Hammam Abdee
Aktivis KPT BETE, Sekarang kuliah S2 di IAIN Walisongo Semarang
Teater merupakan kesenian yang mempunyai nilai tersendiri yaitu berupa nilai otonomi (bukan berarti pisah dari nilai kehidupan), kecuali sebagai hiburan, teater juga mempunyai nilai kehidupan yang besar, karena dapat memperhalus dan memperkaya batin manusia. Seorang seniman dapat memilih tema atau judul lakon yang akan di pentaskan mulai dari cinta kasih sesama manusia, kebobrokan moral, kepincangan sosial, kebengisan manusia, dan hubungan dengan makhluk yang maha tinggi (Tuhan). Semua tema tersebut dapat diolah dengan bagus agar dapat mengena pada sasaran (audien).
Lakon drama bersumber pada kehidupan manusia. Karena itu drama sebenarnya merupakan penyajian ulang kisah yang dialami manusia. Yang namanya penyajian ulang, tentu saja cerita drama panggung tidak akan sama dengan kehidupan manusia yang sesungguhnya di masyarakat, memang ada kemungkinan pemain drama memerankan peristiwa yang dialaminya sendiri di masyarakat. Akan tetapi umumnya akan di perankan kembali peristiwa yang dialaminya dengan tepat. Apalagi kalau pelaku sudah pasti pelaku yang meninggal, misalnya dalam acara pembunuhan, sudah pasti pelaku yang sesungguhnya tidak dihidupkan kembali lalu menyajikan ulang peristiwa pembunuhan atas dirinya yang sudah dialaminya.
Dalam sebuah pertunjukan teater harus mempunyai unsur-unsur yang tidak bisa lepas dari pertunjukan teater tersebut, unsur-unsur itu adalah :
* Plot, yaitu perjalanan cerita atau kerangka dari awal hingga akhir yang merupakan jalinan konflik antara dua tokoh yang berlawanan.
* Perwatakan atas characterization, yaitu penampilan keseluruhan dari ciri-ciri atau tipe jiwa seorang tokoh dalam teater.
* Dialog, yaitu penuturan kata-kata dari para pemain diatas panggung.
* Setting, yaitu unsur yang meliputi tempat, waktu, dan latar belakang.
* Interpretasi kehidupan, yaitu kehidupan yang ditampilkan diatas panggung haruslah dipertanggungjawabkan oleh peristiwa sandiwara.
Pemain atau aktor teater merupakan hal yang tidak dapat dilepaskan dari teater itu sendiri. Karena aktor adalah jiwa dari teater. Untuk menjadi aktor yang baik atau paling tidak layak pakai sesuai keinginan naskah dan sutradara diperlukan proses yang tidak sebentar.
Pemain harus dapat merasakan perasaan yang terkandung dalam suatu ucapan dan mengucapkan harus sesuai dengan perasaan yang mendorongnya. Oleh karena itu dalam latihan dan bermain diatas panggung haruslah disertai dengan perasaan supaya mereka dapat menghayati pementasannya dan penonton juga dapat merasakan nilai yang terkandung dalam percakapan yang sedang berlangsung di panggung. Oleh karena itu dibutuhkan modulasi dan intonasi yang jelas, irama yang hidup, konsonan dan vokal yang jelas artikulasinya, pernafasan dan penggunaan alat bicaranya harus diatur sebaik-baiknya.
Sebelum pemain bermain diatas panggung di perlukan lebih dulu suatu persiapan batin dan pengenalan watak pelaku yang akan diperankan. Melalui proses identifikasi, baik yang sempurna dengan pengalaman emosi dirinya sendiri, maupun dengan mengkontruksi unsur-unsur yang diambil dari pengalaman orang lain, atau kombinasi antara kedianya lalu memulai menggambarkan atau mengimajinasikannya (konsentrasi), kemudian menghubungkan watak itu dengan teks. Pada saat inilah diperlukan penguasaan teknik bermain, menciptakan situasi dramatis, menghubungkan dialog dengan lagu, inilah yang dialami oleh Asrul Sani disebutnya “memberi bentuk teater”. Supaya permainan lebih hidup, pemain hendaknya meneliti kemungkinan-kemungkinan lain di luar teks untuk memperkokoh perwatakan. Dalam bermain teater hal yang terpenting adalah memberi bentuk lahir pada watak dan emosi pelaku, watak yang harus diperankan itu mempunyai tiga bagian yang harus nampak, yaitu : watak tubuh, watak fikiran, dan watak emosi. Dalam pandangan R. Boleslavsky, semua itu berarti “menciptakan keseluruhan hidup sukma manusia diatas panggung. Sukma manusia itu harus dapat dilihat dalam segala segi, baik fisik, mental, maupun emosional. Di samping itu sifatnya harus unik”. Semuanya bertujuan supaya peserta didik bisa merasakan tokoh atau lakon yang ia perankan dan nilai dari cerita yang dipentaskan. Dan pada akhirnya dapat menjadi pelajaran bagi kehidupan sehari-hari.
Demikianlah garis besarnya teknik yang perlu dalam bermain teater (menjadi aktor) diatas panggung. Dan yang terakhir sebagai penutup, sesuatu tidak akan dapat diraih tanpa mencoba dan menekuni. Menjadi aktor yang handal tidak semudah membalik telapak tangan tapi juga tidak sulit menghitung bintang hanya keuletan dan niat tulus semuanya akan berjalan.
Senin, 30 Maret 2009
Mencermati Zaman Kalabendu
Syaiful Mustaqim
AWAL mulanya dari Jayabaya, raja Kediri abad ke-12 (1130-1160) termaktub dalam Kakawin Bharatayuda yang digubah oleh Mpu Panuluh dan Mpu Sedah. Jayabaya pernah menyatakan Indonesia suatu saat akan menjadi mercusuar dunia setelah mengalami transisi zaman yakni kalabendu. Pasca zaman kehancuran ini, akan datang zaman kalasuba, era kemuliaan atau keemasan.
Dan, dilanjutkan Raden Ngabehi Ranggawarsita (1802-1873). Seorang penyair kraton Surakarta yang sudah tersohor namanya. Ranggawarsita menuliskan syair wejangannya dalam serat kalatidha. Zaman yang serba sulit yang kita alami saat ini telah memasuki zaman kalabendu.
Kalabendu merupakan zaman dimana negeri ini dilanda berbagai musibah. Akan tetapi, berbagai musibah ini adalah fase yang kudu dilalui untuk mencapai kejayaan. Kita harus cerdas memetik hikmah di balik musibah. Negara Super Power, Amerika pun demikian, sebelum mencapai kejayaan seperti saat ini berulang kali tertimpa berbagai gejolak, misalnya, civil war (perang saudara) hingga the great depression (krisis ekonomi yang tak kunjung usai).
Pada dasawarsa 90-an kita telah memasuki zaman kalatidha. Zaman ini ditandai dengan skeptis yang berpihak pada kebenaran. Sebab, berbagai tindak kejahatan sedang gencar-gencarnya. Selain itu, terjadi krisis politik dan sosial yang terus melanda negeri ini.
Zaman kalatidha, masa yang penuh kecemasan, kekerasan, kejahatan, kabatilan, dan kekisruhan yang terjadi dimana-mana. Tanda-tanda zaman ini sudah ada sebelum Indonesia di landa krisis. Satu hal mendasar adalah hilangnya keadilan dan lunturnya wibawa hukum, kejahatan orang-orang besar dibiarkan sementara kejahatan wong cilik di hukum dengan sangat berat.
Moral semakin hancur, kebobrokan terjadi semakin kelewatan. Perempuan sudah hilang keperawanannya, tindak aborsi dimana-mana, berbagai tindak kriminal merajalela. Maka, ditengah puing-puing kebobrokan moral bangsa, rakyat berhati suci memohon perlindungan kepada Tuhan dan berusaha memperbaiki yang masih tersisa.
