda mengerti., Kemudian Tante tutik meninggalkan rungan. Tak lama kemudian datang Seorang wanita (Mami Dina ) yang mengaku saudara tante Tutik.)

Dialog :

Mami Dina : ” He … Apa kalian yang bernama Bunga dan Surti?’

Bunga dan Surti : ” Betul Tante”. Tante ini siapa ya ?”

Mami Dina : ” Jangan panggil aku Tante , Panggil saja aku mami, mami Dina”. Saya kakaknya Tutik yang tinggal di kota ini. ”Saya yang meminta tolong Tutik supaya mencarikan orang untuk membantu pekerjaan rumah”.

Narator :

Sesaat setelah cukup istirahat, akhirnya mereka meninggalkan rumah penampung sementara menuju arah barat kota . Sesampainya tujuan Bunga dan Surti sempat terheran-heran, melihat suasana ramai di tengah perkampungan kecil. Selama 1 minggu mereka di perlakukan layaknya pembantu rumah tangga. Sikap ramahpun nampak tercermin oleh mami dina. Tak segan pula mami Dina mengajak shoping Bunga dan Surti untuk sekedar membeli pakaian trendi. Nama Bunga dan Surti perlahan berubah menjadi Shinta dan Shanti. Pekerja mereka perlahan bergeser menjadi pelayan mini bar. Suatu hari Bunga dimintai menemani tamu laganan (eksekutif muda ) yang berkunjung.

(Tamu) Rudi : ” Kamu nampak cantik?”… O.ya… Temeni Om ke hotel sebentar ya?” ada sesuatu untukmu

Bunga : ” Memangnya Om mau ngapain?” Biar aku tunggu di sini saja:.

Rudi : ” Tidak apa sebentar saja . Lagi pula Mamimu sudah memberikan izin.

Mami Dina : ” Iya ,….Bunga temanilah om Rudi sebentar, itu bagian dari kerjamu”.

Bunga : ”Baiklah kalau begitu”.

Narator :

Mereka akhirnmya meninggalkan tempat dan menuju ke hotel dimana Rudi menginap. Disinilah di kamar hotel , rupanya bunga diperdaya oleh Rudi. Bunga harus menelan rasa getir perih dan tercabik-cabik saat kesuciannya terenggut. Acapkali teriakan rasa sakit seolah memecah seisi ruangan hotel. Hal yang tak jauh berbedapun dialami oleh Surti. Akhirnya mereka tak bisa berbuat apa-apa selain pasrah terhadap keadaan. Waktu demi waktu terus bergulir, siang berubah menjadi malam. 3 tahun sudah Bunga dan Surti hidup dalam cengkraman penguasa rumah bordil, yang setiap hari harus di paksa menjadi pemuas nafsu para lelaki hidung belang, menjadi pemakai obat-obatan dan minuman keras. Bahkan saat ini surti dan Bunga tidak tinggal bersama lagi. Surti di jual kepada orang asing untuk di jadikan istri kontrak..

Dialog :

Bunga : ” Tuhan Kapan kami keluar dari cengkraman lingkaran ini?” Kami sudah tak kuat lagi Tuhan. Apa salah kami ?’ ……Kami hanyalah korban …………….

Pelanggan : ”Masih ada tersisa mutiara dari sekian banyak penikmat nafsu saudaraku”

Bunga : ” Siapa tuan ini , apakah belum cukup melihat penderitaan ini”.

Pelanggan : ”Justru kedatangan saya ini, bermaksud mengajak Bunga keluar dari persoalan ini.

Bunga : ” Benarkah tuan mau menolong saya?” Terimakasih tuan-terimakasih tuan”.

(Pada saat mereka mau meninggalkan kamar dan bermaksud mengelabuhi mami Dina , tiba-tiba Bunga jatuh pingsan. Mami Dina , Pelanggan dan beberpa teman Bunga. Berusaha mengangkat Bunga memindahkan ke ruangan tak jauh dari tempat Bunga pingsan.)

Dialog :

Temen Bunga : ” Mami, Bunga …..badan Bunga panas dan nafasnya tak beraturan”.

Mami : ” Coba kamu keluar lekas cari dokter!”

Pelanggan : ” Mari mbak aku temani cari dokter.’.

Narator :

Sementara mereka mencari pertolongan dokter, kondisi Bunga semakin lama-semakin parah , panas dibdanya semakin tinggi dan seolah tiada daya yang tersisa. Tak lama kemudian datanglah seorang dokter bersama pelanggan dan temen Bunga. Dokter langsung menghampiri dan memeriksanya.

Dialog :

Dokter : ” Kondisinya cukup serius, Aku sarankan untuk segera dibawa ke rumah sakit ”.

Mami : ”baiklah kalau begitu dok ”.

Temen Bunga : ” Mari Mas kita angkat Bunga ke mobil ”.

(Belum sampai ke mobil, Bunga menggerakkan ke dua tangannya dan kemudian siuman. Mereka meletakkan kembali Bunga dan menyandarkan tubuhnya ke bahu pelanggan. Saat itulah sedikit terucap dari bibir mungil Bunga.)

Bunga : ” Kehidupan selalu mengalir …….. berliku perjalanan …banyak duri batu menghadang”.

(Bunga mengambil secarik kertas dari balik kain bajunya . Saat itulah bunga menghembuskan nafas terakhir. Pelanggan perlahan mengambil selembar kertas bertuliskan bait-bait puisi. Kemudian penuh penghayatan pelanggan membacanya bait puisi tersebut)

Cat : Tolong bikin puisi bertemakan perjuangan hidup manusia . bahwa pekerjaan ini sesungguhnya tidak dikehendaki oleh Bunga atau Bunga-bunga yang lain. Tidak sepantasnya anak-anak di eksploitasi .

Narator :

Bunga adalah sebagian contoh korban kebiadaban ( Tolong lanjutkan narasi ending ini . Bunga mati karena penyakit HIV AIDS yang di deritanya. Sedangkan Surti mengalami cacat mental dan fisik karena korban kekerasan dari swami kontrak. Saat ini Ia tinggal di rumah sakit jiwa.


Naskah ini di ambil dari diskusi kelompok peserta . Dikembangkan oleh Pendamping.

Di perbolehkan untuk merubah atau menyempurnakan.

* Yuli BDN (Aktivis LSM Setara Semarang)

Tidak ada komentar:

 

blogger templates | Make Money Online