Munculnya zaman edan ala Jayabaya sama dengan zaman kalatidha menurut Ranggawarsita. Menurut Jayabaya, negeri ini terus mengalami berbagai pergolakan sepanjang sejarah. Terjadinya malapetaka atau goro-goro bertepatan dengan saat sang raja lenger keprabon (turun tahta). Dalam mitologi jawa, sebelum krisis datang Indonesia akan ditimpa berbagai bencana.
Maka, Jayabaya senantiasa mengingatkan. “Besok akan ada zaman edan. Siapa yang tidak ikut edan tidak akan kebagian, dan kelaparan. Tapi sebahagia-bahagia orang edan masih jauh lebih bahagia orang yang ingat pada Tuhan (eling lan waspodo).
Setelah kalatidha, kita memasuki kalabendu. Zaman yang lebih tidak enak dan tidak nyaman bagi manusia. Pada zaman ini berlaku sacrifice (penumbalan atau pengorbanan). Tak heran jika banyak korban berjatuhan. Jika tidak demikian, zaman kalabendu tak kunjung usai.
Zaman serba mengerikan ini akan berakhir dengan munculnya Satrio Piningit, sosok misterius penyelamat bangsa dan kemunculannya pun tak terduga. Franz Magnis-Suseno dalam buku Etika Jawa menyebutnya kemunduran kesaktian penguasa. Bagi orang Jawa, berarti masa pergantian kekuasaan karena penguasa lama sudah tak mampu lagi untuk memimpin negeri.
Sebelum Satrio Piningit muncul, dunia akan ditimpa goro-goro yang amat hebat. Hujan yang jatuhnya salah waktu, misalnya, tanah mengalami kekeringan, sawah ladang hancur karena dirusak hama. Disaat itu pula rakyat mengalami masa-masa susah sandang dan pangan.
Bukan tak mungkin, zaman kalabendu hanya berpuncak pada satu titik, revolusi sosial. Akibatnya seperti yang diungkapkan Jayabaya, “Wong Jawa kari separo, wong Cina Kari Sajodho” (orang Jawa tinggal separuh dan orang Cina tinggal sepasang).
Berakhirnya Zaman Kalabendu
Saat zaman kalabendu berakhir, kita memasuki era kebahagiaan, zaman kalasuba. Menurut Jayabaya, peralihan kalabendu ke zaman kalasuba diwarnai kekacauan total. Ana raja jinunjung wong rucah, patihe botoh gedhe (kelak muncul seorang pemimpin yang dikehendaki rakyat kecil, tetapi dibayang-bayangi oleh tokoh yang sifat moralnya kurang baik).
Berakhirnya kalabendu juga bermakna relatif. Keberhasilan keluar dari zaman kalabendu disebabkan ketika manusia sudah ingat kepada Tuhan dan menghindari maksiat. Selain itu, muncul saat berada dipuncak kesengsaraan.
Ada satu syarat yang harus ditepati tetap eling lan waspodo (selalu ingat kepada Tuhan dan waspada). Banyak gejala yang telah menunjukkan bahwa zaman Kalabendu sudah menjadi kenyataan. Inilah zaman kacau nilai, zaman kejahatan yang menang, penjahat dipuja, kitab suci mulai dikhianati, kekuasaan dan kekayaan diperdewa.
Nah, kita senantiasa harus mencermasti zaman kalabendu. Setelah itu, munculnya kestabilan dan keteraturan yang disebut Ranggawarsita pasti akan segera tiba setelah chaos. Misalnya saja, setelah chaos Revolusi Perancis, lahirlah kestabilan pemerintahan Napoleon.
Selain itu, harus ada usaha yang lain, bukan hanya sekadar sabar dan tawakal. Oleh karena itu, kita harus aktif mendesak perubahan tata pembangunan, tata hukum dan tata kenegaraan sehingga menjadi lebih baik untuk daya hidup dan daya cipta bangsa.
Terakhir, Saat krisis terjadi begitu dahsyatnya, terjadinya kekacauan dimana-mana. Disaat itu pula alam rasional sudah tak mampu lagi memberikan petunjuk pada manusia sampai kapan krisis akan berakhir.
Maka, jika kita bersedia menggali kembali mitologi kuno, jika hasilnya semakin relevan, kita bisa menjadikannya petunjuk serta petuah untuk meratapi nasib negeri agar segera bangkit kembali.
AWAL mulanya dari Jayabaya, raja Kediri abad ke-12 (1130-1160) termaktub dalam Kakawin Bharatayuda yang digubah oleh Mpu Panuluh dan Mpu Sedah. Jayabaya pernah menyatakan Indonesia suatu saat akan menjadi mercusuar dunia setelah mengalami transisi zaman yakni kalabendu. Pasca zaman kehancuran ini, akan datang zaman kalasuba, era kemuliaan atau keemasan.
Dan, dilanjutkan Raden Ngabehi Ranggawarsita (1802-1873). Seorang penyair kraton Surakarta yang sudah tersohor namanya. Ranggawarsita menuliskan syair wejangannya dalam serat kalatidha. Zaman yang serba sulit yang kita alami saat ini telah memasuki zaman kalabendu.
Kalabendu merupakan zaman dimana negeri ini dilanda berbagai musibah. Akan tetapi, berbagai musibah ini adalah fase yang kudu dilalui untuk mencapai kejayaan. Kita harus cerdas memetik hikmah di balik musibah. Negara Super Power, Amerika pun demikian, sebelum mencapai kejayaan seperti saat ini berulang kali tertimpa berbagai gejolak, misalnya, civil war (perang saudara) hingga the great depression (krisis ekonomi yang tak kunjung usai).
Pada dasawarsa 90-an kita telah memasuki zaman kalatidha. Zaman ini ditandai dengan skeptis yang berpihak pada kebenaran. Sebab, berbagai tindak kejahatan sedang gencar-gencarnya. Selain itu, terjadi krisis politik dan sosial yang terus melanda negeri ini.
Zaman kalatidha, masa yang penuh kecemasan, kekerasan, kejahatan, kabatilan, dan kekisruhan yang terjadi dimana-mana. Tanda-tanda zaman ini sudah ada sebelum Indonesia di landa krisis. Satu hal mendasar adalah hilangnya keadilan dan lunturnya wibawa hukum, kejahatan orang-orang besar dibiarkan sementara kejahatan wong cilik di hukum dengan sangat berat.
Moral semakin hancur, kebobrokan terjadi semakin kelewatan. Perempuan sudah hilang keperawanannya, tindak aborsi dimana-mana, berbagai tindak kriminal merajalela. Maka, ditengah puing-puing kebobrokan moral bangsa, rakyat berhati suci memohon perlindungan kepada Tuhan dan berusaha memperbaiki yang masih tersisa.
Munculnya zaman edan ala Jayabaya sama dengan zaman kalatidha menurut Ranggawarsita. Menurut Jayabaya, negeri ini terus mengalami berbagai pergolakan sepanjang sejarah. Terjadinya malapetaka atau goro-goro bertepatan dengan saat sang raja lenger keprabon (turun tahta). Dalam mitologi jawa, sebelum krisis datang Indonesia akan ditimpa berbagai bencana.
Maka, Jayabaya senantiasa mengingatkan. “Besok akan ada zaman edan. Siapa yang tidak ikut edan tidak akan kebagian, dan kelaparan. Tapi sebahagia-bahagia orang edan masih jauh lebih bahagia orang yang ingat pada Tuhan (eling lan waspodo).
Setelah kalatidha, kita memasuki kalabendu. Zaman yang lebih tidak enak dan tidak nyaman bagi manusia. Pada zaman ini berlaku sacrifice (penumbalan atau pengorbanan). Tak heran jika banyak korban berjatuhan. Jika tidak demikian, zaman kalabendu tak kunjung usai.
Zaman serba mengerikan ini akan berakhir dengan munculnya Satrio Piningit, sosok misterius penyelamat bangsa dan kemunculannya pun tak terduga. Franz Magnis-Suseno dalam buku Etika Jawa menyebutnya kemunduran kesaktian penguasa. Bagi orang Jawa, berarti masa pergantian kekuasaan karena penguasa lama sudah tak mampu lagi untuk memimpin negeri.
Sebelum Satrio Piningit muncul, dunia akan ditimpa goro-goro yang amat hebat. Hujan yang jatuhnya salah waktu, misalnya, tanah mengalami kekeringan, sawah ladang hancur karena dirusak hama. Disaat itu pula rakyat mengalami masa-masa susah sandang dan pangan.
Bukan tak mungkin, zaman kalabendu hanya berpuncak pada satu titik, revolusi sosial. Akibatnya seperti yang diungkapkan Jayabaya, “Wong Jawa kari separo, wong Cina Kari Sajodho” (orang Jawa tinggal separuh dan orang Cina tinggal sepasang).
Berakhirnya Zaman Kalabendu
Saat zaman kalabendu berakhir, kita memasuki era kebahagiaan, zaman kalasuba. Menurut Jayabaya, peralihan kalabendu ke zaman kalasuba diwarnai kekacauan total. Ana raja jinunjung wong rucah, patihe botoh gedhe (kelak muncul seorang pemimpin yang dikehendaki rakyat kecil, tetapi dibayang-bayangi oleh tokoh yang sifat moralnya kurang baik).
Berakhirnya kalabendu juga bermakna relatif. Keberhasilan keluar dari zaman kalabendu disebabkan ketika manusia sudah ingat kepada Tuhan dan menghindari maksiat. Selain itu, muncul saat berada dipuncak kesengsaraan.
Ada satu syarat yang harus ditepati tetap eling lan waspodo (selalu ingat kepada Tuhan dan waspada). Banyak gejala yang telah menunjukkan bahwa zaman Kalabendu sudah menjadi kenyataan. Inilah zaman kacau nilai, zaman kejahatan yang menang, penjahat dipuja, kitab suci mulai dikhianati, kekuasaan dan kekayaan diperdewa.
Nah, kita senantiasa harus mencermasti zaman kalabendu. Setelah itu, munculnya kestabilan dan keteraturan yang disebut Ranggawarsita pasti akan segera tiba setelah chaos. Misalnya saja, setelah chaos Revolusi Perancis, lahirlah kestabilan pemerintahan Napoleon.
Selain itu, harus ada usaha yang lain, bukan hanya sekadar sabar dan tawakal. Oleh karena itu, kita harus aktif mendesak perubahan tata pembangunan, tata hukum dan tata kenegaraan sehingga menjadi lebih baik untuk daya hidup dan daya cipta bangsa.
Terakhir, Saat krisis terjadi begitu dahsyatnya, terjadinya kekacauan dimana-mana. Disaat itu pula alam rasional sudah tak mampu lagi memberikan petunjuk pada manusia sampai kapan krisis akan berakhir.
Maka, jika kita bersedia menggali kembali mitologi kuno, jika hasilnya semakin relevan, kita bisa menjadikannya petunjuk serta petuah untuk meratapi nasib negeri agar segera bangkit kembali.
PERENUNGAN TENTANG KEPEMIMPINAN
Dikirim PERENUNGAN TENTANG KEPEMIMPINAN pada Oktober 17, 2008 oleh Mas Kumitir
Oleh : Sri Sultan Hamengku Buwana X
Perihal falsafah kepemimpinan Jawa, misalnya dapat kita telaah dari ajaran: “Manunggaling Kawula-Gusti”, yang mengandung dua substansi: kepemimpinan dan kerakyatan. Hal ini dapat ditunjukkan dari perwatakan patriotis Sang Amurwabumi (gelar Ken Arok) yang menggambarkan sintese sikap “bhairawa-anoraga” atau “perkasa di luar, lembut di dalam”. Di mana sikapnya selalu “menunjuk dan berakar ke bumi” atau “bhumi sparsa mudra”, yang intinya adalah kepemimpinan yang berorientasi kerakyatan yang memiliki komitmen:
“Setia pada janji, berwatak tabah, kokoh, toleran, selalu berbuat baik dan sosial”.
Sedangkan prinsip-prinsip kepemimpinan Sultan Agung diungkapkan lewat: “Serat Sastra-Gendhing”, yang memuat tujuh amanah.
Butir pertama, “Swadana Maharjeng-tursita”, seorang pemimpin haruslah sosok intelektual, berilmu, jujur dan pandai menjaga nama, mampu menjalin komunikasi atas dasar prinsip kemandirian.
Kedua, “Bahni-bahna Amurbeng-jurit”, selalu berada di depan dengan memberikan keteladanan dalam membela keadilan dan kebenaran.
Ketiga, “Rukti-setya Garba-rukmi”, bertekad bulat menghimpun segala daya dan potensi, guna kemakmuran dan ketinggian martabat bangsa.
Keempat, “Sripandayasih-Krami”, bertekad menjaga sumber-sumber kesucian agama dan kebudayaan, agar berdaya manfaat bagi masyarakat luas.
Kelima, “Galugana-Hasta”, mengembangkan seni-sastra, seni-suara dan seni tari, guna mengisi peradaban bangsa.
Keenam, “Stiranggana-Cita”, sebagai pelestari dan pengembang budaya, pencetus sinar pencerahan ilmu dan pembawa obor kebahagiaan umat manusia. Dan yang terakhir, butir
ketujuh, “Smara-bhumi Adi-manggala”, tekad juang lestari untuk menjadi pelopor pemersatu dari pelbagai kepentingan yang berbeda-beda dari waktu ke waktu, serta berperan dalam perdamaian di mayapada.
Ada juga ajaran kepemimpinan yang lain, misalnya, “Serat Wulang Jayalengkara” yang menyebutkan, seorang penguasa haruslah memiliki watak “Wong Catur” (empat hal), yakni: retna, estri, curiga, dan paksi. Retna atau permata, wataknya adalah pengayom dan pengayem, karena khasiat batu-permata adalah untuk memberikan ketentraman dan melindungi diri. Watak estri atau wanita, adalah berbudi luhur, bersifat sabar, bersikap santun, mengalahkan tanpa kekerasan atau pandai berdiplomasi. Sedangkan curiga atau keris, seorang pemimpin haruslah memiliki ketajaman olah-pikir, dalam menetapkan policy dan strategi di bidang apa pun. Terakhir simbol paksi atau burung, mengisyaratkan watak yang bebas terbang kemana pun, agar dapat bertindak independen tidak terikat oleh kepentingan satu golongan, sehingga pendapatnya pun bisa menyejukkan semua lapisan masyarakat.
Ini sekadar menunjukkan contoh, betapa kayanya piwulang para leluhur, selain yang sudah teramat masyhur, yang termuat dalam episode Astha-Brata. Atau yang lain, kepemimpinan ideal berwatak Pandawa-Lima, yang dikawal dengan kesetiaan dan keikhlasan oleh seorang sosok Semar dan pana-kawan lainnya anak Semar. Di mana deskripsi, derivasi dan penjabaran serta aplikasinya dalam suatu kepemimpinan aktual mengundang kajian para budayawan dan cendekiawan kita.
Sementara untuk memahami keberadaan kita sekarang, mungkin ada baiknya jika membuka lembaran Babad Giyanti. Tatkala Pangeran Mangkubumi sebelum jumeneng Sri Sultan Hamengku Buwono I bergerilya di kawasan Kedu dan Kebanaran, pernah berujar secara bersahaja, yang dikutip dalam Babad Giyanti: “Satuhune Sri Narapati Mangunahnya Brangti-Wijayanti”. Ucapan itu menunjukkan keprihatinan beliau, bahwa kultur Barat sebagai akses gencarnya politik kolonialisme Belanda yang mencekik, niscaya akan membuat raja-raja Jawa terkena demam asmara dan lemah-lunglai tanpa daya.
Keadaan ini harus dihadapi dengan “wijayanti”, untuk bisa berjaya dan tampil sebagai pemenang. Maka dianjurkannya: “puwarane sung awerdi, gagat-gagat wiyati”, untuk menjadi pemenang, seorang raja haruslah meneladani sikap tulus tanpa pamrih, agar bisa menyambut cerahnya hari esok yang laksana biru nirmala.
Ungkapan ini rasanya amat relevan dengan keadaan sekarang ini, karena ada paralelisme histori, di saat kita menghadapi hantaman derasnya arus globalisasi, yang mengharuskan kita untuk tidak hanya berpangku tangan, melainkan harus bersiap diri untuk lebih meningkatkan kualitas dalam semua aspek kehidupan. Harus “eling lan waspada” menghadapi berbagai godaan dan cobaan di zaman Kala-tidha ini, di mana banyak hal yang diliputi oleh keadaan yang serba “tida-tida” – penuh was-was, keraguan, dan ketidakpastian..
Oleh : Sri Sultan Hamengku Buwana X
Perihal falsafah kepemimpinan Jawa, misalnya dapat kita telaah dari ajaran: “Manunggaling Kawula-Gusti”, yang mengandung dua substansi: kepemimpinan dan kerakyatan. Hal ini dapat ditunjukkan dari perwatakan patriotis Sang Amurwabumi (gelar Ken Arok) yang menggambarkan sintese sikap “bhairawa-anoraga” atau “perkasa di luar, lembut di dalam”. Di mana sikapnya selalu “menunjuk dan berakar ke bumi” atau “bhumi sparsa mudra”, yang intinya adalah kepemimpinan yang berorientasi kerakyatan yang memiliki komitmen:
“Setia pada janji, berwatak tabah, kokoh, toleran, selalu berbuat baik dan sosial”.
Sedangkan prinsip-prinsip kepemimpinan Sultan Agung diungkapkan lewat: “Serat Sastra-Gendhing”, yang memuat tujuh amanah.
Butir pertama, “Swadana Maharjeng-tursita”, seorang pemimpin haruslah sosok intelektual, berilmu, jujur dan pandai menjaga nama, mampu menjalin komunikasi atas dasar prinsip kemandirian.
Kedua, “Bahni-bahna Amurbeng-jurit”, selalu berada di depan dengan memberikan keteladanan dalam membela keadilan dan kebenaran.
Ketiga, “Rukti-setya Garba-rukmi”, bertekad bulat menghimpun segala daya dan potensi, guna kemakmuran dan ketinggian martabat bangsa.
Keempat, “Sripandayasih-Krami”, bertekad menjaga sumber-sumber kesucian agama dan kebudayaan, agar berdaya manfaat bagi masyarakat luas.
Kelima, “Galugana-Hasta”, mengembangkan seni-sastra, seni-suara dan seni tari, guna mengisi peradaban bangsa.
Keenam, “Stiranggana-Cita”, sebagai pelestari dan pengembang budaya, pencetus sinar pencerahan ilmu dan pembawa obor kebahagiaan umat manusia. Dan yang terakhir, butir
ketujuh, “Smara-bhumi Adi-manggala”, tekad juang lestari untuk menjadi pelopor pemersatu dari pelbagai kepentingan yang berbeda-beda dari waktu ke waktu, serta berperan dalam perdamaian di mayapada.
Ada juga ajaran kepemimpinan yang lain, misalnya, “Serat Wulang Jayalengkara” yang menyebutkan, seorang penguasa haruslah memiliki watak “Wong Catur” (empat hal), yakni: retna, estri, curiga, dan paksi. Retna atau permata, wataknya adalah pengayom dan pengayem, karena khasiat batu-permata adalah untuk memberikan ketentraman dan melindungi diri. Watak estri atau wanita, adalah berbudi luhur, bersifat sabar, bersikap santun, mengalahkan tanpa kekerasan atau pandai berdiplomasi. Sedangkan curiga atau keris, seorang pemimpin haruslah memiliki ketajaman olah-pikir, dalam menetapkan policy dan strategi di bidang apa pun. Terakhir simbol paksi atau burung, mengisyaratkan watak yang bebas terbang kemana pun, agar dapat bertindak independen tidak terikat oleh kepentingan satu golongan, sehingga pendapatnya pun bisa menyejukkan semua lapisan masyarakat.
Ini sekadar menunjukkan contoh, betapa kayanya piwulang para leluhur, selain yang sudah teramat masyhur, yang termuat dalam episode Astha-Brata. Atau yang lain, kepemimpinan ideal berwatak Pandawa-Lima, yang dikawal dengan kesetiaan dan keikhlasan oleh seorang sosok Semar dan pana-kawan lainnya anak Semar. Di mana deskripsi, derivasi dan penjabaran serta aplikasinya dalam suatu kepemimpinan aktual mengundang kajian para budayawan dan cendekiawan kita.
Sementara untuk memahami keberadaan kita sekarang, mungkin ada baiknya jika membuka lembaran Babad Giyanti. Tatkala Pangeran Mangkubumi sebelum jumeneng Sri Sultan Hamengku Buwono I bergerilya di kawasan Kedu dan Kebanaran, pernah berujar secara bersahaja, yang dikutip dalam Babad Giyanti: “Satuhune Sri Narapati Mangunahnya Brangti-Wijayanti”. Ucapan itu menunjukkan keprihatinan beliau, bahwa kultur Barat sebagai akses gencarnya politik kolonialisme Belanda yang mencekik, niscaya akan membuat raja-raja Jawa terkena demam asmara dan lemah-lunglai tanpa daya.
Keadaan ini harus dihadapi dengan “wijayanti”, untuk bisa berjaya dan tampil sebagai pemenang. Maka dianjurkannya: “puwarane sung awerdi, gagat-gagat wiyati”, untuk menjadi pemenang, seorang raja haruslah meneladani sikap tulus tanpa pamrih, agar bisa menyambut cerahnya hari esok yang laksana biru nirmala.
Ungkapan ini rasanya amat relevan dengan keadaan sekarang ini, karena ada paralelisme histori, di saat kita menghadapi hantaman derasnya arus globalisasi, yang mengharuskan kita untuk tidak hanya berpangku tangan, melainkan harus bersiap diri untuk lebih meningkatkan kualitas dalam semua aspek kehidupan. Harus “eling lan waspada” menghadapi berbagai godaan dan cobaan di zaman Kala-tidha ini, di mana banyak hal yang diliputi oleh keadaan yang serba “tida-tida” – penuh was-was, keraguan, dan ketidakpastian..
Minggu, 29 Maret 2009
LOVE is a NEED
CINTA NEEDS is a
Love is the subject of union with the object, they mutually binding. Even kebergantungan each other, then you do not nodai ties with the hubris and hypocrisy.
Everyone want to feel love and want to be beloved. However, someone who would like to make should be able to read themselves, because many people who want to find love or even her minder did not believe in himself, I was a fraud, criminals, prostitutes or the poor me, my ugly face oe bobody's perfect.
That means the same regard to self-worth or not we all have the form of material and realistic in the sense only on the things that are visible lahiriyah. While the potential not only to the human problems of the material (reason and senses). Love is the potential of creating lahiriyah because gumpalah blast ruh Illahiyah in which the sentence is a nation (no god other than Allah).
But we must realize our own position, that in itself is a bond of love. Whoever is able to recognize themselves and know of the existence of potential heart, obviously in love that will be present in the self if we are able to clean the soul. Because the soul is the center circle of love, do not you feel because kekuranganmu minder, but if you are able to feel the droplets of water means that the soul is able to realize your love for each of the heart to think. For water droplets the sincerity of the soul is to receive what the attitude and sincerity of one ketundukkan "innal muhiba liman yuhibul mu'tiun" Indeed, when we love and we must obey what we love.
Basically, when we already feel the love, we will become slaves always ready to attend. O lovers of the, if indeed beruntungnya yourself to be able to clear up heart, pure, white, clean, and full of light. Truly happy souls reside if you have the heart that cared untain with prayer, is the reflection and zikir terawat with Shaleh charity.
In fact love has brought us hover above the cloud-free flying experience pleasure. For the love spark our minds have to always be positf, words are very beautiful and tuneful. Salalu dilumuri mouth with words that, far from the word hubris. Every grains contain moisture dimulutnya nuance wisdom and advice. Said he is very valuable, if other people listen and he will be stunned and amazed.
"Say:" If you (really) love Allah, follow me, Allah love and forgive your sins. " Allah is Forgiving, Merciful. " (Ali 'Imran verse 31).
It is very obvious if you have brought us in the quietness, so if you do not take love for it. If you love yourself with the changes the better, so if you do not love these quotes. If with a sincere love for yourself, patience and experience happiness, then you do not love about it.
O Know the lovers, we are not perfect human beings. Seyogyanyalah seconds we begin to realize the advantages we are not short of us. To become better, we must continue to try and continue the process of development will bring us love and forgiveness reach.
Furthermore, who does not want to feel the love!. Of course, we all want to feel.
Weak Gempal Bulu Stalan, 26 March 2009
Love is the subject of union with the object, they mutually binding. Even kebergantungan each other, then you do not nodai ties with the hubris and hypocrisy.
Everyone want to feel love and want to be beloved. However, someone who would like to make should be able to read themselves, because many people who want to find love or even her minder did not believe in himself, I was a fraud, criminals, prostitutes or the poor me, my ugly face oe bobody's perfect.
That means the same regard to self-worth or not we all have the form of material and realistic in the sense only on the things that are visible lahiriyah. While the potential not only to the human problems of the material (reason and senses). Love is the potential of creating lahiriyah because gumpalah blast ruh Illahiyah in which the sentence is a nation (no god other than Allah).
But we must realize our own position, that in itself is a bond of love. Whoever is able to recognize themselves and know of the existence of potential heart, obviously in love that will be present in the self if we are able to clean the soul. Because the soul is the center circle of love, do not you feel because kekuranganmu minder, but if you are able to feel the droplets of water means that the soul is able to realize your love for each of the heart to think. For water droplets the sincerity of the soul is to receive what the attitude and sincerity of one ketundukkan "innal muhiba liman yuhibul mu'tiun" Indeed, when we love and we must obey what we love.
Basically, when we already feel the love, we will become slaves always ready to attend. O lovers of the, if indeed beruntungnya yourself to be able to clear up heart, pure, white, clean, and full of light. Truly happy souls reside if you have the heart that cared untain with prayer, is the reflection and zikir terawat with Shaleh charity.
In fact love has brought us hover above the cloud-free flying experience pleasure. For the love spark our minds have to always be positf, words are very beautiful and tuneful. Salalu dilumuri mouth with words that, far from the word hubris. Every grains contain moisture dimulutnya nuance wisdom and advice. Said he is very valuable, if other people listen and he will be stunned and amazed.
"Say:" If you (really) love Allah, follow me, Allah love and forgive your sins. " Allah is Forgiving, Merciful. " (Ali 'Imran verse 31).
It is very obvious if you have brought us in the quietness, so if you do not take love for it. If you love yourself with the changes the better, so if you do not love these quotes. If with a sincere love for yourself, patience and experience happiness, then you do not love about it.
O Know the lovers, we are not perfect human beings. Seyogyanyalah seconds we begin to realize the advantages we are not short of us. To become better, we must continue to try and continue the process of development will bring us love and forgiveness reach.
Furthermore, who does not want to feel the love!. Of course, we all want to feel.
Weak Gempal Bulu Stalan, 26 March 2009
Minggu, 22 Maret 2009
PENDIDIKAN BERBASIS KARYA WISATA
Lukni Maulana*
Membincang kota Semarang dibenak kita terekam pikiram bahwa kota ini adalah kota air sebab seringnya media masa dan media elektronik memberitakan banjir. Selain kota yang berpotensi dengan bencana seperti banjir dan tanah longsor, Semarang merupakan ikon propinsi jawa tengah dengan sebutan kota industri yang terdapat berbagai macam bangunan industri, mal-mal dan hotel berbintang.
Kota dengan basis barang dan jasa menjadikan kota ini semakin kental dengan arus ekonomi, akan tetapi dibalik itu semua kota Semarang memiliki potensi besar sebagai kota pariwisata. Namun hal ini, pariwisata tidak hanya sebagai model mencari keuntungan ekonomi semata, ada khalayak penting yaitu pariwisata sebagai wahana pendidikan lingkungan.
Dalam hal ini dapat dikembangkan melalui kebijakan Wisata ekologi (ecotourism) yang merupakan salah satu program pemerintah Semarang sebagai bentuk perwujudan kota berwawasan lingkungan. Maka dalam hal ini seyogyanya pemerintah kota dapat memberikan perencanaan kota tentang konsep Kawasan Wisata ekologi, yang tidak mengkesampingkan masyarakat marjinal dan dapat memberikan keuntungan ekonomi di kawasan wisata.
Masyarakat tentu akan bangga sekali jika wisata ekologi menjadi suatu dambaan sebagai upaya untuk menarik para wisatawan lokal maupun asing. Mereka akan terpesona dan terkesima bahwa ibu kota yang biasanya identik dengan kegiatan ekonomi mampu menyuguhkan kesan lain berupa taman-taman wisata berbasis lingkungan.
Salah satu proyeksi tempat wisata ekologi tersebut yaitu terletak di kawasan Semarang Tengah seperti kawasan Gunung Pati dan Mijen, Kawasn Semarang Barat, khususnya kawasan Wisata kebun binatang Mangkang. Sebab kawasan tersebut memiliki nilai keindahan alam serta kekayaan tanaman dan buah-buahan.
Hal ini ditengarai oleh keunikan dan potensi kawasan tersebut, semacam Guo Kreo yang telah dikenal karena potensi alam dan kera-kera yang hidup bebas serta memiliki sungai-sungai dengan arus yang cukup deras. Bayaknya tempat pemancingan sebagai nilai plus untuk pengelolaan wisata ekologi, bahkan Semarang masih memiliki banyak tempat wisata yang bisa dikembangkan menjadi kawasan wisata ekologi diantaranya kawasan Pantai Maron dan Marina, Taman Margasatwa Wonosari atau Bonbin Mangkang, Kawasan Hutan dan Danau BSB di Ngaliyan dan Air Terjun dan gunung di Ungaran.
Oleh sebab itu, biar tidak terjadi konflik perencanaan kota antara pemerintah dengan masyarakat. Setidaknya pemerintah kota mampu membuat perencanaan kota berwawasan lingkungan yang tidak memarjinalkan daerah-daerah pingiran kota yang biasanya terkenak dampak dari pembangungan kawasan kota. Ini dapat dilihat dari banyaknya bencana baik bencana banjir maupun tanah longsor yang menimpa di kawasan tersebut semisal di daerah Genuk, Mangkang, Tugu, Tembalang, dan Gayam Sari.
Sebab kawasan wisata ekologi merupakan bentuk penyadaran nilai antara pemerintah dan masyarakat. Maka pemerintah dan masyarakat harus memiliki kesadaran dan bersemangat dalam mewujudkan kawasan wisata ekologi melalui partisipasinya dalam menjaga dan merawat lingkungan.
Melalui kawasan wisata ekologi diharapkan kita mampu bersifat arif dan bijak terhadap alam, karena sekarang ini dunia telah dilanda oleh krisis ekologi salah satu permasalahan internasional yaitu akibat terjadinya global warming.
Kawasan wisata ekologi sebagai bentuk representasi kota masa depan yang lebih bercorak kepada kota berwawasan lingkungan tanpa menghilangkan nilai kota berbasis barang dan jasa.
* Mahasiswa IAIN Walisongo Semarang dan Pengiat masalah sosial dan kebudayaan di Sanggar ILCI (Ilmu dan Cinta) Semarang
Membincang kota Semarang dibenak kita terekam pikiram bahwa kota ini adalah kota air sebab seringnya media masa dan media elektronik memberitakan banjir. Selain kota yang berpotensi dengan bencana seperti banjir dan tanah longsor, Semarang merupakan ikon propinsi jawa tengah dengan sebutan kota industri yang terdapat berbagai macam bangunan industri, mal-mal dan hotel berbintang.
Kota dengan basis barang dan jasa menjadikan kota ini semakin kental dengan arus ekonomi, akan tetapi dibalik itu semua kota Semarang memiliki potensi besar sebagai kota pariwisata. Namun hal ini, pariwisata tidak hanya sebagai model mencari keuntungan ekonomi semata, ada khalayak penting yaitu pariwisata sebagai wahana pendidikan lingkungan.
Dalam hal ini dapat dikembangkan melalui kebijakan Wisata ekologi (ecotourism) yang merupakan salah satu program pemerintah Semarang sebagai bentuk perwujudan kota berwawasan lingkungan. Maka dalam hal ini seyogyanya pemerintah kota dapat memberikan perencanaan kota tentang konsep Kawasan Wisata ekologi, yang tidak mengkesampingkan masyarakat marjinal dan dapat memberikan keuntungan ekonomi di kawasan wisata.
Masyarakat tentu akan bangga sekali jika wisata ekologi menjadi suatu dambaan sebagai upaya untuk menarik para wisatawan lokal maupun asing. Mereka akan terpesona dan terkesima bahwa ibu kota yang biasanya identik dengan kegiatan ekonomi mampu menyuguhkan kesan lain berupa taman-taman wisata berbasis lingkungan.
Salah satu proyeksi tempat wisata ekologi tersebut yaitu terletak di kawasan Semarang Tengah seperti kawasan Gunung Pati dan Mijen, Kawasn Semarang Barat, khususnya kawasan Wisata kebun binatang Mangkang. Sebab kawasan tersebut memiliki nilai keindahan alam serta kekayaan tanaman dan buah-buahan.
Hal ini ditengarai oleh keunikan dan potensi kawasan tersebut, semacam Guo Kreo yang telah dikenal karena potensi alam dan kera-kera yang hidup bebas serta memiliki sungai-sungai dengan arus yang cukup deras. Bayaknya tempat pemancingan sebagai nilai plus untuk pengelolaan wisata ekologi, bahkan Semarang masih memiliki banyak tempat wisata yang bisa dikembangkan menjadi kawasan wisata ekologi diantaranya kawasan Pantai Maron dan Marina, Taman Margasatwa Wonosari atau Bonbin Mangkang, Kawasan Hutan dan Danau BSB di Ngaliyan dan Air Terjun dan gunung di Ungaran.
Oleh sebab itu, biar tidak terjadi konflik perencanaan kota antara pemerintah dengan masyarakat. Setidaknya pemerintah kota mampu membuat perencanaan kota berwawasan lingkungan yang tidak memarjinalkan daerah-daerah pingiran kota yang biasanya terkenak dampak dari pembangungan kawasan kota. Ini dapat dilihat dari banyaknya bencana baik bencana banjir maupun tanah longsor yang menimpa di kawasan tersebut semisal di daerah Genuk, Mangkang, Tugu, Tembalang, dan Gayam Sari.
Sebab kawasan wisata ekologi merupakan bentuk penyadaran nilai antara pemerintah dan masyarakat. Maka pemerintah dan masyarakat harus memiliki kesadaran dan bersemangat dalam mewujudkan kawasan wisata ekologi melalui partisipasinya dalam menjaga dan merawat lingkungan.
Melalui kawasan wisata ekologi diharapkan kita mampu bersifat arif dan bijak terhadap alam, karena sekarang ini dunia telah dilanda oleh krisis ekologi salah satu permasalahan internasional yaitu akibat terjadinya global warming.
Kawasan wisata ekologi sebagai bentuk representasi kota masa depan yang lebih bercorak kepada kota berwawasan lingkungan tanpa menghilangkan nilai kota berbasis barang dan jasa.
* Mahasiswa IAIN Walisongo Semarang dan Pengiat masalah sosial dan kebudayaan di Sanggar ILCI (Ilmu dan Cinta) Semarang
Rabu, 18 Maret 2009
Sadar dalam ketidaksadaran…

Oleh: Umi Latifah
(HMI Cabang Semarang)
Beberapa malam yang tidak pernah mengenal apa arti dari kesadaran membuatku sadar akan tujuan hidupku. Aku harus berada di jalan yang mana? Jalan berliku tapi rata dan datar atau jalan yang lurus tapi rusak dan bergelombang. Menggunakan cara yang bagaimana?. Menghitung hari atau memanfaatkan hari. Mendengarkan atau didengarkan
Mencintai atau dicintai. Menjadi orang yang duduk diam dan termenung atau pasif…
Atau orang yang selalu jalan ke sana kemari atau aktif.
Menjadi orang yang selalu tersenyum tapi menyimpan dendam atau orang yang selalu cuek tapi tidak pernah mengenal apa itu dendam. Orang yang menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang berguna atau hanya menjadi orang yang duduk di depan komputer hanya untuk melihat-lihat hal yang tidak begitu berarti. Berpikir ke depan atau hanya berpikir untuk hari ini. Menikmati hidup di masa muda atau menikmati hidup di masa tua. Mencintai satu pria dan hanya memikirkannya atau mencintai satu pria tapi memikirkan banyak pria. Sekarang aku sudah sadar dan mengerti apa yang dikatakan hidup ini. Mengenal banyak karakter manusia memang belum lah cukup untuk menjadi bahan pembelajaran bagiku.
Tapi bagiku, harus sampai kapan aku berada dalam karakteristik orang lain. Tenggelam dalam begitu banyak problem manusia yang kualami. Karena, setiap kali aku mempelajari orang lain seolah-olah aku menjadi orang tersebut. Ironis memang, tapi itu lah hidupku. Hidup yang memiliki karakter yang berbeda-beda. Banyak yang bilang kalau aku membingungkan. Benar, Karena aku sebelumnya juga bingung melihat diriku. Diam sesaat untuk berpikir dan menahan nafas. Dan mulai bernafas dengan semangat yang baru…
Take actions!
Miracles will happen…
Rabu, 11 Maret 2009
SELAYANG PANDANG SANGGAR ILCI (ILMU&CINTA)

Mengapa Sanggar ILCI
Sanggar ILCI merupakan singkatan dari Ilmu dan Cinta yang merupakan salah satu wadah atau tempat berkumpul baik di tongkrongan, jalan-jalan, rumah-rumah, mall-mall bahkan di alam bebas, masjid-masjid dan majlis-majlis ilmu, mengajak dan menuntut kedamaian di semesta rahmatal lil’alamin. Mereka berdakwah kepada semesta bahwa hiasan dunia yang paling mulia adalah ilmu dan cinta. Engkau bebas melakukan apapun tapi ingat kebebasanmu masih terikat dengan kebebasan orang lain. Maka di sini kita belajar tentang ilmu untuk menghormati orang lain dan belajar cinta untuk terjalin kasih dan sayang dengan sesama dan lingkungan sekitar.
Kebebasan ada pada di setiap insan, hak yang telah diberikan Allah yang dianugerahkan kepada manusia. Kebebasan berkeyakinan, ibadah, berpendapat, berpartisipasi, merokok, bercinta dan terserah kamu mau melakukan apapun. Yang terpenting di hatimu tertanam benih-benih romantisme untuk saling menghargai dan menghormati orang lain.
Ilmu merupakan anugerah terbesar dari Allah untuk kita, karena ilmu kita diberi amanah untuk mengelola dan memakmurkan bumi menjadi khalifah-Nya. Maka jangan kau nodai bumimu dengan kepandaian atau kepintaranmu tapi jagalah, rawatlah dan siramlah bumimu dengan ayat-ayat tasbih dan dzikir.
Cinta adalah anugerah yang mulya untuk manusia, kita diciptakan untuk saling kenal-menganal, diciptakan dengan berpasang-pasangan. Sungguh hebatnya Allah yang telah menjadikan manusia tidak merasa kesepian dengan dunianya. Maka jangan kau nodai rasa cinta dengan nafsu binatangmu, binatang saja tidak sebegitu nafsu jika melihat mangsa di hadapan matanya. Hiasi anugerah cinta ini dengan rasa kasih, sayang, ampunan, pertolongan dan saling menghargai satu dengan yang lainnya.
Sangar ILCI akan mengajarkanmu tentang dasar pendidikan, konsep akhlak, undang-undang, sistem sosial dan aturan nilai-nilai yang sesuai dengan fitrah manusia dan jika kau berpegang kepada-Nya maka kita tidak akan sesat selamanya.
Sanggar ILCI merupakan sistem global yang mengantarkan kehidupan manusia menuai kebebasan yang bermakna. Ia akan sempurna menjadi manusia yang sederhana, kerendahan diri, keberkahan duniawi dan istoqamah sejati untuk mengharap ridho Illahi Rabbi.
Jika ilmu dan cinta merupakan tiang semesta rahmatal lil’alamin, maka bukalah pintu pengajaran, pengkaderan dan perjuangan di situlah kemuliaan Allah bersemayam. Engkau mempunyai pegangan dan mempunyai uswah atau tauladan yan tiada duanya di dunia, pemimpin dan panutan. Maka matikan dirimu dengan sentuhan keharuman wangi bunga surga dan gapai kedekatan-Nya di pelukanmu.
Jika ilmu dan cinta adalah keadilan di dunia maka semesta ini adalah timbangannya, memberikan grafitasinya untuk kemulyaan semesta. Maka persamaan dan keterikatan merupakan bagian dari karakteristik dan satu aturan nilai yang bersumber dari semesta rahmatal lil’alamin.
Hubungan antara Tuhan, alam dan manusia adalah hubungan dialektika horisontal dan dialektika vertikal yang merupakan konsep keterpaduan atau penyatuan sebagai khalifah dan abdullah.
Sanggar ILCI merupakan kumpulan, kelompok bahkan gerombolan yang memeiliki cita-cita mencintai antar sesama, memberikan cinta kasih kepada semesta, memperjuangkan keadilan dan hak kaum mustadzffin serta memakmurkan bumi yang kami cintai.
Pedang mereka adalah pena, sebab kami selalu mengajak untuk kembali memerdekakan diri dari sikap ketertindasan. Perisainya adalah kertas, sebab kesucian menjadi arti bagi kami untuk selalu berada dijalan yang lurus jalan yang di ridhoi-Nya. Coretan adalah warna hitam, sebab hitam adalah kedalaman ilmu melalui ilmu yang berdasarkan keyakinana akan memberikan cahaya yang penuh dengan kedamaian.
Sanggar ILCI merupakan kumpulan preman dan berandalan, yang ingin memahami tentang kebaikan, kebenaran dan keindahan untuk semesta rahamtal lil’alamin. Mereka bergerak dari utara ke selatan, barat ke timur, dari daratan hingga ke daratan yang menuntut keadilan untuk bumi yang mulai merana karena tingkah manusia.
Bagaimana Sanggar ILCI
Sekilas tentang Sanggar Ilmu&Cinta atau biasa di sebut sanggar ILCI. Tidak dapat terlepas dari sejarah. Hadirnya Sanggar ILCI merupakan sebuah keinginan yang mewadahi sekelompok orang-orang yang gemar kumpul-kumpul dalam artian sistem yang di bangun berdasarkan rasa kekeluargaan dan kebersamaan yang menginginkan kebahagiaan. Jadi perkumpulan ini adalah sekumpulan orang yang selau berinteraksi kemana ia pergi baik di tongkrongan, rumah, mall maupun di puncak gunung. Bahkan bisa hadir di masjid-masjid, dan jalanan.
Awalnya namanya bukan sanggar ILCI. Nama ILCI sendiri merupakan perubahan yang ke tiga dari nama-nama sebelumnya. Semula bernama Komunitas VALEX yang lahir sekitar tahun 2003, yang memfokuskanya kepada Komunitas Seni dan bergerak pada bidang Sastra dan Teater. kemudian banyak orang yang menayakan kok namanya VALEX apa sih artinya?
Kamipun bingung apa artinya, sebenarnya nama VALEX di ambil waktu pendiri menjadi di Pesantrena Bahrul Ulum Tambakberas Jombang sekitar tahun 2001. Ketika itu kita saling kumpul untuk nonton bareng film horror di Zip Net Jombang. Dan tanpa sengaja hantu yang selalu di inget teman-teman yaitu bernama VALEX, akhirnya di buatlah nama Komunitas.
Singkat cerita nama VALEX kemudian di kasih sesuatu biar menarik yaitu dengan memberikan arti VALEX menjadi ”Varioriesme In Intelxtualizm” yang berarti “Selalu Bersemangat Untuk Berfikir”. Nama VALEX bertahan sekitar 3 tahun, kegiatan-kegiatan VALEX akhirnya beku total awal tahun 2006.
Kamipun merencanakan perkumpulan itu hadir lagi. Tanpa di sengaja ada Turnamen Futsal Piala Walikota Semarang yang di adakan oleh DPD KNPI. Kamipun berinisiatif untuk ikut, namun kami di tolak oleh mereka. Tapi kami tetap berjuang untuk bisa mengikuti turnamen tersebut. Maka pada akhirnya terbentuklah Sanggar ILCI yang berarti ”ILMU DAN CINTA”.
Kamipun meminta surat Rekomendasi Kecamatan Genuk atas kerjasama IRTAMA (Ikatan Remaja Telaga Muda) Genuk Banjardowo. Alhamdulillah akhirnya kami jadi ikut turnamen, padahal peserta turnamen adalah sekumpulan organisasi pemuda yang sangat terpandang sebut saja KNPI, HMI, PMII, KAMMI, LMND, PMKRI, Pemuda Pancasila, Pemuda Bulan-Bintang, FKNPI dll.
Dari sinilah awal terbentuknya Sanggar ILCI. Berawal dari keikutsertaan Jamah Maiyah gambang Syafaat di Masjid Raya Baiturrahman Semarang yang diampu oleh KH. Budi Harjono dan Emha Ainun Njib.
Pada saat itu terjadi perdebatan antara Gus Nuril dan Kiyai Budi melawan Cak Nun. Gus Nuril dan Kiyai Budi cenderung lebih menghargai cinta sebelum ilmu dan Cak Nun lebih condong ilmu setelah itu barulah akan tumbuh cinta yang hakiki. Perdebatanpun terjadi yang sebenarnya untuk memancing para jamaah lebih utama mana antara ilmu dan cinta serta memancing jamaah supaya ikut aktif dalam kegiatan dialog yang dilakukan malam 26 setiap bulannya.
Dan pada akhirnya di ambilah dua kata tersebut ilmu dan cinta menjadi Sanggar Ilmu dan Cinta yang kemudian di singkat dengana nama Sanggar ILCI. Kami meresmikan, menetapkan atau mendeklarasikan kelahiran Sanggar ILCI pada tanggal 24 Oktober 2008.
Apa prinsip Sanggar ILCI
Membangun Landasan Keharmonisan Ulul Albab
1.Mencintai kedamaian. Allah berfirman dalam surat Al Anfaal ayat 61 :
”Dan jika mereka condong kepada perdamaian, Maka condonglah kepadanya dan bertawakkAllah kepada Allah. Sesungguhnya dialah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”.
2.Rahmat bagi semua umat manusia. Allah berfirman surat Al Anbiyaa ayat 107 :
”Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”.
3.Menghormati dan menghargai semua manusia. Allah berfirman surat al israa; ayat 70
”Dan Sesungguhnya Telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang Sempurna atas kebanyakan makhluk yang Telah kami ciptakan”.
4.Tidak ada paksaan. Allah berfirman surat Al Baqarah ayat 256:
”Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)”
5.Mewajibkan kepada manusia untuk berdakwah. Allah berfirman dalam surat An Nahl ayat 125 :
”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.
7.Menciptakan manusia dengan berbeda-beda supaya mereka saling kenal mengenal. Allah berfirman surat Al Hujuraat ayat 13 :
”Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”.
8.Menganjurkan untuk beramal shaleh. Allah berfirman :
”Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang Telah mereka kerjakan”. (An Nahl ayat 97)
9.Mewajibkan umatnya untuk berjihad
”Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui” (Al Baqarah ayat 216)
10.Mengerjakan amar maruf nahimungkar.
”Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran” (An Nahl ayat 90)
11.Menganjurkan untuk saling tolong menolong dalam kebaikan.
”Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”. (Al Maidah Ayat 2)
MOTTO
Menebar Cinta Menerangi Semesta
Jl. H Abdul Rasyid Banjardowo Rt 2/ VI Genuk Semarang 50117
Jumat, 06 Maret 2009
BELAJAR DARI JARING LABA-LABA

Bertepatan hari Selasa tanggal 3 November 2009, diriku menjadi pemateri dalam acara Up Grading Pengurus Baru HMI di FPBS IKIP PGRI Semarang. Tanpa sadar kemungkinan itu bisa terjadi, padahal secara jadwal itu bukan hak, untuk menjadi pemateri. Akan tetapi hal itu berkata lain, salah seorang temanku (Ahmad Khunaifi) yang seharusnya menjadi pemateri tidak dapat memikul tanggung jawab tersebut karena ada sesuatu hal yang mendadak. Sebagai seorang teman akupun menyangupi untuk menggantikannya, walaupun dirasa kemampuanku tidak sebanding dengannya.
”Itu adalah sebuah tatangan...!, ujarku”. Sebab tanpa tantangan aku tidak akan berkembang dengan baik. Mealalui hal tersebutlah aku bisa belajar tentang banyak hal, terutama terkait dengan tema materi ”Jaringan Komunikasi Umat”. Padahal kalau di hitung-hitung ada berbagai macam manfaat menjadi pemateri, paling tidak kita mendapatkan pertama, melatih mental dihadapan forum. Kedua, sejauh mana retorika kita dalam menyajikan materi. Ketiga, kita akan berusaha belajar tentang materi tersebut. Keempat, akan mendapatkan tambahan ilmu dari proses timbal baling dengan peserta. Tentunya yang paling menarik adalah kita kan lebih dihargai, semacam penyambutan, hidangan dan keududukan yang lebih tinggi.
Akan tetapi disini aku tidak akan bercerita banyak tentang hal tersebut, bagiku itu adalah pembelajaran yang berklanjutan.
Pada dasarnya Jaringan Komunikasi Umat merupakan kosepsi ”jaringan” antara satu kepentigan dengan kepentingan yang lain. Mengapa saya bilang kepentingan sebab setiap organisasi tanpa idiologisitas kerja sama kita tidak akan mendapatkan apa-apa, karena setiap organisasi membutuhkan organisasi lain dan pihak yang kita ajak kerja sama. Apa lagi yang terkait dengan jaringan secara pribadi..! contohnya, ketika kita kuliah di IKIP PGRI yang note benenya merupakan ”keguruan”. Tentu sangat wajar jika menjadi seorang guru adalah sebagai sebuah tujuan. Maka tak ayal bahwa jaringan merupakan salah satu dari proses mewujudkan tujuan. Sebab jika kita hanya menuntut ilmu dibangku kuliah dan pada akhirnya kita mendapatkan ijasah, kita belum sampai kepada tujuan. Maka apakah kita kan memanfaatkan ijasah tersebut melalui jalan lamaran pekerjaan dari sekolah satu ke sekolah lain. Sangat ironi sekali bukan...!, apa lagi di era yang penuh nepotisme sekarang ini. Maka jaringan merupakan salah satu penentu mewujudkan tujuan tersebut, semisal ada dari keluarga, sahabat, kerabat atau pihak yang kita kenal yang bergerak di bidang keguruan. Kita akan sedikit mendapatkan informasi dari mereka seumpama ada peluang atau lowongan, tentu sangat menguntungkan kita bukan...!.
Apakah kau tahu seekor laba-laba saja membuat jaringan, coba pandangi jaring-jaring itu. Seekor laba-laba berdiam diri ditengah jaring-jaring, jaring-jaring itu membentuk bulatan yang sangat indah. Terus apa hubungannya dengan Jaringan Komunkiasi Umat dan apa hikmah yang terkandung didalamnya bagi kita mengenai konsepsi jaringan laba-laba, padahal hal tersebut bagi laba-laba hanyalah sebagai tempat tinggal.
Mungkin kita boleh berfikir seperti itu, akan tetapi kita sudah sedikit mendapatkan jawabanya yaitu pertama, sebagai rumah atau tempat tinggal ini menandakan dengan jaringan atau networking kita akan mendapatkan manfaat. Kedua, sebagi tempat berlindung dengan jaringan kita akan belajar berlindung sebab jaring laba-laba sangat lengket dan pekat. Ketiga, jaring-jaring itu membentuk lingkaran tidak beraturan bahwa konsepsi jaringan setidaknya mengajarkan bagaimana kita berhubungan dengan orang lain tanpa membeda-bedakan. Keempat, lihat jaring-jaring itu terikat kuat pada setiap sisinya sehingga mampu tegak berdiri, mengisyaratkan kita harus tanggung jawab (sense of responbility) dan mampu menjaga hubungan baik (the lookout for carefully relationship). Pada akhirnya laba-laba itu tidur dengan pulas ditengah rumhnya, maka hal tersebutlah yang kita harapkan melalui hubungan atau ikatan menjaga tali persaudaraan, khusunya persaudaraan sesama muslim).
Jaringan hanyalah sekelumit cara, yang penting bagaimana kita bisa menjadi pribadi yang unggul. Terpenting bagiku adalah konsep (win or learn) menang atau belajar, untuk mendapatkan tujuan kita harus menjadi pemenang dalam mendapatkannya. Jika kita gagal maka jangan menjadi pesimis, akan tetapi sebagai jalan untuk belajar. Melalui hal tersebut kita akan tahu kekurangan dan kelebihan.
Di zaman ini kita hidup dengan penuh tantangan, apabila kita menyerah atau kalah maka kita akan tergilas dan menjadi orang yang merugi. Tidakkah kita menyadari bahwa hidup ini kita harus memiliki K-4, (1). Kompetensi, (2). Komitmen, (3). Koorporasi, (4). Kolega. Melalui hal tersebutlah kita dituntu untuk tetap optimis dalam menjalani hidup ini, sebab silih bergantinya siang dan malam ada tanda-tanda bagi orang yang berfikir. Selamat belajar, gapai kemenangan...!
Langganan:
Komentar (Atom)

